tirto.id - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) kembali mencatatkan kerugian bersih yang dalam pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025. Perseroan melaporkan kerugian bersih sebesar Rp3,6 triliun, hampir sama dengan realisasi di periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, mengonfirmasi bahwa perseroan masih berada dalam fase pemulihan dengan strategi utama menekan liabilitas dan melakukan penyesuaian proporsi aset.
"Sementara itu dari sisi bottom line, rugi bersih masih tercatat sebesar Rp3,6 triliun. Hal ini hampir masih mirip dengan tahun sebelumnya," katanya dalam Public Expose yang diselenggarakan secara daring, Selasa (4/11/2025).
Tak hanya kerugian, tekanan kinerja juga terlihat dari pendapatan usaha yang mengalami kontraksi signifikan. Hingga September 2025, pendapatan Waskita tercatat Rp5,3 triliun, atau turun 22 persen secara tahunan (yoy).
Penurunan ini terutama disumbangkan oleh menciutnya nilai kontrak yang dikelola, seiring dengan penurunan akuisisi Nilai Kontrak Baru (NKB).
Meski mengalami penurunan pendapatan, perusahaan menunjukkan tanda-tanda perbaikan efisiensi. Margin laba kotor Waskita berhasil naik dari 14,7 persen (yoy) menjadi 18,5 persen pada tahun ini 2025.
Pencapaian positif juga terlihat dari pengendalian beban keuangan. Perusahaan berhasil menekan beban keuangan sebesar 18 persen (yoy), dari Rp3,5 triliun menjadi Rp2,8 triliun.
"Yang ini tentunya mencerminkan adanya perbaikan likuiditas dan manfaat dari terlaksananya proses restrukturisasi yang sampai dengan saat ini masih berjalan," imbuh Wiwi.
Penopang Pendapatan
Secara terperinci, sumber pendapatan perseroan masih bertumpu pada jasa konstruksi, yang menyumbang 71,2 persen dari total pendapatan.
Sejumlah proyek utama yang mendukung pendapatan berasal dari PT Hutama Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, PT Jalan Tol Trans Jabar Tol, PT Jasa Marga Probolinggo Banyuwangi, dan PT Angkasa Pura II.
Dari sisi neraca, total aset Waskita tercatat Rp 71,9 triliun, turun 6,8 persen dari posisi akhir 2024, didorong oleh pengalihan kepemilikan hak pengelolaan jalan tol di Palembang.
Sementara itu, liabilitas turun 2,5 persen menjadi Rp67,6 triliun, mencerminkan komitmen perusahaan dalam menekan beban utang. Di sisi lain, ekuitas perseroan menyusut 44,5 persen menjadi Rp 4,4 triliun, terdampak oleh rugi berjalan yang terus berlanjut.
Wiwi menegaskan bahwa pergerakan dalam laporan keuangan ini menunjukkan arah konsolidasi dan penataan keuangan berkelanjutan.
"Secara keseluruhan pergerakan ini menunjukkan arah konsolidasi dan penataan keuangan berkelanjutan di mana Waskita Karya terus memperkuat struktur neraca dan menjaga fokus bisnis agar tetap solid di tengah proses transformasi," ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































