tirto.id - Perang antara Amerika Serikat yang bergabung dengan Israel melawan Iran pecah sejak 28 Februari lalu. Setelah tujuh hari konflik tersebut berlangsung, banyak pendapat berkembang apakah perang ini sebenarnya adalah pengalihan isu Palestina?
Selain berkonflik dengan Iran, Israel juga diketahui sebagai negara yang ingin mencaplok wilayah Palestina. Ketegangan antara Israel dan Hamas, sebuah kelompok yang konsisten membuat perlawanan di Gaza, masih terjadi hingga saat ini.
Rusia Menuding AS Mengalihkan Isu Palestina
Rusia melalui Kementerian Luar Negeri pada 5 Maret 2026 menuduh Amerika Serikat dan Israel berusaha menyeret negara-negara Arab ke dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas dengan memprovokasi Iran agar menyerang target-target di seluruh kawasan.
Rusia juga mengatakan tidak ada tanda bahwa Washington dan Tel Aviv akan meredakan tindakan mereka.
Negara-negara Arab di kawasan Teluk, yang semuanya merupakan sekutu dekat AS—sebagian di antaranya juga memiliki hubungan dekat dengan Rusia—telah menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari.
Rusia menuding AS dan Israel dengan sengaja memprovokasi Iran untuk melakukan serangan balasan terhadap fasilitas di beberapa negara Arab, yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan materiil, tindakanyang sangat disayangkan oleh Rusia.
"Mereka mencoba menarik negara-negara Arab ke dalam perang yang melayani kepentingan pihak lain. Pada saat yang sama, mereka berupaya mengalihkan perhatian dari kondisi tragis rakyat Palestina," demikian pernyataan Kemlu Rusia.
Rusia kembali menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konfrontasi saat ini untuk segera menghentikan permusuhan, termasuk serangan yang tidak dapat diterima di wilayah negara-negara Teluk.
"Kami menganggap serangan terhadap warga sipil dan serangan terhadap infrastruktur sipil – baik di Iran maupun di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk – sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima," kata Kemlu Rusia.
Apa Hubungan antara Israel, Hamas, dan Iran?
Iran selama ini diyakini sebagai negara yang menyokong Hamas dan juga Hizbullah di Lebanon. Kecurigaan adanya maksud tersembunyi dari serangan Israel ke Iran adalah karena saat ini Israel memperluas serangannya tidak hanya menargetkan Teheran dan kota-kota di Iran, melainkan juga menyerang Lebanon.
Diyakini, dengan melemahnya Iran, maka tidak akan ada lagi yang mendukung perjuangan Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Dan itu akan mempermudah Israel untuk menguasai Gaza seutuhnya.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengungkapkan jika AS selama ini hanya mengarang cerita tentang alasannya menyerang Iran. Khatibzadeh juga menuding jika Trump hanya mendukung Israel dalam mewujudkan cita-citanya untuk membuat Greater Israel.
Apa Itu Greater Israel?
Mengutip Al Jazeera, gagasan Greater Israel sendiri berasal dari interpretasi ayat Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian (Genesis) 15:18-21, yang menceritakan perjanjian antara Tuhan dan Nabi Ibrahim (Abraham).
Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa keturunan Abraham akan mewarisi tanah yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Dalam tradisi Yahudi, bangsa Israel diyakini berasal dari keturunan Ishak, putra Abraham, sehingga sebagian kelompok Zionis menafsirkan ayat ini sebagai dasar teologis bagi klaim wilayah yang luas tersebut.
Namun secara historis dan politik, interpretasi ini sangat kontroversial karena wilayah yang dimaksud juga merupakan tanah bagi banyak bangsa lain, termasuk bangsa Arab yang secara tradisi dianggap sebagai keturunan Ismail, putra Abraham yang lain.
Secara historis, negara Israel modern terbentuk pada tahun 1948 setelah berakhirnya Mandat Inggris atas Palestina. Pada saat pembentukannya, wilayah Israel dibatasi oleh keputusan internasional yang dibuat setelah Perang Dunia I.
Kontroversi terbaru muncul setelah sebuah wawancara antara podcaster Amerika Tucker Carlson dan duta besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee pada Februari kemarin tayang.
Dalam wawancara tersebut, Carlson menanyakan apakah Huckabee mendukung gagasan bahwa Israel seharusnya menguasai seluruh wilayah yang secara teologis dianggap dijanjikan dalam Alkitab.
Huckabee, yang dikenal sebagai penganut Christian Zionism, tidak menolak gagasan tersebut.
“Tidak masalah jika mereka mengambil semuanya,” kata Huckabee.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari banyak negara di Timur Tengah karena wilayah yang dimaksud mencakup sebagian atau seluruh wilayah Mesir, Irak, Yordania, Lebanon, Arab Saudi, dan Suriah.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































