tirto.id - Harapan pulang ke rumah berubah menjadi duka mendalam di Stasiun Bekasi Timur. Tragedi maut KA Argo Bromo yang menabrak rangkaian KRL pada Senin (27/4/2026) malam tidak hanya menyisakan luka bagi 88 korban dan nyawa 15 korban yang melayang, tetapi juga memicu desakan masif untuk merombak total sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
KRL jadi merupakan salah satu transportasi umum andalan masyarakat untuk menjangkau lokasi bekerja. Saat kejadian, penumpang masih ramai dan mayoritas korban adalah perempuan. Kereta Argo Bromo menabrak bagian belakang KRL yang tengah berhenti, bagian yang memang dikhususkan bagi penumpang perempuan.
Salah satu korban luka dalam insiden ini adalah Laily. Perempuan berusia 27 tahun itu naik KRL menuju Stasiun Cibitung dari tempat kerjanya di wilayah Tebet. Kini, Laily masih mendapat perawatan di RSUD Bekasi. Dia sempat terhimpit dan tubuhnya terbalik di dalam KRL. Usai berhasil dievakuasi, dia segera dilarikan ke rumah sakit.
Ibu Laily, Yunis, mengaku mendapat sebuah panggilan dari anaknya pada Senin 21.30 WIB. Buah hatinya mengabarkan, baru mengalami kecelakaan kereta. Namun, Yunis sempat mengira panggilan Laily adalah penipuan. Dia pun memilih tak langsung mempercayai kabar tersebut.
Yunis lalu meminta Laily untuk melakukan panggilan video. Namun karena kondisi yang tak memungkinkan, Laily mengirimkan sebuah gambar yang langsung membuat Yunis percaya dan bergegas ke Stasiun Bekasi Timur agar dapat segera melihat kondisi anaknya.
"Dia [Laily] bilang 'mama saya kecelakaan ditabrak kereta' tapi saya gak percaya. Maunya saya kan 'kamu video call coba' gitu, takutnya penipuan kan. Tapi dia kirim foto, ya sudah baru saya percaya," kata Yunis kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).
Segera setelah melihat potret anaknya, Yunis meninggalkan pekerjaan. Kekhawatirannya tak terbendung. Tak lama, dia mendapatkan informasi bahwa Laily telah dibawa ke RSUD Bekasi. Saat akhirnya bertemu, Yunis lega melihat anaknya dalam keadaan sadar.
Meski demikian, hati Yunis teriris. Dia menyaksikan Laily tak berhenti memanggilnya. "Mama, mama," kata Yunis mencontohkan suara Laily.
Laily mengalami luka di bagian kepala, perut, dan kaki. Laily terjepit tiang-tiang KRL dan sempat muntah karena terinjak-injak penumpang lainnya. Laily sulit dievakuasi karena tubuhnya dalam keadaan terbalik dan akhirnya berhasil diselamatkan lewat jendela.
"Dia tuh lagi main handphone saja, namanya anak-anak gitu kan kerjanya main handphone ya. Dia kejepit tiang-tiang di dalam kereta yang nabrak dia masuk ke dalam. Soalnya dia itu kan kepalanya langsung di bawah terus kakinya ke atas semua sama tangannya. Jadi dia kaya kebalik," ujar Yunis.
Tak hanya Laily, seorang perempuan yang juga berasal dari Cibitung, Endang Kuswati, juga menjadi salah satu korban luka pada kejadian ini. Endang yang baru kembali usai bekerja di wilayah Pasar Baru, mengaku sempat terhimpit badan kereta selama hampir 10 jam lamanya. Tubuh Endang, baru dapat dievakuasi pada Selasa pagi.
“Jadi dari jam 9 malam itu [kecelakaan] baru selesai proses evakuasi sekitar jam 6 sampai jam 7. Itu karena posisi kakak saya itu agak paling belakang karena menunggu dari yang sebelum-sebelumnya untuk dievakuasi gitu,” kata Sepupu Endang, Iqbal.
Kata Iqbal, pada Senin malam, Endang mengabarkan tengah terjebak dalam KRL nomor PLB 5568A jurusan Cikarang. Setelah mendapatkan kabar tersebut, Iqbal langsung bergegas ke Stasiun Bekasi Timur, untuk melihat kondisi sepupunya tersebut.
Iqbal juga sempat mendapatkan foto kondisi di dalam kereta pasca kecelakaan dan terlihat para korban yang terhimpit dalam keadaan lemas karena kekurangan oksigen. Kata Iqbal, Endang telah berhasil dievakuasi ke RSUD Bekasi dan menjalani pemeriksaan.
Kejadian ini, akan menimbulkan luka mendalam terutama bagi para korban maupun para pihak yang turut menyaksikan kejadian tersebut. Masyarakat menyerukan sejumlah dukungan melalui sosial media bagi para korban.
Korban Jiwa Teridentifikasi, Seluruhnya Perempuan

Penumpang terjebak di dalam gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/app/agr

Pihak Rumah Sakit (RS) Polri telah berhasil mengidentifikasi 10 korban jiwa dalam kecelakaan yang seluruhnya adalah perempuan. Mereka merupakan ibu, istri, dan anak yang membantu ekonomi keluarga dan hendak pulang untuk beristirahat usai bekerja. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menekankan pentingnya pendampingan bagi para korban yang selamat.
Arifah juga menyoroti dampak psikis yang dialami para penumpang akibat tragedi tersebut. Dia juga mendorong PT Kereta Api Indonesia untuk memindahkan posisi gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian kereta. Usulan ini bertujuan untuk meningkatkan aspek keamanan dan keselamatan bagi penumpang perempuan.
“Ya, tadi kami sudah sempat menyampaikan ke PT KAI kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang. Jadi kalau bisa di posisi di tengah, jadi posisi paling tengah untuk gerbongnya ya, supaya juga lebih tertib, lebih aman,” ujar Arifah Fauzi di lokasi saat ditemui Tirto.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menegaskan bahwa penanganan korban harus menjadi prioritas utama yang meliputi perawatan medis yang optimal bagi korban luka, pemulihan fisik dan psikologis korban, dan tanggung jawab penuh pelaku usaha terhadap korban, termasuk bagi korban meninggal dunia.
YLKI juga menuntut kepastian dan percepatan pemberian santunan kepada seluruh korban, baik korban luka maupun meninggal dunia, tanpa proses yang berbelit.
"Pemerintah harus hadir secara aktif untuk memastikan korban memperoleh haknya secara transparan, cepat dan adil," kata Pengurus Harian YLKI, Rio Priambodo.
Rio juga mengingatkan pentingnya kejelasan bagi para konsumen yang telah membeli tiket. Katanya, operator wajib memberikan informasi yang transparan dan cepat terkait status keberangkatan, penjadwalan ulang, dan pengembalian dana.
Sistem Jalur Kereta Api Harus Dibenahi
Kondisi gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/app/agr

YLKI mempertanyakan keandalan infrastruktur dan sistem keselamatan operator. Kata Rio, kejadian ini menunjukkan potensi kelemahan pada sistem early warning dan sistem pengamanan yang seharusnya mampu memitigasi kecelakaan.
YLKI mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan penyebab kecelakaan ini. Kata Rio, perlu dilakukan evaluasi terhadap fasilitas dan standar keselamatan gerbong kereta. Dia menyebut, penempatan gerbong wanita paling depan dan belakang perlu ditinjau ulang.
Oleh karena itu, Rio mengatakan, harus dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlintasan kereta. Dia menyebut, YLKI juga mendorong pembenahan sistem jalur kereta api, termasuk pemisahan jalur kereta jarak jauh dan KRL untuk mengurangi risiko kecelakaan.
"YLKI menegaskan bahwa keselamatan konsumen merupakan hak dasar yang harus dijamin oleh negara dan pelaku usaha. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi publik di Indonesia," pungkas Rio.
Sementara itu, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyebut kecelakaan ini bukan hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kepercayaan publik terhadap moda transportasi yang digunakan secara luas khususnya di wilayah metropolitan.
Dia juga menilai meningkatnya kompleksitas operasional di jalur padat, mulai dari frekuensi perjalanan hingga berbagi lintasan antar layanan, menuntut penguatan sistem keselamatan yang lebih komprehensif. Katanya insiden ini harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah.
Puan meminta kepada pemerintah bersama dengan operator kereta api untuk meningkatkan standar keamanan dan keselamatan, khususnya di perlintasan sebidang. Dia juga mendorong agar investigasi atas kecelakaan tersebut menghasilkan evaluasi yang konkret dan transparan kepada publik.
“Justru setelah insiden seperti ini, operator dan Pemerintah perlu menunjukkan bahwa standar keselamatan diperbarui secara nyata, terukur, dan dapat dipahami masyarakat,” kata Puan.
Kronologi Kereta Argo Bromo Tabrak KRL
Calon penumpang antre untuk tiket pengganti pembatalan di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (28/4/2026). PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) mengumumkan bahwa seluruh perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ) dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen Jakarta dihentikan sementera pascainsiden tabrakan antara Commuter Line dan kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz.

Basarnas menyatakan, proses evakuasi telah selesai dilakukan pada Selasa. Secara keseluruhan proses evakuasi dilakukan selama 12 jam, sejak tadi malam. Seluruh penumpang telah dievakuasi, namun jika ditemukan adanya bagian tubuh yang tersisa pada bangkai gerbong maka akan diserahkan kepada tim medis.
Basarnas menemukan kesulitan dalam proses evakuasi karena adanya lima orang korban yang terjepit antara badan KRL dengan kereta Argo Bromo. Basarnas pun menggunakan alat manual dan alat dengan listrik serta hidrolik untuk memutus dua gerbong yang terhimpit.
"100 persen yang kita evakuasi perempuan," kata Kabasarnas, Marsekal Madya Muhammad Syafii.
Sementara, kecelakaan ini bukan hanya melibatkan kereta, tetapi juga taksi yang melintas. Humas Daop 1 KAI, Franoto, menjelaskan bahwa awalnya KRL terlibat tabrakan dengan sebuah taksi di jalur perlintasan langsung (JPL). Akibatnya, KRL terhenti di sekitar area Stasiun Bekasi Timur.
Menurut Franto, kereta Argo Bromo saat itu berada di jalur belakang KRL yang terhenti. Sehingga, terjadi tabrakan antara dua kereta. Namun, hingga saat ini belum ada penjelasan secara rinci terkait peristiwa ini. “KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo," kata Franto.
Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, mengatakan lintasan Jatinegara-Cikarang menggunakan persinyalan open block yang artinya jika ada rangkaian kereta berhenti, sinya pada kereta di belakangnya akan otomatis menyala merah dan wajib berhenti.
"Bila masinis lalai, atau tidak melihat sinyal warna merah tersebut dapat dipastikan akan terjadi KAA menubruk kereta api di depannya," kata Deddy.
Dia menyarankan untuk dilakukan sistem pengendalian perjalanan kereta; mitigasi risiko; serta pembangunan double-double track dari Bekasi ke Cikarang untuk pemisah perjalanan KRL dan kereta api antar kota, sehingga terjamin keselamatan perjalanan kereta api.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




























