Menuju konten utama

2 Alasan Publik Pesimistis Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Capai 8%

Piter mengatakan, kedua alasan tersebut adalah kondisi perekonomian Indonesia yang tidak efisien dan keterbatasan pembiayaan dari asing maupun dalam negeri.

2 Alasan Publik Pesimistis Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Capai 8%
Prasasti Policy and Program Director Piter Abdullah dalam Indonesia Fiscal Forum 2026, Selasa (27/1/2026). Tirto.id/Egi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengungkapkan sejumlah alasan mengapa masyarakat pesimistis dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 mencapai delapan persen.

Menurut dia, terdapat dua faktor utama mengapa pertumbuhan ekonomi dapat mencapai delapan persen. Pertama, dilihat dari kondisi perekonomian yang tidak efisien. Hal itu disebut tampak dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang berada di angka 6-6,5 persen pada 2024-2025. Tingginya nilai ICOR itu mencerminkan masih tingginya kebutuhan investasi untuk pertumbuhan.

"Pada tahun 2021, setelah kita mengalami Covid-19, itu memang angka ICOR kita melonjak drastis di kisaran delapan, taruhlah 8,5. Untuk kita, menargetkan pertumbuhan [ekonomi] delapan persen, kita butuh investasi yang luar biasa besar, karena kita tidak efisien," sebut Piter dalam acara Indonesia Fiscal Forum 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Alasan kedua, kata dia, yakni Indonesia memiliki sumber pembiayaan dalam negeri maupun luar negeri yang terbatas. Indonesia juga disebut kalah bersaing saat berupaya mendapatkan investasi asing.

Meski pemerintah kerap menyatakan realisasi investasi yang meningkat, negara lain disebut justru mengalami peningkatan lebih tinggi soal realisasi investasi. Kemudian, sumber pembiayaan domestik juga disebut masih rendah.

"Kalau kita lihat misalnya rasio kredit perbankan kita terhadap PDB, itu Indonesia itu hanya 31,8 persen," urainya.

"Coba bandingkan dengan misalnya dengan negara peer kita, Singapura, Thailand, Malaysia, itu dikisaran 100-120 persen. Cina bahkan sampai 194,2 persen untuk tahun 2024," lanjut Piter.

Ia menambahkan, berdasarkan dua faktor tersebut, wajar ketika masyarakat merasa pesimistis dengan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai delapan persen.

"Dengan angka-angka ini kita bisa melihat bahwasanya kita bisa memaklumi kalau kita menjadi pesimis," tutur dia.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher