Sejarah Qurban Idul Adha dan Pengertiannya menurut Syariat Islam

Oleh: Abdul Hadi - 19 Juli 2021
Dibaca Normal 2 menit
Menurut syariat Islam, pengertian kurban adalah tindakan menyembelih binatang kurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
tirto.id - Setiap tahunnya, umat Islam dianjurkan untuk melakukan ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha dan tiga hari tasyrik. Pada tahun ini, Hari Raya Iduladha jatuh pada Selasa, 20 Juli 2021. Adapun hari tasyrik berlangsung pada tanggal 21-23 Juli 2021.

Hukum ibadah kurban adalah sunah muakkadah atau amat ditekankan pengerjaannya. Saking pentingnya ibadah kurban, sampai-sampai Rasulullah SAW memberi ancaman kepada orang yang memiliki kelapangan rezeki, tetapi enggan melaksanakan kurban.

Hal ini tergambar dalam sabdanya: "Barangsiapa yang memiliki kelapangan [harta], sedangkan ia tak berkurban, janganlah dekat-dekat tempat salat kami," (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).

Pengertian dan Sejarah Ibadah Kurban

Qurban berasal dari bahasa Arab (qaraba-yaqrabu-qurbanan) yang artinya ialah mendekatkan diri, sebagaimana dikutip dari uraian "Penyembelihan, Kurban, dan Akikah" yang ditulis oleh Ubaidillah.

Sementara dari segi istilah dalam syariat Islam, pengertian kurban adalah tindakan menyembelih binatang kurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kurban juga berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya tersebut.

Sejarah ibadah kurban ini dapat dilacak jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW, yakni saat Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail AS.

Rasulullah SAW menceritakan sendiri sejarah kurban kepada sahabat-sahabatnya. Dalam riwayat Zaid bin Arqam, para sahabat bertanya kepada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu? Rasulullah SAW menjawab: 'Kurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim'," (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (1992), dijelaskan bahwasanya Nabi Ibrahim tidak memiliki anak dalam waktu yang cukup lama. Istrinya, Sarah semakin tua dan kian sulit mengandung.

Melihat keinginan Ibrahim yang demikian besar untuk memiliki anak, sementara Sarah merasa tak sanggup memenuhinya, ia mengajurkan Ibrahim agar menikahi budak mereka, Siti Hajar.


Dari pernikahan Ibrahim dengan Siti Hajar, lahirlah Ismail. Ketika anak pertamanya tersebut lahir, Ibrahim sudah tergolong renta. Usianya sekitar 86 tahun.

Ismail lantas sangat disayangi oleh Nabi Ibrahim. Terlebih lagi, seiring ia tumbuh besar, Ismail menunjukkan tindak-tanduk luhur dan budi pekerti yang mulia.

Suatu waktu, Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih anaknya, Ismail. Mimpi itu ia dapatkan pada 8 Zulhijah. Ia kemudian merenungi arti mimpinya tersebut. Momen perenungan Ibrahim itu diabadikan sebagai hari Tarwiyah dalam Islam.

Dalam bahasa Arab, rawwa-yurawwi-tarwiyatan berarti merenung. Pada hari Tarwiyah (8 Zulhijah), umat Islam dianjurkan berpuasa; dilanjutkan dengan hari Arafah (9 Zulhijah), yang merupakan peringatan atas ketaatan Nabi Ibrahim kepada perintah Allah SWT.

Keesokan harinya (9 Zulhijah), Ibrahim mengetahui (arafa) bahwa mimpinya itu adalah wahyu dari Allah SWT. Nabi Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwasanya Allah menginginkan ia menyembelih anaknya sendiri, Ismail.

Allah menggambarkan kisah Ibrahim dan Ismail ini dalam Al-Quran surah As-Shaffat ayat 99-113. Pada ayat 102, Allah SWT berfirman:

"Maka tatkala anak itu sampai [pada umur layak] berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" (QS. As-Shaffat [37]: 102).

Dengan penuh ketaatan pada Allah, Ismail menerima perintah tersebut. Namun, saat Ibrahim akan menyembelih Ismail, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor kambing gibas, yang bulunya panjang, tebal, dan keriting.


Kendati sejarah kurban sering dikaitkan dengan momen penyembelihan Ismail, sebenarnya kisah kurban bisa dilacak lebih jauh lagi, yaitu sejak masa Nabi Adam AS, sebagaimana dikutip dari buku Fikih (2020) yang ditulis Markaban. Di waktu itu, Allah SWT memerintahkan dua anak Adam, Qabil dan Habil untuk berkurban.

Qabil yang bekerja sebagai petani mengumpulkan hasil pertaniannya yang sudah rusak dan busuk untuk dipersembahkan kepada Allah SWT.

Sementara itu, Habil, seorang peternak dan pengembala, memberikan hewan paling sehat dan gemuk yang ia miliki. Kurban Habil diterima Allah, sedangkan kurban Qabil ditolak Allah SWT.

Meskipun sejarah kurban bisa ditelusuri hingga masa Nabi Adam, landasan perintah kurban adalah kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS terhadap Allah SWT.

Namun, kedua kisah di atas sama-sama menyimpan makna bahwa kurban yang paling baik di sisi Allah SWT adalah kurban dengan harta yang paling dicintai oleh manusia.


Baca juga artikel terkait IDUL ADHA 2021 atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight