Menuju konten utama

10 Kapal Diserang di Selat Hormuz setelah Diblokade Iran

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat empat serangan dilaporkan menyebabkan tujuh orang tewas dari total seluruh insiden penyerangan kapal.

10 Kapal Diserang di Selat Hormuz setelah Diblokade Iran
selat hormuz. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebanyak 10 kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz setelah lebih dari sepekan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran pecah. Insiden penyerangan kapal-kapal tersebut terjadi setelah Teheran memblokade jalur perairan strategis itu.

Berdasarkan data dari sejumlah lembaga analisis maritim, rangkaian serangan tersebut hampir menghentikan aktivitas pelayaran di selat yang selama ini menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak dan berbagai komoditas dunia.

Badan keamanan maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) telah mengeluarkan sekitar 10 peringatan terkait serangan maupun aktivitas mencurigakan di wilayah tersebut. Meski demikian, lembaga itu tidak banyak mengungkap rincian mengenai kapal-kapal yang terlibat.

Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sedikitnya sembilan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dalam kurun waktu satu minggu. Dari seluruh insiden itu, empat serangan dilaporkan menyebabkan tujuh orang tewas.

Melansir AFP, IMO mengatakan tiga serangan yang terjadi pada 2 Maret 2026 masing-masing menewaskan satu orang di kapal Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative. Pada hari yang sama, kapal Hercules Star juga dilaporkan terkena serangan.

Selain tiga serangan pada 2 Maret 2026, empat kapal lainnya dilaporkan turut menjadi sasaran, yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe, dalam periode 3 hingga 5 Maret 2026.

Insiden kembali terjadi pada 6 Maret ketika kapal Mussafah 2 dihantam serangan yang menewaskan empat orang. Sebelumnya, pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa sebuah kapal dengan ciri-ciri serta posisi terakhir yang sesuai dengan Mussafah 2 diketahui telah tenggelam.

Kementerian Luar Negeri melaporkan tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) masih dinyatakan hilang. Satu WNI dilaporkan selamat namun mengalami luka sementara empat awak kapal lain yang berasal dari kewarganegaraan berbeda berhasil selamat.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard menyebut kapal Mussafah 2 terkena dua rudal saat berupaya memberikan bantuan kepada kapal kontainer Safeen Prestige, yang telah lebih dulu menjadi target serangan rudal dua hari sebelumnya.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kapal yang mencoba melakukan pertolongan juga dapat menjadi sasaran serangan berikutnya.

Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Centre atau JMIC) yang dikelola oleh koalisi angkatan laut Barat turut mengingatkan potensi risiko tersebut.

“Laporan insiden terkini… menunjukkan bahwa kapal-kapal yang memberikan bantuan atau operasi penyelamatan kepada kapal-kapal yang sebelumnya menjadi sasaran juga mungkin menghadapi peningkatan risiko serangan lanjutan,” tulis JMIC dalam catatan yang dirilis pada Sabtu.

Dalam kajiannya, JMIC juga mencatat adanya pola tertentu dari rangkaian serangan yang terjadi di wilayah perairan itu.

“Pola serangan yang diamati terhadap kapal yang berlabuh, kapal yang hanyut, dan kapal bantuan menunjukkan kampanye yang berfokus pada menciptakan ketidakpastian operasional dan menghalangi pergerakan komersial rutin, bukan upaya berkelanjutan untuk menenggelamkan kapal,” lanjut lembaga tersebut.

Serangan drone dan rudal yang diklaim dilakukan oleh Garda Revolusi Iran tidak selalu dapat diverifikasi oleh sumber independen. Dalam beberapa kasus, konfirmasi baru muncul beberapa hari setelah kejadian, sementara identitas kapal yang diserang juga tidak selalu diumumkan. Jumlah korban pun kerap berbeda antara satu laporan dengan laporan lainnya.

Seorang jenderal Garda Revolusi Iran pada 2 Maret 2026 lalu sempat melontarkan ancaman keras kepada kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

Ia memperingatkan bahwa Iran akan “membakar setiap kapal” yang mencoba melewati selat itu dan memblokade seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Namun pernyataan berbeda disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pada Kamis lalu ia menegaskan bahwa negaranya “tidak ada niat” untuk menutup Selat Hormuz.

Di tengah ketegangan tersebut, AS mulai mempertimbangkan langkah militer guna memastikan jalur pelayaran tetap terbuka. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintahnya siap mengawal kapal-kapal dagang yang berusaha melintasi selat tersebut.

Ia menyatakan pengawalan itu akan dilakukan “sesegera mungkin setelah hal itu masuk akal untuk dilakukan”.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Selasa menyatakan tengah mengupayakan pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan jalur laut di kawasan tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher