Menuju konten utama

Trump: Tak Ada Kesepakatan Sampai Iran Menyerah Tanpa Syarat

Konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran terus memanas dalam beberapa waktu terakhir. Terbaru, AS memberikan ultimatum terhadap Iran.

Trump: Tak Ada Kesepakatan Sampai Iran Menyerah Tanpa Syarat
Presiden AS Donald Trump memberikan pidato pada pengarahan pemulihan pasca Badai Helene di hanggar Bandara Regional Asheville di Fletcher, North Carolina, pada 24 Januari 2025. Trump mengatakan ia mungkin akan "menyingkirkan FEMA," jika dianggap perlu. Badan Penanggulangan Bencana Federal Badan Penanggulangan Bencana (FEMA) bertugas mengoordinasikan respons terhadap bencana. (Foto oleh Mandel NGAN / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melalui platform Truth Social-nya menekankan bahwa tidak akan ada kesepakatan apapun sampai Iran menyerah tanpa syarat dalam pertempuran yang terjadi sejak pekan lalu tersebut. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa Trump mempersulit jalur diplomasi di tengah kabar konfirmasi Iran untuk melakukan mediasi demi mengakhiri konflik.

"Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat!" tulisnya, dikutip Aljazeera, Sabtu (7/3/2026).

Trump menambahkan, setelah tuntutannya agar Iran menyerah tanpa syarat dan juga turut berpartisipasi untuk memilih pemimpin tertinggi baru Iran dipenuhi, AS dan para sekutunya akan membantu Teheran bangkit secara ekonomi.

"Dan setelah dipilih pemimpin yang hebat serta dapat diterima, kami—bersama banyak sekutu dan mitra kami yang luar biasa serta berani—akan bekerja tanpa henti untuk mengembalikan Iran dari ambang kehancuran, dan menjadikannya secara ekonomi lebih besar, lebih baik, serta lebih kuat daripada sebelumnya," tegas Trump.

Pernyataan ini diungkapkan Trump beberapa jam setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut sudah ada sejumlah negara yang ingin terlibat dalam misi perdamaian untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran.

"Mediasi harus ditujukan kepada mereka yang meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik ini," kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan media sosial.

Sementara itu, konflik telah menyebar di Timur Tengah, memicu serangan Iran di Teluk serta perang antara Hizbullah dan Israel, yang mengakibatkan krisis pengungsian massal di Lebanon.

Iran telah meluncurkan rudal dan drone ke titik-titik vital dan aset berharga Israel dan AS di seluruh wilayah Timur Tengah. Pasukan Iran juga telah menargetkan infrastruktur energi dan sipil di negara-negara Teluk, yang membuat hubungan dengan dunia Arab tegang.

Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak dunia mengalami lonjakan.

Meski begitu, para pejabat Iran telah menyatakan penolakan sejak awal perang, menekankan bahwa mereka siap untuk berkonflik dalam jangka waktu panjang dan siap menangkis invasi darat AS jika itu terjadi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan dalam sebuah pesan kepada Trump bahwa rencana AS untuk mencapai 'kemenangan militer yang bersih dan cepat gagal'.

"Rencana B Anda akan menjadi kegagalan yang lebih besar," tulis Araghchi di X, Kamis lalu.

Sehari setelahnya, diplomat top Iran itu juga mengunggah foto peti mati seorang ibu dan anak, yang tampaknya menjadi korban serangan AS-Israel. "Angkatan Bersenjata kami yang Berani dan Berkuasa akan membalas dendam setiap ibu, ayah, dan anak Iran yang telah menjadi sasaran pasukan musuh," tulis Araghchi.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang