tirto.id - Sepekan telah berlalu sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, Sabtu (28/2/2026). Hingga Jumat (6/3/2026), setidaknya 1.332 jiwa dilaporkan tewas akibat serangan gabungan AS dan Israel di Teheran.
Mengutip Aljazeera, Komando Pusat militer AS mengatakan mereka telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dan menghancurkan 43 kapal perang Iran sejak 28 Februari.
Selain korban jiwa, ribuan warga Iran lainnya juga mengalami luka-luka dalam konflik ini.
Berbicara dihadapan para jurnalis di markas PBB, New York, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani menegaskan AS dan Israel sengaja menargetkan infrastruktur sipil, sementara Iran menargetkan situs militer, bukan warga sipil. Namun, AS dan Israel mengatakan yang terjadi adalah sebaliknya.
Selain itu, Iran juga tidak menargetkan kepentingan negara-negara tetangga dan sedang menyelidiki tuduhan bahwa mereka telah menyerang situs-situs non-militer.
"Penilaian awal kami menunjukkan bahwa beberapa insiden ini mungkin disebabkan oleh intersepsi atau gangguan oleh sistem pertahanan Amerika Serikat, yang mungkin telah dialihkan dari target militer yang dimaksudkan," katanya, dikutip The Straits Times, Sabtu (7/3/2026).
Di sisi lain, setelah pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei terbunuh pada hari pertama perang, Presiden AS Donald Trump menuntut agar Iran menyerah tanpa syarat.
Selain itu, untuk mengakhiri konflik, dia juga menuntuk untuk turut serta dalam pemilihan pengganti Khamenei, sehingga dapat memastikan pimpinan tertinggi Iran yang anyar 'dapat diterima'.
Iravani lantas menyebut pernyataan Trump sebagai pelanggaran yang jelas terhadap prinsip-prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara, sebagaimana diabadikan dalam Piagam PBB.
"Pemilihan kepemimpinan Iran akan berlangsung secara ketat sesuai dengan prosedur konstitusional kami dan semata-mata atas kehendak rakyat Iran tanpa campur tangan asing," tambahnya.
Beberapa jam setelah komentar Trump, presiden Iran mengumumkan bahwa sejumlah negara telah berkomitmen untuk membantu upaya mediasi AS dan Iran. Ini menjadi salah satu sinyal pertama dari setiap inisiatif diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































