Menuju konten utama

Lika-liku Profesi dan Harapan di Balik Seragam Petugas Damkar

Di balik keramahan dan respons cepatnya, personel Damkar berharap kondisi kerjanya ke depan bisa lebih baik.

Lika-liku Profesi dan Harapan di Balik Seragam Petugas Damkar
Seorang petugas dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta di Pos Damkar Jagakarsa, Jakarta Selatan. FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jam dua siang, Kamis (13/8/2026), saya tiba di Pos Damkar Jagakarsa, Jakarta Selatan. Beberapa petugas duduk santai di meja luar kantor. Mereka baru saja pulang dari operasi penyelamatan seorang warga yang terjebak di dalam kamar.

Kedatangan saya diterima tanpa jarak. Obrolan mengalir dua arah, akrab, dan sesekali diselingi tawa. Mereka bergantian bercerita soal pekerjaannya, termasuk Rafli (24) yang kemudian mengajak saya berkeliling melihat kendaraan dan perlengkapan pemadam kebakaran.

Dari meja itu, juga mengalir cerita bahwa Damkar kini tak cuma harus sigap mengatasi si jago merah. Mereka kini juga akrab dengan kucing terjebak di selokan, ular masuk rumah, tawon bersarang, atau anak-anak yang kepalanya tersangkut benda.

Di tengah perluasan fungsi itu, Damkar belakangan kerap curi perhatian di media sosial. Petugas dipuji karena cepat merespons laporan dan tetap ramah ketika membantu warga apa pun masalahnya.

Ketika Damkar Jadi Rujukan Pertama Meminta Bantuan

Ardyansyah Rifai (36) telah menjadi petugas Damkar sejak 2011. Selama 15 tahun bekerja, dia mengamati jenis laporan yang diterima Damkar berkembang. Laporan kebakaran makin hari bukan lagi yang paling dominan.

"Untuk saat ini, pemadam lebih banyak di penyelamatan. Tapi, untuk musim kemarau ini penyelamatan dan pemadaman hampir seimbang. Ada aja sih kebakaran," kata Ardyansyah, Kamis (13/8/2026).

Tugas utama personel Damkar pada dasarnya adalah melakukan pencegahan, pemadaman, dan penyelamatan. Fungsi tersebut diatur dalam Permendagri Nomor 114 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub Urusan Kebakaran Daerah Kabupaten/Kota.

Dua tahun kemudian, Permendagri Nomor 16 Tahun 2020 mengubah nomenklatur kelembagaan menjadi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Perkembangan regulasi tersebut pun turut mengubah wajah pekerjaan petugas Damkar di lapangan.

Di Pos Damkar Jagakarsa, misalnya, tugas penyelamatan bisa dimulai dari persoalan yang bagi sebagian orang tampak sepele, seperti mengevakuasi hewan liar yang masuk ke rumah. Musang, ular, biawak, tawon, dan lebah termasuk hewan yang pernah dievakuasi.

Kasus kucing yang tercebur ke sumur juga cukup menjadi urgensi petugas Damkar untuk bergerak.

Meluasnya jenis laporan yang diterima pada akhirnya juga memengaruhi pola hubungan antara Damkar dan warga. Damkar tidak lagi semata-mata dipanggil ketika keadaan sudah sangat genting dalam kasus kebakaran. Sekarang, mereka dipanggil sejak seseorang merasa tidak mampu menyelesaikan situasi darurat sendiri.

Media sosial pun ikut mempercepat perubahan itu.

Bagi Ardyansyah, semakin sering masyarakat melihat video penyelamatan Damkar, semakin luas pula bayangan mereka tentang apa yang dapat dilakukan petugas.

"Hal-hal yang mereka bisa lakukan, tapi karena terbiasa melihat sosmed mungkin ya. Pemadam wah bisa semuanya nih. Apa-apa lapor pemadam," katanya.

Damkar Jagakarsa

Seorang petugas dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta di Pos Damkar Jagakarsa, Jakarta Selatan. FOTO/Khaila Adinda

Kepercayaan publik merupakan modal penting bagi sebuah layanan. Warga yang tahu nomor Damkar dan tidak ragu menelepon ketika menghadapi keadaan genting tentu memudahkan pertolongan. Namun, kepercayaan yang sama juga dapat membuat batas pekerjaan Damkar menjadi semakin kabur.

Ada laporan kasus yang memang termasuk dalam cakupan tugas mereka, tapi ada pula laporan yang semestinya menjadi kewenangan instansi lain. Meski begitu, petugas Damkar pantang untuk melayani laporan yang masuk.

"Insyaallah kami terbuka. Apa pun itu bentuknya kami terbuka, kami bantu semaksimal mungkin. Apabila ada kendala atau yang lainnya, ya kami berikan edukasi ke masyarakat atau si pelapor," ujar Ardyansyah.

Menurutnya, alasan warga memilih Damkar pada dasarnya sederhana: mudah dihubungi dan cepat dalam merespons aduan.

"Kalau menurut saya pribadi sih berpikir karena laporan di pemadam itu mudah. Pertama mudah, kedua kami langsung merespons, respons kami cepat," katanya.

Bagi Ardyansyah, ada prinsip yang membuat mereka memilih untuk tetap membantu.

"Di sini, kami hati nurani ya yang bermain. Yang berkata, ‘Ya udah tugas gue nolong.’ Apa pun aduan dari masyarakat, insyaallah bisa kalau kita mau," katanya.

Harus Siap dengan Ragam Risiko

Kecepatan respons yang membuahkan apresiasi tinggi warga pada Damkar ternyata juga punya “harga”. Petugas Damkar harus siap bergerak kapan pun panggilan masuk. Risiko bahkan dimulai sebelum mereka tiba di lokasi.

"Kami berjalan dari sektor ini ke tempat TKP itu, baru keluar mobil aja, udah risiko. Enggak tahu di depan tahu-tahu ada motor apa, udah risiko," kata Ardyansyah.

Sesampainya di lokasi, risikonya bertambah. Mereka dapat berhadapan dengan api, asap, bangunan yang tidak stabil, hewan liar, arus air, atau benda-benda berbahaya yang tidak terlihat dari luar.

Saat saya berkunjung ke Pos Damkar Jagakarsa, Rafli mengajak saya melihat langsung peralatan yang mereka gunakan. Satu per satu dia menjelaskan fungsinya, mulai dari selang, blower, pipa cabang, hingga nozzle yang menjadi ujung selang untuk menyemprotkan air.

"Karena tekanannya yang bikin orang terpental," ujar Rafly.

Serbaneka peralatan itu cukup memberi wawasan bahwa pekerjaan pemadam bukan sekadar soal datang ke lokasi lalu menyemprotkan air. Setiap alat punya fungsi dan cara penggunaan sendiri. Masalahnya, alat yang tersedia belum tentu selalu dalam kondisi baik.

Adam (28) bercerita tentang pengalamannya menggunakan pipa cabang. Alat yang berfungsi membagi aliran air itu pernah pecah sampai tiga buah dalam satu kali pemadaman. Saat itu, kebakaran bahkan belum berlangsung satu jam.

Damkar Jagakarsa

Kompartemen penyimpanan selang pemadam kebakaran di kendaraan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta di Pos Damkar Jagakarsa, Jakarta Selatan. FOTO/Khaila Adinda

"Mungkin kalau peralatannya cukup nih secara fungsi, secara jumlah, secara penggunaannya udah bagus, udah cukup. Tapi, kualitasnya aja sih kurang bagus," katanya.

Persoalan serupa terjadi pada selang. Menurut Adam, beberapa selang bisa bocor bahkan sebelum tekanan air mencapai batas maksimal.

"Belum sampai tekanan maksimalnya pun selangnya udah pecah, udah bocor," ujarnya.

Di tengah kondisi darurat kebakaran, kerusakan-kerusakan alat sekecil apa pun amatlah krusial. Waktu yang semestinya bisa dimanfaatkan secara efektif jadi terbuang hanya untuk mengganti peralatan rusak.

"Kami udah siap banget, udah siap banget nyerang, ternyata peralatannya kurang bagus," kata Adam.

Selain itu, jumlah personel Damkar juga turut menjadi tantangan. Ardyansyah mengatakan satu unit pemadam idealnya diisi enam orang. Namun, di Pos Damkar Jagakarsa, beberapa unit hanya diisi tiga atau empat personel.

"Kalau dibilang kurang anggota, ya kami masih kekurangan anggota," katanya.

Kekurangan personel itu paling terasa ketika proses pemadaman berlangsung lama. Adam mengatakan petugas bisa berada di lokasi selama lebih dari dua jam. Dalam kondisi seperti itu, pergantian personel menjadi penting agar tidak semua petugas kehabisan tenaga pada waktu bersamaan.

Masalahnya, jumlah orang yang tersedia tidak selalu memungkinkan.

"Di depan udah capek, udah kehabisan tenaga, tapi enggak ada pergantian pemain," ujar Adam.

"Harusnya kan pada saat melakukan operasi pemadaman kebakaran itu kalau capek enggak semuanya capek," tambahnya.

Harapan tentang Kesejahteraan

Kekurangan tenaga di Pos Damkar Jagakarsa tidak lepas dari siapa yang sebenarnya berada di garis depan ketika operasi berlangsung. Menurut Ardyansyah, personel berstatus PJLP (Penyedia Jasa Lainnya Perorangan) mayoritas menjadi "pasukan" yang bergerak langsung dalam pemadaman dan penyelamatan, sementara sejumlah ASN lebih banyak menjalankan fungsi sebagai komandan regu.

"PJLP-PJLP ini semuanya rata-rata pasukan. Akhirnya, saat kebakaran maupun penyelamatan, merekalah yang ada di depan, yang bergerak di depan," kata Ardyansyah.

Karena itu, Ardyansyah berharap kesejahteraan timnya ditingkatkan dan personel honorer segera diangkat agar setara dengan rekan-rekan yang sudah berstatus ASN.

"Cita-cita ke depan yang pasti enggak munafik, kesejahteraan untuk tim Damkar ini ditingkatkan," ujarnya.

"Saya mau anggota-anggota kami yang masih honorer segera diangkat, biar mereka dapat kesetaraan juga sama seperti kami yang udah ASN,” tambah dirinya sembari menatap satu persatu kawannya dengan senyum.

Pekerjaan Damkar pun tak selesai begitu api padam. Ada pengalaman yang ikut dibawa pulang. Adam masih mengingat satu operasi ketika timnya mengetahui ada korban di dalam bangunan, tapi tidak segera menemukannya.

Korban ternyata berada tepat di bawah pintu yang menjadi jalur keluar-masuk mereka selama proses pemadaman.

"Kami tanpa sadar itu korban kami injak-injak, mondar-mandir," katanya bercerita.

Kesadaran bahwa mereka berulang kali melintasi korban tanpa mengetahuinya menjadi pengalaman yang membekas dan mengganggu secara psikologis. Sayangnya, untuk persoalan semacam itu, dukungan psikologis dari instansi belum tersedia.

"Kalau dukungan psikologis dari luar sih enggak ada, belum sih," ujar Adam.

Penopang psikologis para personel Damkar pada akhirnya adalah rekan-rekan sesama personel.

"Yang paling utama menghibur kami biar enggak stres, biar enggak ada trauma, ya teman-teman kita sendiri," kata Adam lagi.

Candaan di antara orang-orang yang sama-sama tahu apa yang terjadi di lapangan menjadi salah satu cara mengurai ketegangan.

Mungkin karena itulah Damkar tetap dipercaya. Bukan sebab mereka selalu punya jawaban untuk setiap persoalan, melainkan karena ketika warga menelepon dalam kepanikan, selalu ada seseorang yang bersedia datang.

“Namanya kami pelayanan masyarakat. Masyarakat udah bayar pajak. Kami (digaji) dari pajak, dari masyarakat untuk masyarakat,” kata Ardyansyah.

Baca juga artikel terkait PETUGAS DAMKAR atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - News Plus
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Fadrik Aziz Firdausi