tirto.id - PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengungkapkan beban finansial yang sangat besar dari pembangunan jalan tol yang ditugaskan pemerintah.
Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Hanugroho, menyatakan bahwa dari total nilai 18 ruas tol yang pernah dibangun perusahaan, hanya sebagian kecil yang mendapat dukungan anggaran dari pemerintah.
"Kami menghitung total ruas tol, 18 ruas tol yang pernah dibangun Waskita itu totalnya nilai proyeknya Rp167 triliun. Pemerintah hanya men-support Rp20 triliun," kata Hanugroho dalam public expose secara daring, Selasa (4/11/2025).
Hanugroho menjelaskan bahwa skema pembangunan yang diterapkan lebih berbasis komersial, di mana Waskita harus menanggung biaya pembangunan yang tidak tertutup oleh dukungan pemerintah.
"Artinya memang ini ada support bagus juga, tetapi komersial base yang kita pakai sehingga Waskita jadi begini," tambahnya.
Dengan model pembiayaan proyek semacam itu, ia mengakui bahwa tingkat cost of fund yang harus ditanggung perusahaan menjadi membengkak.
"Memang ada beban yang memang kami gak bisa sanggup untuk terkait biaya cost fund yang harus kita tanggung,” ucapnya.
Di tengah beban tersebut, perusahaan berusaha bertahan dengan mengandalkan proyek baru dan komitmen terhadap proses restrukturisasi.
Hanugroho mengungkapkan bahwa untuk bisa bertahan, perusahaan membutuhkan nilai kontrak baru (NKB) yang terukur setiap tahunnya.
Dalam hitungannya, paling tidak perseroan harus dapat memperoleh break even point (BEP) sebesar Rp14 triliun hingga Rp15 triliun untuk proyek yang dijalankan.
“Sebenernya BEP-nya berapa sih supaya kita bisa survive. Paling range Rp14-15 triliun ya. Kita itu dengan angka segitu sudah secure kita. Kita bisa service lah terkait biaya bunga dan lain-lain,” tuturnya.
Saat ini, perseroan tidak hanya harus menyelesaikan kewajiban restrukturisasi kepada kreditur, tetapi juga menanggung warisan beban finansial dari proyek-proyek strategis nasional yang ditugaskan kepadanya.
Pada kuartal III-2025 Waskita kembali mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 3,6 triliun.
Direktur Keuangan Wiwi Suprihatno mengonfirmasi perusahaan masih dalam fase pemulihan dengan fokus menekan liabilitas dan menyesuaikan proporsi aset.
Selain kerugian, tekanan kinerja juga terlihat dari pendapatan usaha yang turun 22 persen menjadi Rp5,3 triliun.
Sedangkan dari sisi neraca, total aset Waskita turun 6,8 persen menjadi Rp71,9 triliun, antara lain karena pengalihan jalan tol di Palembang. Liabilitas juga berhasil ditekan 2,5 persen menjadi Rp 67,6 triliun.
Namun, ekuitas perseroan menyusut 44,5 persen menjadi Rp 4,4 triliun, terdampak oleh rugi berjalan yang terus berlanjut. Sumber pendapatan utama perusahaan masih bertumpu pada jasa konstruksi, yang menyumbang 71,2 persen dari total pendapatan.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































