Menuju konten utama

Apakah Ada Demo 9 September 2025 & di Mana Saja?

Ada rencana demonstrasi massa yang akan digelar pada 9 September 2025 nanti, di mana titik lokasi dan apa saja tuntutannya?

Apakah Ada Demo 9 September 2025 & di Mana Saja?
Ilustrasi - Ratusan pengunjuk rasa yang tergabung dalam aliansi masyarakat dan mahasiswa barat selatan Aceh mengepalkan tangan saat menggelar aksi di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyak Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, Meulaboh, Aceh, Senin (1/9/2025). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Demonstrasi massa direncanakan dilakukan kelompok mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di Jakarta pada Selasa, 9 September 2025. Unjuk rasa ini akan berpusat di Senayan.

Sejak 25 Agustus lalu, gelombang protes masyarakat sipil masih terus bergaung hingga kini. Pada 9 September, demonstrasi akan diselenggarakan di Gedung DPR/MPR RI, Senayan. Unjuk rasa pada 9 September ini akan bertajuk "Rakyat Tagih Janji".

Berdasarkan seruan aksi yang diunggah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI pada Senin (8/9), aksi unjuk rasa ini akan dimulai dengan berkumpul di Lapangan FISIP UI.

Meskipun unjuk rasa ini diinisiasi oleh mahasiswa, namun BEM UI menyatakan bahwa masyarakat sipil boleh turut serta dalam aksi pada Selasa tersebut.

Jadwal Demo 9 September 2025 di DPR RI & Tuntutan

Dalam seruan aksi yang diunggah BEM UI melalui kanal Instagramnya, demonstrasi massa "Rakyat Tagih janji" dimaksudkan sebagai upaya untuk menuntut pemerintah menjawab tuntutan rakyat atas kondisi Indonesia belakangan ini.

Unjuk rasa yang berpusat di Gedung DPR/MPR RI tersebut direncanakan bakal digelar mulai pukul 10.00 WIB.

Sesuai jadwal yang dibagikan secara publik, massa mahasiswa akan berkumpul di Lapangan FISIP UI terlebih dahulu, sebelum berangkat ke Kawasan Parlemen Senayan.

Namun, perlu dipahami bahwa jadwal ini merupakan rencana, sehingga dapat mengalami perubahan ataupun pembatalan secara mendadak.

Sementara itu, terkait tuntutan aksi unjuk rasa, melalui seruan yang diunggah di Instagram, BEM UI menjelaskan bahwa gelombang protes sejak 25 Agustus 2025 tidak muncul dari ruang hampa.

Kondisi ekonomi yang menghimpit, kenaikan biaya hidup, gelombang PHK, hingga kebijakan pemerintah yang tak menjawab keresahan masyarakat disebut merupakan situasi yang menyebabkan pecah gelombang protes masyarakat sipil.

"Kekecewaan kian memuncak ketika aparat yang seharusnya melindungi justru melindas," tulis BEM UI, merujuk peristiwa pelindasan driver ojek online bernama Affan Kurniawan oleh mobil rantis Brimob pada 28 Agustus lalu.

Kondisi tersebut diperparah dengan pernyataan dan perilaku elite politik dan pejabat negara yang dinilai tidak tanggap dengan kondisi masyarakat.

Akan tetapi, bahkan setelah gelombang protes tersebut meluas, BEM UI masih menganggap pemerintah tidak bersikap responsif dengan tuntutan masyarakat sipil.

"Berbagai tuntutan mulai dari 17+8, tuntutan Aliansi Akademisi Indonesia, tuntutan Dekan Fakultas Hukum PTN se-Indonesia, hingga tuntutan lainnya telah disampaikan," tulis mereka.

"Sebagian memang direspons dan mulai dikerjakan, tetapi tidak sedikit yang diabaikan bahkan mengalami kemunduran," tambah BEM UI.

Oleh karenanya, unjuk rasa mahasiswa UI pada 9 September nanti akan dimaksudkan untuk menekan pemerintah merespons tuntutan yang ada dengan menjalankannya.

"Cukup sudah rakyat dipermainkan dengan janji lima tahunan, kini saatnya kita yang menagih!" tulis keterangan seruan BEM UI tersebut.

Sebelumnya, eskalasi aksi protes masyarakat sipil pada 25-30 Agustus 2025 diwarnai dengan kericuhan, kekerasan aparat, terbakarnya gedung pemerintahan dan fasilitas publik, penangkapan ribuan massa aksi, penjarahan rumah pejabat negara, hingga korban jiwa.

Setelah eskalasi kericuhan aksi protes masyarakat sipil melandai, polisi melakukan penangkapan terhadap sejumlah pihak yang diklaim sebagai provokator.

Di antara pihak yang ditangkap tersebut adalah Delpedro Marhaen selaku Direktur Lokataru, organisasi nirlaba dengan fokus isu hak asasi manusia. Penangkapan ini dilakukan polisi meskipun mendapat kritik secara luas dan dianggap janggal.

Baca juga artikel terkait DEMO atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan