Menuju konten utama

Apakah Idul Adha Maaf-maafan? Simak Hukum dan Penjelasannya

Apakah Idul Adha maaf-maafan? Berikut ini hukum dan penjelasan apakah Hari Raya Idul Adha harus bermaaf-maafan.

Apakah Idul Adha Maaf-maafan? Simak Hukum dan Penjelasannya
Umat Islam bersalaman usai melaksanakan salat Idul Adha di lapangan. Lantas, apakah Idul Adha maaf-maafan atau tidak? tirto/tf subarkah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Apakah Idul Adha maaf-maafan atau tidak? Simak keterangan hukum apakah Hari Raya Idul Adha harus bermaaf-maafan beserta penjelasan selengkapnya di dalam artikel ini.

Idul Adha dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Secara terminologi, Idul Adha berasal dari kata "id" yang berasal dari kata dasar aada-ya'uudu yang artinya menengok, menjenguk, atau kembali, serta "adha" yang memiliki makna kurban.

Umat Islam menyebut Idul Adha sebagai Hari Raya Kurban, kemudian biasa melaksanakan kurban pada 10-13 Dzulhijjah. Nabi Muhammad SAW mengimbau orang yang berkecukupan agar melakukan kurban, sebagaimana diriwayatkan dalam HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim.

Apakah Idul Adha Harus Minta Maaf?

Apakah Idul Adha maaf-maafan atau tidak? Salah satu tradisi di Indonesia saat momen peringatan Hari Raya Idul Adha adalah bersalaman dan saling memaafkan satu sama lain.

Dalam pandangan Islam, bersalaman dan saling memaafkan merupakan sikap dan perilaku yang terpuji. Tidak ada waktu khusus untuk saling memaafkan, termasuk di momen Idul Adha.

Lantas, apakah Hari Raya Idul Adha harus bermaaf-maafan? Minta maaf pada saat Idul Adha hukumnya tidak harus.

Akan tetapi, menyampaikan ucapan mohon maaf lahir dan batin Idul Adha termasuk sebagai bentuk tahniah. Hal ini juga menggambarkan adanya kebahagiaan dalam merayakan Idul Adha.

Dalam kitab Hasyiyatul Jamal, mengucapkan tahniah pada perayaan Idul Adha merupakan perbuatan yang dianjurkan. Berikut keterangan kitab Hasyiyatul Jamal yang menganjurkan tahniah Idul Adha.

وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ وَالتَّهْنِئَةُ بِالْأَعْيَادِ وَالشُّهُورِ وَالْأَعْوَامِ مُسْتَحَبَّةٌ

Artinya:

“Ungkapan Al-Birmawi, 'ucapan selamat Hari Raya Id, pergantian bulan, dan pergantian tahun dianjurkan'.”

Kemudian, Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin (ulama Mazhab Syafi’i) menjelaskan waktu pengucapan tahniah Idul Adha yang dimulai sejak subuh hari Arafah. Keterangan ini termuat dalam Buysral Karim Juz II berikut.

والتهنئة بالعيد سنة ويدخل وقتها في عيد الفطر بمغرب ليلته وفي الأضحى بصبح عرفة كالتكبير وبالعام والشهر

Artinya:

“Ucapan selamat (tahniah) hari raya Id, pergantian tahun, dan pergantian bulan dianjurkan. Waktu tahniah untuk Hari Raya Idul Fitri berawal pada Maghrib hari raya (malam takbiran). Sementara waktu tahniah untuk Hari Raya Idul Adha berawal pada subuh hari Arafah seperti kesunahan takbir.”

Amalan yang Bisa Dilakukan saat Idul Adha

Pada hari Idul Adha, umat Islam bisa menjalankan amalan yang dianjurkan tertentu. Waktu melaksanakan amalan mulai malam hari dengan membaca takbir, melaksanakan salat Idul Adha hingga silaturahmi.

Berikut amalan hari Idul Adha yang dapat menjadi referensi umat Islam:

1. Menghidupkan Malam Takbiran

Selain mengumandangkan takbir, umat Islam juga dapat menghidupkan malam Idul Adha dengan zikir, selawat, salat malam dan lainnya. Momen tersebut juga termasuk salah satu dari waktu mustajab untuk berdoa.

2. Memakai Wewangian dan Pakaian Paling Bagus

Sebelum melaksanakan salat Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu, memakai pakaian terbaik, dan menggunakan wewangian. Kesunahan ini serupa dengan melaksanakan salat Jumat.

3. Jalan Kaki ke Tempat Salat Idul Adha

Rasulullah SAW mencontohkan berjalan kaki ketika berangkat menuju ke tempat salat Id. Selain berjalan kaki, Rasulullah juga memilih jalan yang berbeda saat pergi dan pulang.

Hal ini disampaikan oleh sahabat Ibnu Umar dalam sebuah hadis:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

“Rasulullah SAW biasa berangkat salat Id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang juga dengan berjalan kaki,” (HR Ibnu Majah).

4. Makan setelah Salat Idul Adha

Pagi hari saat Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk tidak terburu-buru sarapan. Jika memungkinkan, muslimin dan muslimat bisa memakan daging kurban yang telah siap disantap setelah salat Id.

5. Mempererat Silaturahim dan Bergembira

Saat hari raya, umat Islam dianjurkan untuk menunjukkan keceriaan, mempererat silaturahmi, dan silaturahim. Salah satu caranya adalah mengunjungi kerabat serta sanak saudara terdekat.

Demikian penjelasan hukum apakah Idul Adha maaf-maafan atau tidak yang bisa menjawab pertanyaan umat Islam. Pastikan juga untuk membaca artikel Idul Adha terbaru lainnya di sini.

Informasi Idul Adha Terbaru

Baca juga artikel terkait EDUKASI DAN AGAMA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Penyelaras: Yuda Prinada