tirto.id - Memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sangat penting sebagai langkah antisipasi untuk menangani kebakaran, terutama sebelum api jadi membesar. Namun, membeli alat ini juga tidak bisa sembarangan sehingga perlu memahami tips memilih APAR yang benar.
Alat Pemadam Api Ringan atau APAR merupakan perangkat pemadam kebakaran portabel yang tak hanya mudah dibawa, tapi juga bisa digunakan atau dioperasikan secara manual oleh satu orang.
APAR berfungsi untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di tahap awal atau sebelum api menyebar dan menjadi lebih besar. Dengan adanya APAR, kebakaran dapat dikendalikan dan mencegah kerusakan yang lebih besar.
APAR memiliki bentuk yang relatif ringkas dan mudah dibawa sehingga bisa langsung digunakan dengan cepat saat muncul api kecil. Mengingat alat ini sangat bermanfaat, maka APAR dibutuhkan oleh semua orang, baik itu rumah tangga, perkantoran, toko, gudang, hingga fasilitas umum.
Namun, kebutuhan APAR bisa berbeda tergantung pada sumber api dan tingkat risiko di masing-masing lokasi. Oleh karena itu, membeli APAR juga tidak bisa sembarangan dan wajib memperhatikan kesesuaian lokasi dengan jenis APAR yang dipilih.
Tips Memilih APAR untuk Menangani Kebakaran dengan Tepat

Tidak semua APAR yang kita lihat di pasaran itu sama. Setiap APAR dibuat dengan karakteristik tersendiri, baik itu terkait jenis media pemadamnya, kapasitas, hingga kesesuaian dengan lokasi atau risiko kelas kebakarannya. Agar tidak salah beli, berikut cara memilih APAR dan hal-hal apa saja yang wajib diperhatikan:
1. Kenali Jenis Kebakaran
Sumber api dapat ditemukan di berbagai tempat, mulai dari rumah, kantor, hingga kendaraan. Namun, material yang berpotensi terbakar bisa berbeda sehingga butuh APAR yang tepat. Jadi, sebelum memilih APAR, kita perlu mengenali jenis kebakaran yang mungkin akan terjadi di sekitar kita.Di Indonesia, penggolongan kebakaran untuk keperluan alat pemadam api ringan diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan.
Peraturan tersebut membagi kebakaran menjadi empat golongan, yakni Golongan A, B, C, dan D. Pembagian ini didasarkan pada jenis bahan atau sumber yang mengalami kebakaran.
Sementara itu, National Fire Protection Association (NFPA) menggunakan lima kelas, yakni A, B, C, D, dan K. Untuk lebih jelasnya, berikut klasifikasi jenis kebakaran yang bisa terjadi:
- Kelas A
Beberapa contoh material yang termasuk dalam kelas ini antara lain kayu, kertas, kain, dan plastik. Misalnya, api yang bermula dari tumpukan kertas di kantor atau perabot kayu yang terbakar di rumah dapat dikategorikan sebagai kebakaran kelas A.
- Kelas B
- Kelas C
Contohnya dapat berupa kebakaran yang berkaitan dengan instalasi listrik di rumah, peralatan elektronik di kantor, atau berbagai perangkat kelistrikan yang digunakan dalam ruang server.
- Kelas D
Contoh antara lain aluminium, kalium, dan magnesium. Kebakaran kelas D termasuk jenis kebakaran yang perlu mendapat perhatian khusus karena karakteristik materialnya berbeda dari bahan padat non logam.
- Kelas K

2. Pahami Jenis Media Pemadam
Tips memilih APAR yang juga sangat penting adalah memahami jenis APAR berdasarkan media pemadamnya. Setiap media pemadam memiliki karakteristik dan kemampuan berbeda dalam mengendalikan api sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan sumber kebakaran.Dilansir dari laman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh, berikut jenis media pemadam pada APAR dan kelas kebakaran yang dapat ditangani:
- APAR Water (Air)
APAR water tidak boleh digunakan pada instalasi listrik yang masih bertegangan karena dapat menimbulkan risiko bahaya listrik.
- APAR Foam (Busa/AFFF)
Media ini dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, seperti kebakaran kertas dan kain, serta kelas B yang melibatkan cairan mudah terbakar, misalnya minyak, alkohol, dan solvent.
- APAR Dry Chemical Powder
Dry chemical powder dikenal sebagai media yang serbaguna karena dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, B, dan C. Perangkat ini dapat dijadikan sebagai APAR untuk rumah maupun kendaraan.
- APAR CO2 (Karbon Dioksida)
3. Sesuaikan Jenis APAR dengan Kelas Api
Setiap APAR memiliki karakteristik masing-masing dan tidak dapat digunakan untuk semua jenis kebakaran. Media pemadam harus disesuaikan dengan material yang terbakar agar proses pemadaman efektif sekaligus tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar.Berikut pilihan jenis APAR yang sesuai dengan masing-masing kelas kebakaran:
- Kebakaran Kelas A
- Kebakaran Kelas B
- Kebakaran Kelas C
- Kebakaran Kelas D
- Kebakaran Kelas K
4. Perhatikan Kapasitas dan Rating APAR
Tips memilih APAR berikutnya adalah memperhatikan kapasitas dan rating perangkat. Rating dan kapasitas APAR menunjukkan sejauh mana kemampuan alat dalam menangani kebakaran.Dilansir dari situs OSHA (Occupational Safety and Health Administration), pemilihan dan penempatan APAR perlu mempertimbangkan kelas kebakaran yang mungkin terjadi, ukuran, serta tingkat bahaya di lokasi tersebut.
Memahami Rating APAR
Menurut OSHA, rating APAR umumnya memiliki kombinasi huruf dan angka, misalnya 1-A:10-B:C. Huruf menunjukkan jenis kebakaran yang dapat ditangani, sedangkan angka menunjukkan kemampuan pemadaman APAR terhadap kebakaran pada kelas tertentu.Sebagai contoh, sebuah APAR memiliki kode rating 4-A:80-B:C. Cara bacanya adalah sebagai berikut:
- 4-A: menunjukkan rating APAR untuk kebakaran Kelas A. Setiap satu unit rating A setara dengan kemampuan pemadaman sekitar 1,25 galon air. Jadi, 4-A setara dengan 5 galon air.
- 80-B: menunjukkan kemampuan APAR dalam menangani kebakaran kelas B dengan luas sekitar 80 kaki persegi (sekitar 7,4 m2).
- C: menunjukkan APAR tersebut dapat digunakan pada kebakaran yang melibatkan peralatan listrik bertegangan karena media pemadamnya sesuai untuk kondisi tersebut.
Ukuran APAR
Kapasitas atau ukuran APAR juga perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan lokasi penempatan, berikut gambaran umumnya:- APAR 1–3 kg
- APAR 4,5–6 kg
- APAR 9 kg
- APAR 25–50 kg
5. Cek Pressure Gauge
Pressure gauge atau pengukur tekanan merupakan salah satu komponen penting pada APAR, terutama yang menggunakan sistem stored pressure.Alat ini berfungsi memberikan indikasi mengenai tekanan di dalam tabung sehingga pengguna dapat mengetahui apakah APAR masih berada dalam kondisi bertekanan dan siap digunakan.
OSHA merekomendasikan pemeriksaan visual APAR setidaknya sebulan sekali, termasuk memastikan jarum pada pressure gauge menunjukkan bahwa alat masih dalam kondisi optimal atau fully charged.
Cara membaca pressure gauge juga cukup sederhana. Pada APAR yang menggunakan indikator dengan zona warna, perhatikan posisi jarumnya. Jika jarum berada di area hijau, berarti tekanan masih berada pada rentang operasional.
Sebaliknya, apabila jarum berada di luar area operasional, APAR perlu diperiksa lebih lanjut karena mungkin tidak siap untuk digunakan.

6. Pastikan Produk Memenuhi Standar
Tips memilih APAR selanjutnya adalah memastikan bahwa produk yang dibeli sudah sesuai standar. Saat membeli APAR, pastikan produk sudah memenuhi SNI APAR (SNI 180-1:2022). Standar ini menjadi acuan persyaratan mutu alat pemadam api portabel.Selain SNI, standar APAR yang baik juga bisa mengacu pada Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980. Peraturan tersebut menetapkan bahwa APAR harus memenuhi persyaratan keselamatan kerja.
Peraturan ini juga mengatur bahwa tabung APAR ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat, mudah dicapai, dan mudah diambil, serta dilengkapi tanda pemasangan. APAR juga tidak boleh digunakan jika tabung sudah berlubang atau mengalami kerusakan akibat karat.
Dikutip dari DPKP Kota Banda Aceh, berikut persyaratan teknis yang wajib dipenuhi APAR :
- Tabung APAR harus dalam kondisi yang baik dan tidak berkarat.
- APAR dilengkapi dengan panduan cara penggunaan secara urut dan jelas.
- APAR masih dalam kondisi tersegel dengan baik.
- APAR tidak mengalami kebocoran atau penyumbatan pada lubang pengeluaran.
- Selang APAR harus dalam kondisi yang baik dan tahan terhadap tekanan tinggi.
- Bahan atau media pemadaman dalam APAR harus selalu dalam kondisi baik agar selalu siap digunakan.
- Tutup tabung APAR harus dalam kondisi yang baik dan tertutup rapat.
- APAR memiliki warna tabung yang mudah dilihat.
7. Periksa Usia dan Riwayat Perawatan
APAR tidak cukup hanya dibeli, lalu disimpan begitu saja tanpa diperiksa secara berkala. Menurut Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980, setiap APAR wajib diperiksa setidaknya dua kali dalam setahun, yaitu dalam jangka waktu 6 bulan dan 12 bulan.Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan kondisi APAR tetap memenuhi persyaratan dan siap digunakan. Masa berlaku APAR juga perlu diperhatikan dan usianya bisa berbeda-beda tergantung jenisnya.
Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980 juga menegaskan bahwa setiap APAR harus dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak lebih dari lima tahun. Untuk APAR yang diisi kembali, tanggal, bulan, dan tahun pengisian harus dicatat pada badan APAR.
8. Periksa Kondisi Fisik Tabung
Kondisi fisik merupakan hal yang mudah diperiksa sebelum membeli APAR. Salah satu tips memilih APAR adalah pastikan tabungnya tidak berlubang, tidak mengalami karat yang dapat merusak kondisi tabung, dan tidak menunjukkan kerusakan fisik lainnya.Selain tabung, perhatikan pula pin atau segel pengaman, tutup kepala, selang, nozzle, dan pressure gauge jika APAR menggunakannya. Jangan memilih unit yang menunjukkan tanda kebocoran, bagian yang retak, selang rusak, atau label penggunaan yang sudah tidak terbaca.

9. Sesuaikan dengan Lokasi Penggunaan
APAR sebaiknya dipilih berdasarkan karakteristik lokasi dan jenis kebakaran yang mungkin terjadi, bukan menggunakan satu jenis APAR untuk semua tempat.Sebagai contoh, kebutuhan APAR di dapur dapat berbeda dengan ruangan yang dipenuhi perangkat listrik karena sumber risiko kebakarannya tidak sama. Demikian pula area yang menyimpan bahan bakar atau cairan mudah terbakar tentu butuh APAR yang berbeda dari lokasi rumah atau kantor.
Selain jenis APAR, lokasi pemasangannya juga harus mudah terlihat, mudah dicapai, dan mudah diambil. Untuk ruangan/lokasi yang luas, jarak antara satu APAR dengan APAR lainnya sebaiknya tidak boleh lebih dari 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
10. Jangan Hanya Melihat Harga
Harga memang menjadi salah satu pertimbangan ketika membeli APAR, tapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas dan kesesuaiannya. Harga APAR sendiri sangatlah beragam, mulai dari Rp100 ribuan hingga jutaan, tergantung jenis dan kapasitasnya.APAR yang lebih murah belum tentu menjadi pilihan yang tepat jika media pemadamnya tidak sesuai dengan risiko kebakaran, kapasitasnya tidak memadai, atau kondisi tabungnya kurang baik.
Sebaliknya, APAR dengan harga lebih tinggi juga belum tentu diperlukan jika spesifikasinya tidak sesuai dengan kebutuhan lokasi dan risiko kebakaran yang mungkin terjadi.
Sebelum membeli, bandingkan beberapa aspek sekaligus, seperti jenis media pemadam, kapasitas, kemampuan menangani kelas kebakaran tertentu, kondisi fisik perangkat, kelengkapan komponen, standar yang dipenuhi, hingga ketersediaan layanan pemeriksaan dan pengisian ulang.
11. Pastikan Tersedia Layanan Perawatan dan Isi Ulang APAR
APAR bukan produk yang bisa disimpan lama tanpa pemeriksaan berkala. Media pemadam, tekanan, komponen perangkat, dan kondisi tabung perlu diperiksa agar alat tetap dapat berfungsi ketika dibutuhkan.Saat membeli APAR, jangan ragu untuk bertanya apakah pihak penjual juga menyediakan layanan pemeriksaan dan perawatan setelah pembelian, termasuk jadwal pemeriksaan hingga isi ulang APAR. Memilih penjual/penyedia yang memiliki layanan lengkap tentunya akan lebih praktis.
Demikian tips memilih APAR yang dapat dijadikan panduan sebelum membeli alat pemadam kebakaran. Pastikan APAR yang dipilih memiliki jenis media, kapasitas, dan rating yang sesuai dengan potensi kebakaran di lokasi, serta memenuhi standar keselamatan yang berlaku.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id
































