Menuju konten utama

11 Tips Memilih APAR untuk Tangani Kebakaran yang Sesuai Standar

Jangan sampai salah pilih! Simak tips memilih APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang sesuai dengan kebutuhan untuk perlindungan maksimal dari risiko kebakaran.

11 Tips Memilih APAR untuk Tangani Kebakaran yang Sesuai Standar
Ilustrasi APAR. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sangat penting sebagai langkah antisipasi untuk menangani kebakaran, terutama sebelum api jadi membesar. Namun, membeli alat ini juga tidak bisa sembarangan sehingga perlu memahami tips memilih APAR yang benar.

Alat Pemadam Api Ringan atau APAR merupakan perangkat pemadam kebakaran portabel yang tak hanya mudah dibawa, tapi juga bisa digunakan atau dioperasikan secara manual oleh satu orang.

APAR berfungsi untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di tahap awal atau sebelum api menyebar dan menjadi lebih besar. Dengan adanya APAR, kebakaran dapat dikendalikan dan mencegah kerusakan yang lebih besar.

APAR memiliki bentuk yang relatif ringkas dan mudah dibawa sehingga bisa langsung digunakan dengan cepat saat muncul api kecil. Mengingat alat ini sangat bermanfaat, maka APAR dibutuhkan oleh semua orang, baik itu rumah tangga, perkantoran, toko, gudang, hingga fasilitas umum.

Namun, kebutuhan APAR bisa berbeda tergantung pada sumber api dan tingkat risiko di masing-masing lokasi. Oleh karena itu, membeli APAR juga tidak bisa sembarangan dan wajib memperhatikan kesesuaian lokasi dengan jenis APAR yang dipilih.

Tips Memilih APAR untuk Menangani Kebakaran dengan Tepat

Ilustrasi APAR

Ilustrasi APAR. foto/istockphoto

Tidak semua APAR yang kita lihat di pasaran itu sama. Setiap APAR dibuat dengan karakteristik tersendiri, baik itu terkait jenis media pemadamnya, kapasitas, hingga kesesuaian dengan lokasi atau risiko kelas kebakarannya. Agar tidak salah beli, berikut cara memilih APAR dan hal-hal apa saja yang wajib diperhatikan:

1. Kenali Jenis Kebakaran

Sumber api dapat ditemukan di berbagai tempat, mulai dari rumah, kantor, hingga kendaraan. Namun, material yang berpotensi terbakar bisa berbeda sehingga butuh APAR yang tepat. Jadi, sebelum memilih APAR, kita perlu mengenali jenis kebakaran yang mungkin akan terjadi di sekitar kita.

Di Indonesia, penggolongan kebakaran untuk keperluan alat pemadam api ringan diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan.

Peraturan tersebut membagi kebakaran menjadi empat golongan, yakni Golongan A, B, C, dan D. Pembagian ini didasarkan pada jenis bahan atau sumber yang mengalami kebakaran.

Sementara itu, National Fire Protection Association (NFPA) menggunakan lima kelas, yakni A, B, C, D, dan K. Untuk lebih jelasnya, berikut klasifikasi jenis kebakaran yang bisa terjadi:

  • Kelas A
Kebakaran kelas A merupakan kebakaran yang melibatkan bahan padat, kecuali logam. Jenis material ini cukup banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kebakaran kelas A berpotensi terjadi di rumah, kantor, pusat perbelanjaan, maupun tempat umum lainnya.

Beberapa contoh material yang termasuk dalam kelas ini antara lain kayu, kertas, kain, dan plastik. Misalnya, api yang bermula dari tumpukan kertas di kantor atau perabot kayu yang terbakar di rumah dapat dikategorikan sebagai kebakaran kelas A.

  • Kelas B
Kebakaran kelas B adalah kebakaran yang melibatkan bahan cair atau gas yang mudah terbakar. Kelas ini dapat dijumpai pada berbagai lokasi yang menyimpan atau menggunakan bahan bakar dan zat mudah terbakar. Contohnya meliputi bensin, solar, kerosin, alkohol, minyak tanah, dan elpiji.
  • Kelas C
Kelas C merupakan kebakaran yang terjadi pada instalasi listrik yang bertegangan. Salah satu penyebab yang umum adalah korsleting listrik yang menghasilkan percikan atau panas dan kemudian memicu kebakaran.

Contohnya dapat berupa kebakaran yang berkaitan dengan instalasi listrik di rumah, peralatan elektronik di kantor, atau berbagai perangkat kelistrikan yang digunakan dalam ruang server.

  • Kelas D
Kebakaran kelas D adalah kebakaran yang melibatkan logam. Berbeda dari kelas lainnya, material yang terbakar pada kategori ini merupakan logam tertentu yang dapat mengalami pembakaran dalam kondisi tertentu.

Contoh antara lain aluminium, kalium, dan magnesium. Kebakaran kelas D termasuk jenis kebakaran yang perlu mendapat perhatian khusus karena karakteristik materialnya berbeda dari bahan padat non logam.

  • Kelas K
Kelas K merupakan kebakaran yang melibatkan minyak sayur/hewani atau lemak sehingga paling sering ditemukan di area dapur, baik itu di tingkat rumah tangga, restoran, hingga fasilitas pengolahan makanan.

Ilustrasi kebakaran rumah

Ilustrasi kebakaran rumah. foto/istockphoto

2. Pahami Jenis Media Pemadam

Tips memilih APAR yang juga sangat penting adalah memahami jenis APAR berdasarkan media pemadamnya. Setiap media pemadam memiliki karakteristik dan kemampuan berbeda dalam mengendalikan api sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan sumber kebakaran.

Dilansir dari laman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh, berikut jenis media pemadam pada APAR dan kelas kebakaran yang dapat ditangani:

  • APAR Water (Air)
APAR ini menggunakan air bertekanan tinggi sebagai media pemadam. Jenis ini termasuk media yang ekonomis dan sesuai untuk kebakaran yang melibatkan bahan padat non logam, seperti kertas, kain, karet, dan plastik atau kebakaran kelas A.

APAR water tidak boleh digunakan pada instalasi listrik yang masih bertegangan karena dapat menimbulkan risiko bahaya listrik.

  • APAR Foam (Busa/AFFF)
APAR foam menggunakan bahan kimia yang dapat membentuk busa AFFF (Aqueous Film Forming Foam) ketika disemprotkan. Busa tersebut membantu menutupi permukaan material yang terbakar sehingga membatasi kontak dengan oksigen.

Media ini dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, seperti kebakaran kertas dan kain, serta kelas B yang melibatkan cairan mudah terbakar, misalnya minyak, alkohol, dan solvent.

  • APAR Dry Chemical Powder
APAR powder ini menggunakan serbuk kimia kering yang terdiri dari kombinasi mono-amonium dan ammonium sulphate. Saat disemprotkan, serbuk akan menyelimuti area yang terbakar dan membantu mengisolasinya dari oksigen.

Dry chemical powder dikenal sebagai media yang serbaguna karena dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, B, dan C. Perangkat ini dapat dijadikan sebagai APAR untuk rumah maupun kendaraan.

  • APAR CO2 (Karbon Dioksida)
Jenis ini cocok digunakan sebagai APAR untuk listrik karena menggunakan karbon dioksida dalam bentuk gas sebagai media pemadam. Jenis ini cocok untuk menangani kebakaran kelas B yang melibatkan cairan mudah terbakar, serta kelas C yang melibatkan instalasi listrik yang masih bertegangan.

3. Sesuaikan Jenis APAR dengan Kelas Api

Setiap APAR memiliki karakteristik masing-masing dan tidak dapat digunakan untuk semua jenis kebakaran. Media pemadam harus disesuaikan dengan material yang terbakar agar proses pemadaman efektif sekaligus tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Berikut pilihan jenis APAR yang sesuai dengan masing-masing kelas kebakaran:

  • Kebakaran Kelas A
Kebakaran kelas A melibatkan bahan padat non logam, seperti kertas, plastik, kain, kayu, dan karet. Untuk jenis kebakaran ini, ada tiga jenis APAR yang dapat digunakan, yaitu water, foam, dan dry chemical powder.

  • Kebakaran Kelas B
Kebakaran kelas B melibatkan cairan yang mudah terbakar, seperti bensin, solar, oli, alkohol, cat, solvent, hingga methanol. Media APAR yang sesuai adalah APAR CO2, foam, dan dry chemical powder.

  • Kebakaran Kelas C
Kebakaran kelas C berkaitan dengan instalasi listrik yang masih bertegangan. Jenis APAR yang dapat digunakan adalah APAR CO2 dan dry chemical powder.

  • Kebakaran Kelas D
Kebakaran kelas D melibatkan logam yang mudah terbakar, seperti sodium, magnesium, aluminium, lithium, dan potassium. Kelas kebakaran ini membutuhkan APAR dengan media serbuk kimia khusus (sodium klorida) dan grafit.

  • Kebakaran Kelas K
Kebakaran kelas K berkaitan dengan minyak masak dan lemak sehingga umumnya terjadi di area dapur. Jenis APAR yang cocok untuk kelas ini adalah APAR powder, foam, dan CO2.

SIMULASI PENANGGULANGAN KEBAKARAN

Ilustrasi Penggunaan APAR. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/ama/16

4. Perhatikan Kapasitas dan Rating APAR

Tips memilih APAR berikutnya adalah memperhatikan kapasitas dan rating perangkat. Rating dan kapasitas APAR menunjukkan sejauh mana kemampuan alat dalam menangani kebakaran.

Dilansir dari situs OSHA (Occupational Safety and Health Administration), pemilihan dan penempatan APAR perlu mempertimbangkan kelas kebakaran yang mungkin terjadi, ukuran, serta tingkat bahaya di lokasi tersebut.

Memahami Rating APAR

Menurut OSHA, rating APAR umumnya memiliki kombinasi huruf dan angka, misalnya 1-A:10-B:C. Huruf menunjukkan jenis kebakaran yang dapat ditangani, sedangkan angka menunjukkan kemampuan pemadaman APAR terhadap kebakaran pada kelas tertentu.

Sebagai contoh, sebuah APAR memiliki kode rating 4-A:80-B:C. Cara bacanya adalah sebagai berikut:

  • 4-A: menunjukkan rating APAR untuk kebakaran Kelas A. Setiap satu unit rating A setara dengan kemampuan pemadaman sekitar 1,25 galon air. Jadi, 4-A setara dengan 5 galon air.
  • 80-B: menunjukkan kemampuan APAR dalam menangani kebakaran kelas B dengan luas sekitar 80 kaki persegi (sekitar 7,4 m2).
  • C: menunjukkan APAR tersebut dapat digunakan pada kebakaran yang melibatkan peralatan listrik bertegangan karena media pemadamnya sesuai untuk kondisi tersebut.

Ukuran APAR

Kapasitas atau ukuran APAR juga perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan lokasi penempatan, berikut gambaran umumnya:

  • APAR 1–3 kg
APAR berkapasitas 1–3 kg termasuk ukuran yang relatif ringkas sehingga mudah dibawa dan dioperasikan. Ukuran ini umumnya digunakan untuk kendaraan, rumah tinggal, toko kecil, dan area dengan risiko kebakaran yang terbatas.

  • APAR 4,5–6 kg
Kapasitas 4,5–6 kg menawarkan jumlah media pemada api yang lebih banyak dan umumnya digunakan pada kantor, gedung komersial, sekolah, hotel, serta fasilitas umum.

  • APAR 9 kg
APAR 9 kg memiliki kapasitas media pemadam yang lebih besar sehingga lebih sesuai untuk area dengan tingkat risiko kebakaran yang lebih tinggi. Ukuran ini cocok digunakan pada pabrik, tempat workshop, hingga gudang.

  • APAR 25–50 kg
Kapasitas 25–50 kg umumnya sudah menggunakan tipe trolley sehingga tidak bisa diangkat dan dibawa seperti APAR ringan biasa. APAR ini biasanya untuk area berisiko tinggi dan lokasi dengan potensi kebakaran yang lebih besar, misalnya lokasi industri yang besar atau area penyimpanan bahan bakar.

5. Cek Pressure Gauge

Pressure gauge atau pengukur tekanan merupakan salah satu komponen penting pada APAR, terutama yang menggunakan sistem stored pressure.

Alat ini berfungsi memberikan indikasi mengenai tekanan di dalam tabung sehingga pengguna dapat mengetahui apakah APAR masih berada dalam kondisi bertekanan dan siap digunakan.

OSHA merekomendasikan pemeriksaan visual APAR setidaknya sebulan sekali, termasuk memastikan jarum pada pressure gauge menunjukkan bahwa alat masih dalam kondisi optimal atau fully charged.

Cara membaca pressure gauge juga cukup sederhana. Pada APAR yang menggunakan indikator dengan zona warna, perhatikan posisi jarumnya. Jika jarum berada di area hijau, berarti tekanan masih berada pada rentang operasional.

Sebaliknya, apabila jarum berada di luar area operasional, APAR perlu diperiksa lebih lanjut karena mungkin tidak siap untuk digunakan.

Ilustrasi APAR

Ilustrasi APAR. foto/istockphoto

6. Pastikan Produk Memenuhi Standar

Tips memilih APAR selanjutnya adalah memastikan bahwa produk yang dibeli sudah sesuai standar. Saat membeli APAR, pastikan produk sudah memenuhi SNI APAR (SNI 180-1:2022). Standar ini menjadi acuan persyaratan mutu alat pemadam api portabel.

Selain SNI, standar APAR yang baik juga bisa mengacu pada Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980. Peraturan tersebut menetapkan bahwa APAR harus memenuhi persyaratan keselamatan kerja.

Peraturan ini juga mengatur bahwa tabung APAR ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat, mudah dicapai, dan mudah diambil, serta dilengkapi tanda pemasangan. APAR juga tidak boleh digunakan jika tabung sudah berlubang atau mengalami kerusakan akibat karat.

Dikutip dari DPKP Kota Banda Aceh, berikut persyaratan teknis yang wajib dipenuhi APAR :

  • Tabung APAR harus dalam kondisi yang baik dan tidak berkarat.
  • APAR dilengkapi dengan panduan cara penggunaan secara urut dan jelas.
  • APAR masih dalam kondisi tersegel dengan baik.
  • APAR tidak mengalami kebocoran atau penyumbatan pada lubang pengeluaran.
  • Selang APAR harus dalam kondisi yang baik dan tahan terhadap tekanan tinggi.
  • Bahan atau media pemadaman dalam APAR harus selalu dalam kondisi baik agar selalu siap digunakan.
  • Tutup tabung APAR harus dalam kondisi yang baik dan tertutup rapat.
  • APAR memiliki warna tabung yang mudah dilihat.

7. Periksa Usia dan Riwayat Perawatan

APAR tidak cukup hanya dibeli, lalu disimpan begitu saja tanpa diperiksa secara berkala. Menurut Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980, setiap APAR wajib diperiksa setidaknya dua kali dalam setahun, yaitu dalam jangka waktu 6 bulan dan 12 bulan.

Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan kondisi APAR tetap memenuhi persyaratan dan siap digunakan. Masa berlaku APAR juga perlu diperhatikan dan usianya bisa berbeda-beda tergantung jenisnya.

Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980 juga menegaskan bahwa setiap APAR harus dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak lebih dari lima tahun. Untuk APAR yang diisi kembali, tanggal, bulan, dan tahun pengisian harus dicatat pada badan APAR.

8. Periksa Kondisi Fisik Tabung

Kondisi fisik merupakan hal yang mudah diperiksa sebelum membeli APAR. Salah satu tips memilih APAR adalah pastikan tabungnya tidak berlubang, tidak mengalami karat yang dapat merusak kondisi tabung, dan tidak menunjukkan kerusakan fisik lainnya.

Selain tabung, perhatikan pula pin atau segel pengaman, tutup kepala, selang, nozzle, dan pressure gauge jika APAR menggunakannya. Jangan memilih unit yang menunjukkan tanda kebocoran, bagian yang retak, selang rusak, atau label penggunaan yang sudah tidak terbaca.

Header DPRD Provinsi Jakarta 10

Ilustrasi APAR yang berada dikantor. FOTO/dok. DPRD Provinsi Jakarta

9. Sesuaikan dengan Lokasi Penggunaan

APAR sebaiknya dipilih berdasarkan karakteristik lokasi dan jenis kebakaran yang mungkin terjadi, bukan menggunakan satu jenis APAR untuk semua tempat.

Sebagai contoh, kebutuhan APAR di dapur dapat berbeda dengan ruangan yang dipenuhi perangkat listrik karena sumber risiko kebakarannya tidak sama. Demikian pula area yang menyimpan bahan bakar atau cairan mudah terbakar tentu butuh APAR yang berbeda dari lokasi rumah atau kantor.

Selain jenis APAR, lokasi pemasangannya juga harus mudah terlihat, mudah dicapai, dan mudah diambil. Untuk ruangan/lokasi yang luas, jarak antara satu APAR dengan APAR lainnya sebaiknya tidak boleh lebih dari 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.

10. Jangan Hanya Melihat Harga

Harga memang menjadi salah satu pertimbangan ketika membeli APAR, tapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas dan kesesuaiannya. Harga APAR sendiri sangatlah beragam, mulai dari Rp100 ribuan hingga jutaan, tergantung jenis dan kapasitasnya.

APAR yang lebih murah belum tentu menjadi pilihan yang tepat jika media pemadamnya tidak sesuai dengan risiko kebakaran, kapasitasnya tidak memadai, atau kondisi tabungnya kurang baik.

Sebaliknya, APAR dengan harga lebih tinggi juga belum tentu diperlukan jika spesifikasinya tidak sesuai dengan kebutuhan lokasi dan risiko kebakaran yang mungkin terjadi.

Sebelum membeli, bandingkan beberapa aspek sekaligus, seperti jenis media pemadam, kapasitas, kemampuan menangani kelas kebakaran tertentu, kondisi fisik perangkat, kelengkapan komponen, standar yang dipenuhi, hingga ketersediaan layanan pemeriksaan dan pengisian ulang.

11. Pastikan Tersedia Layanan Perawatan dan Isi Ulang APAR

APAR bukan produk yang bisa disimpan lama tanpa pemeriksaan berkala. Media pemadam, tekanan, komponen perangkat, dan kondisi tabung perlu diperiksa agar alat tetap dapat berfungsi ketika dibutuhkan.

Saat membeli APAR, jangan ragu untuk bertanya apakah pihak penjual juga menyediakan layanan pemeriksaan dan perawatan setelah pembelian, termasuk jadwal pemeriksaan hingga isi ulang APAR. Memilih penjual/penyedia yang memiliki layanan lengkap tentunya akan lebih praktis.

Demikian tips memilih APAR yang dapat dijadikan panduan sebelum membeli alat pemadam kebakaran. Pastikan APAR yang dipilih memiliki jenis media, kapasitas, dan rating yang sesuai dengan potensi kebakaran di lokasi, serta memenuhi standar keselamatan yang berlaku.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani