tirto.id - Cina dan Rusia selama ini dipandang sebagai sekutu dekat Iran. Namun, ketika Iran diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), kedua negara itu tampak menjaga jarak. Mengapa demikian?
Baik Rusia maupun Cina sebelumnya telah mengecam serangan AS-Israel ke Iran. Dua mitra diplomatik terkuat Teheran itu menyebut bahwa serangan AS-Israel adalah pelanggaran hukum internasional.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut bahwa pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei adalah "pelanggaran sinis terhadap semua norma moral manusia".
Rusia dan Cina juga telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Perang yang berkecamuk di Iran diproyeksikan jadi penyebab permintaan itu.
Akan tetapi, Rusia dan Cina sejauh ini tak menunjukkan kesediaan mereka untuk campur tangan secara militer. Para analis menilai bahwa hal itu dikarenakan Rusia dan Cina merupakan mitra strategis Iran, namun bukan sekutu militer Teheran.
Cina dan Rusia Bukan Sekutu Militer Iran
Kerja sama yang terjalin antara Iran dengan Cina dan Rusia sejauh ini merupakan perjanjian kemitraan strategis. Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang, seperti perdagangan hingga pendidikan.
Pada Januari 2025 lalu, Rusia dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan baru. Dalam perjanjian itu, militer jadi salah satu bidang kerja sama yang disepakati.
Akan tetapi, tak ada kerja sama yang mewajibkan bantuan militer ketika salah satu negara terlibat perang. Kerja sama yang disepakati kedua negara itu lebih kepada koordinasi pertahanan dan intelijen, serta latihan militer bersama.
Perjanjian pada Januari 2025 itu tidak sampai pada kesepakatan untuk membentuk aliansi militer formal.
Menurut eks direktur jenderal Dewan urusan Internasional Rusia, Andrey Kortunov, kerja sama ini berbeda dengan kerja sama militer dengan Korea Utara yang lebih mengikat.
Dalam pernyataannya untuk Al Jazeera, Kortunov menyatakan bahwa Rusia memiliki kewajiban untuk bergabung dengan Korea Utara "dalam konflik apa pun" yang melibatkan negara tersebut.
Akan tetapi, dalam kerja sama dengan Iran, Kortunov menyebut bahwa kesepakatan kedua negara adalah "menahan diri dari tindakan permusuhan apa pun jika pihak lain terlibat dalam konflik".
Bentuk perjanjian tersebut, kata Kortunov, membuat Rusia kemungkinan memutuskan untuk lebih mengedepankan bantuan yang bersifat diplomatis. Hal ini termasuk upaya de-eskalasi via dialog.
Prinsip serupa juga terjadi dalam kerja sama Cina dan Iran. Keduanya adalah mitra strategis, namun bukan aliansi militer.
Cina dan Iran memiliki perjanjian kerja sama berdurasi 25 tahun yang disepakati pada 2021 lalu. Isi perjanjian itu adalah kesepakatan untuk memperluas hubungan di berbagai bidang, termasuk energi dan ekonomi.
Peneliti pascadoktoral Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua, Jodie Wen, menyebut bahwa Cina telah membuat kerja sama itu dalam batasan yang jelas dalam kaitannya dengan militer.
"Pemerintah Cina selalu berpegang teguh untuk tidak ikut campur dalam masalah negara lain... Saya rasa Pemerintah Cina tidak akan mengirim senjata ke Iran," katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Jodie Wen, kerja sama Cina-Iran pada 2021 lebih berfokus pada kesepakatan di bidang politik dan ekonomi, alih-alih militer. Oleh karenanya, Cina juga diprediksi akan menggunakan cara diplomasi untuk mendukung mitra yang tengah diserang itu.
"Saya pikir Cina sedang mencoba cara untuk berbicara dengan pihak AS dan negara-negara Teluk agar tetap tenang," kata Jodie Wen.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































