Menuju konten utama

Mengadu Nasib di Atas Aspal: Kisah Perjuangan Tiga Ojol di Depok

Tiap kilometer yang ditempuh pengemudi ojol tak sekadar mengantar penumpang, melainkan langkah nyata memperjuangkan pendidikan anak dan kemandirian hidup.

Mengadu Nasib di Atas Aspal: Kisah Perjuangan Tiga Ojol di Depok
Pengemudi Grab. tirto.id/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Deru mesin kendaraan mulai merayapi jalanan Depok pagi itu. Dari jok belakang, mata saya tertuju pada punggung Herman (48). Jaket hijau Grab yang membalut tubuhnya tampak sedikit memudar--saksi bisu perjalanan panjang yang sudah menemaninya hampir sembilan tahun, sejak ia pertama kali memutuskan menarik kemudi di bawah bendera Grab pada April 2017.

Pagi itu tepatnya pukul 10.00 WIB, saya memutuskan ikut bersamanya, melihat dari dekat bagaimana kegiatan setiap hari para driver ojek online. Herman membawa saya menuju salah satu titik tempat para pengemudi Grab biasa menunggu orderan.

Bagi banyak orang, pekerjaan ini mungkin hanya sebatas mengantar penumpang atau makanan. Namun, bagi Herman pribadi setiap orderan memiliki makna yang jauh lebih besar. Di balik perjalanan dari satu titik ke titik lain, ada dua anak yang harus ia perjuangkan seorang diri.

Herman adalah seorang single parent. Sejak bertahun-tahun lalu, Herman memikul seluruh tanggung jawab keluarga. Herman bercerita bahwa anak pertamanya kini sudah berkuliah, sedangkan anak keduanya duduk di bangku kelas III SMA.

Herman melakoni sebagai pengemudi Grab dengan alasan sederhana, yakni mencari biaya pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

"Untuk pendidikan anak-anak sampai perguruan tinggi," kata Herman, dalam ceritanya, di Perempatan Jalan Raya Gas Alam, Depok, Senin, (27/07/26).

Pernyataan singkat itu menyimpan rekam jejak perjuangan bertahun-tahun yang tak mudah. Menggantungkan hidup sebagai pengemudi Grab, pendapatan Herman terbilang tak menentu--ia rata-rata membawa pulang Rp150 ribu per hari, terkadang lebih, tak jarang kurang.

"Alhamdulillah, kalau kita cari dapat saja," ujarnya ketika ditanya apakah penghasilannya cukup membiayai pendidikan anak-anak.

Pengemudi Grab

Pengemudi Grab. tirto.id/Putri Az zahra

Rezeki jalanan yang fluktuatif membuat Herman tak jarang harus gigit jari. Ketika orderan sepi atau motor rusak, beban kebutuhan rumah tangga mendadak kian menghimpit. Bagi Herman, tantangan terbesar tak cuma rasa lelah dan kantuk setelah mengaspal dari pagi hingga malam, tetapi juga biaya perawatan motor, satu-satunya modal mencari nafkah, yang kerap menguras kantong.

"Ya, lelah, ngantuk, capek. Motor cepat rusak," katanya.

Meski begitu, Herman mengaku tidak pernah berpikir untuk menyerah.

"Tidak pernah ada yang menyerah, karena posisinya ada tanggung jawab. Anak sampai sekolah, sampai tercapai cita-citanya," ucapnya dengan tegas.

Di sela ruang tunggu pesanan, obrolan berlanjut dengan pengemudi lain bernama Agung (45). Pria yang telah mengaspal sejak 2016 ini juga menjadikan ojek daring sebagai tulang punggung keluarga.

"Karena sangat menjanjikan buat keluarga," katanya ketika saya bertanya alasan memilih pekerjaan ini.

Agung memiliki empat orang anak yang seluruhnya masih bersekolah. Baginya, setiap orderan adalah biaya pendidikan yang harus dipenuhi.

"Untuk membiayai sekolah anak, menopang keluarga," ujarnya.

Dalam sehari, Agung mengaku minimal memperoleh pendapatan sekitar Rp 200 ribu. Pekerjaan ini juga memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, cuaca panas dan orderan yang sepi sering kali menguras semangat.

"Pernah ingin menyerah kalau orderan sepi. Tapi untuk kerja sekarang sudah enggak mungkin di tempat lain karena usia. Jadi ya bertahan buat keluarga juga," tuturnya.

Agung masih memiliki mimpi lain. Jika suatu hari kebutuhan pendidikan anak-anaknya sudah terpenuhi, Agung ingin memiliki usaha sendiri.

"Ingin bisa membangun usaha sendiri, membeli modal," kata Agung dengan penuh harapan.

***

Penelusuran berlanjut ke area kampus untuk menemui Dimas (21), seorang mahasiswa yang nyambi menjadi mitra pengemudi Grab. Berbeda dari Herman dan Agung yang sudah bertahun-tahun mengarungi aspal, Dimas tergolong pendatang baru yang baru memulai langkahnya pada April 2026. Pekerjaan ini ia lakoni demi mengantongi penghasilan tambahan sembari menanti peluang kerja tetap.

"Mulai jadi driver dari bulan April 2026. Alasannya karena ingin nyari uang tambahan sebelum nanti dapat kerjaan tetap," ujarnya.

Aksi ojek daring di DPR

Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) mendengarkan orasi saat aksi di depan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/9/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.

Bagi Dimas, penghasilan dari menarik penumpang bukan semata untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dimas mulai menyisihkan sebagian pendapatannya agar memiliki tabungan sendiri.

"Mulai nabung sedikit-sedikit, biar ada pegangan uang sendiri, enggak minta ke orang tua terus," katanya.

Dalam sehari, Dimas mengaku bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Namun, jumlah tersebut tidak bisa dijadikan patokan karena sangat bergantung pada banyaknya order yang masuk.

"Alhamdulillah, sehari bisa dapat Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu, tapi itu enggak tentu juga," ujarnya.

Menurutnya, tantangan menjadi pengemudi Grab saat ini tidak hanya soal mencari pelanggan. Jumlah pengemudi yang makin banyak membuat persaingan makin ketat. Di sisi lain, kebijakan aplikasi juga tidak selalu berpihak kepada para pengemudi.

"Jumlah customer lebih sedikit ketimbang driver, dan kebijakan Grab enggak selalu menguntungkan driver," tuturnya.

Meski demikian, Dimas mengaku tidak pernah benar-benar ingin berhenti. Ada kalanya Dimas merasa kehilangan semangat ketika orderan sangat sepi, tetapi keadaan memaksanya untuk tetap bertahan.

"Kalau menyerah enggak ya, paling kalau lagi anyep banget jadi males mau narik. Tapi mau gimana lagi, nyari uang susah ya harus tetap dilakuin dan ini juga biar nggak nyusahin orang tua,” katanya.

Cerita Dimas menambah satu sudut pandang lain yang saya temui hari itu. Jika Herman dan Agung berjuang demi pendidikan anak-anak mereka, Dimas menjalani profesi yang sama untuk mulai belajar mandiri dan tidak lagi bergantung pada orang tua. Meski memiliki alasan yang berbeda, ketiganya sama-sama bertahan di balik jaket hijau dengan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Mungkin bagi sebagian orang, profesi pengemudi Grab hanyalah pekerjaan biasa. Tiap kilometer yang ditempuh para pengemudi ojol adalah langkah kecil menuju impiannya. Dari balik jaket hijau, saya belajar bahwa mimpi tidak selalu dibangun dari pekerjaan yang mewah.

Kadang, mimpi tumbuh dari tangan yang lelah menggenggam setang motor, dari tubuh yang tetap bertahan meski kantuk datang, dan dari keyakinan bahwa pendidikan anak serta kemandirian adalah tujuan yang layak diperjuangkan.

Baca juga artikel terkait OJOL atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama