Menuju konten utama

Sedia APAR Sebelum Kebakaran

Jakarta memulai program Satu RT Satu APAR demi cegah kebakaran. Program ini direspons positif oleh warga, terutama di wilayah permukiman padat.

Sedia APAR Sebelum Kebakaran
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meninjau dan menginspeksi peralatan penanggulangan kebakaran di lingkungan masyarakat RT 01/RW 01, Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (9/5). (FOTO/Dok. Pemprov DKI Jakarta)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Herudin tak pernah melupakan siang naas itu. Jumat, 27 Juni 2024, api tiba-tiba menjalar cepat di pemukiman padat RT 07 RW 02 Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat. Dalam hitungan menit, wilayah RT yang ia pimpin berubah jadi sarang geni.

Rumah demi rumah hangus terpanggang, sementara warga panik berhamburan keluar gang. Sebagian mencoba menyelamatkan harta, sebagian lain nekat melawan api dengan ember dan alat sekenanya.

“Habis tuh tiga tabung APAR [Alat Pemadam Api Ringan],” kenang Herudin saat dihubungi Tirto sebulan pasca kebakaran yang menghanguskan lebih dari 20 rumah warga (4/8/2025).

Herudin mengisahkan, APAR memainkan peran krusial dalam mencegah api membesar. Saat ini, total ada empat APAR yang tersedia di wilayahnya—meski beberapa di antaranya kosong karena pernah digunakan. Tabung berkelir merah tersebut diterima wilayahnya dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Tak hanya menyalurkan APAR, Pemprov DKI juga memberi edukasi penggunaan alat tersebut, termasuk soal pentingnya pemilihan titik ideal penempatan APAR agar mudah dijangkau.

“Saya taruh APAR di titik-titik yang orang mudah ambil. Dan ditaruh di depan rumah warga yang agak mudaan, bukan lansia. Kalau saya, per titik, saya tempel di rumah warga yang radiusnya 100 meteran,” jelas Herudin.

Kebakaran di Jakarta

Kondisi dalam pemukiman yang hangus terbakar di salah wilayah pemukiman padat penduduk di Jakarta. tirto.id/Andrey Gromico

Cerita serupa datang dari wilayah RW 10 Kelurahan Cengkareng Barat Jakarta Barat. Muhammad, sang Ketua RT, mengaku merasakan manfaat program Satu RT Satu APAR yang dicanangkan Gubernur Pramono Anung. Alat tersebut efektif mencegah kebakaran akibat korsleting listrik di salah satu RT di wilayahnya. Dengan APAR, api dengan mudah dipadamkan sebelum menyebar ke rumah sekitarnya.

“Ada di RT 07, waktu korsleting listrik, karena masih kecil apinya, masih bisa ditangani dengan APAR juga,” kata Muhammad. “[Program Satu RT Satu APAR ini] Sangat membantu untuk tindakan pertama kalau terjadi kebakaran,” lanjutnya.

Kini, tabung APAR yang diberikan Pemprov DKI ia tempatkan di Pos RW dan sejumlah RT di wilayahnya.

“Alhamdulillah, di Pos RW sebagian RT dan warga sudah punya APAR. Ada program juga untuk pembelian APAR, Satu RT Satu APAR,” jelasnya kepada reporter Tirto pada Senin.

Menurut Muhammad, warga di wilayahnya sudah mendapat sosialisasi terkait penggunaan APAR. Ia yakin warganya memiliki kecakapan dalam mengoperasikan alat itu. Ia menyebut, banyak para pelaku usaha di wilayah RW 10 Cengkareng Barat yang sudah memiliki tabung APAR secara mandiri.

“Harapan saya, selain program Satu RT Satu APAR dari pemerintah, warga juga harus punya kesadaran sendiri untuk memiliki APAR di rumah. Agar bisa maksimal, karena satu RT luas juga wilayahnya,” pungkasnya.

APAR Terbukti Efektif

Inspeksi Penangulangan Kebakaran Gubernur DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, didampingi Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Bayu Meghantara, serta Wali Kota Administrasi Jakarta Barat, Uus Kuswanto, meninjau dan menginspeksi peralatan penanggulangan kebakaran di lingkungan masyarakat RT 01/RW 01, Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (9/5). (FOTO/Dok. Pemprov DKI Jakarta)

Satu RT Satu APAR adalah bagian dari Gerakan Masyarakat Punya APAR (GEMPAR) yang telah diamanatkan dalam Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2025. Program itu pertama kali diluncurkan pada saat Gubernur Pramono meninjau peralatan penanggulangan kebakaran di lingkungan masyarakat RT 01/RW 01, Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Jumat (9/5/2025).

"Pada hari ini, saya ingin memberikan apresiasi kepada seluruh warga atas peran aktif dalam mencegah kebakaran. Saya telah menandatangani Ingub Nomor 5 Tahun 2025 tentang GEMPAR,” urainya.

“Ini dilakukan karena kita tahu, di Jakarta ini banyak sekali daerah yang padat penduduk, sehingga ketika terjadi kebakaran, alat pemadam kebakaran yang besar kerap kesulitan masuk ke wilayah tersebut. Untuk itu, kita perlu meningkatkan ketersediaan APAR di lingkungan padat penduduk.”

Ia menjelaskan, program GEMPAR merupakan implementasi Pasal 55 ayat (1) Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran di Provinsi DKI Jakarta. Dalam hal ini, masyarakat harus berperan aktif dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran dini di lingkungannya.

Program GEMPAR juga bertujuan meningkatkan jumlah ketersediaan APAR di lingkungan masyarakat. Pramono menyebut, pada 2025, tercatat sebanyak 598 kebakaran terjadi di Jakarta.

"Dari jumlah itu, 141 kejadian kebakaran dapat diatasi oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan 23 persen kasus kebakaran di Jakarta dapat dipadamkan warga melalui APAR. Saat ini kami mendorong agar setiap RT memiliki APAR. Dengan demikian, ini akan menjadi modal awal yang luar biasa di Jakarta, terutama di daerah padat penduduk, seperti di tempat ini, Tambora, Taman Sari, dan sebagainya," jelas Pramono.

Melalui Ingub ini, Pramono pun mengimbau seluruh ASN di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, pegawai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), RT/RW, kader jumantik, PKK, posyandu, kader dasawisma, karang taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainnya untuk memiliki APAR di rumah masing-masing.

"Selain itu, kita semua harus memantau apabila terjadi kebakaran, sehingga dapat lebih cepat diketahui dan segera dilakukan penanganan. Semoga di lingkungan kita ini dapat tercipta rasa aman dan nyaman dari ancaman bahaya kebakaran dan bencana lainnya," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara, menjelaskan, jumlah kepemilikan APAR di masyarakat telah mencapai kurang lebih 10.668 tabung. Hingga akhir 2025, Bayu memproyeksikan masyarakat di Jakarta setidaknya sudah memiliki 17.698 tabung. Dengan jumlah RT di Jakarta yang mencapai 30.417, maka pada 2029 diharapkan semua RT di Jakarta sudah punya APAR.

Menurut Bayu, efektivitas penggunaan APAR bisa dibaca dari data pencegahan kebakaran oleh masyarakat. Ia menguraikan, dari 1.014 insiden kebakaran yang terjadi di Jakarta hingga 1 Agustus 2025, sebanyak 20,5 persen berhasil ditangani oleh masyarakat, salah satunya melalui penggunaan APAR.

“Ini menunjukan efektivitas APAR dalam memadamkan kebakaran,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Hendra Friana