tirto.id - Kereta Commuter Line baru saja meninggalkan Stasiun Karet ketika saya melangkah keluar menuju Jalan KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat. Di seberang jalan, berdiri pagar yang melebar panjang.
Di tengah pagar yang melebar panjang terdapat sebuah gerbang dengan dua monumen menjulang bak layar kapal. Tulisan TPU Karet Bivak terpampang besar di sisi kanan pintu masuk.
Dari luar, tempat ini tidak terlihat seperti pemakaman yang menjadi salah satu yang tersibuk di Jakarta. Lalu lintas di depan gerbang tetap padat, suara klakson bersahut-sahutan, sementara di balik pagar, suasana berubah menjadi jauh lebih tenang.
Saya menyeberangi jalan menuju gerbang utama. Beberapa mobil pelayat masuk bergantian. Di sisi lain, petugas keamanan mengatur kendaraan yang keluar dan masuk. Langkah saya kemudian mengikuti jalan utama yang membelah ribuan makam. Pohon-pohon besar dan rindang menaungi hampir seluruh kawasan, membuat udara terasa lebih sejuk dibanding hiruk-pikuk ibu kota di luar pagar.
Semakin saya berjalan masuk gerbang utama, semakin banyak nisan yang terlihat disisi kanan dan kiri. Susunannya rapi, memenuhi hampir seluruh bidang tanah.
Di tengah hamparan makam itulah berdiri kantor pengelola TPU Karet Bivak.
Bangunan bercat oranye itu terlihat sederhana. Ruang pelayanan menghadap langsung ke jalan utama, lengkap dengan loket administrasi yang setiap hari melayani berbagai kebutuhan mengenai pemakaman bagi masyarakat.
Di sinilah seluruh administrasi pemakaman diatur, termasuk persoalan yang belakangan semakin sering ditemui, makam tumpang.
Rizky Septia Hadi (40), Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) TPU Karet Bivak Zona 1, menjelaskan bahwa sistem makam tumpang diterapkan karena TPU Karet Bivak sudah tidak lagi memiliki petak makam baru.
Sebelum proses pemakaman dilakukan, ada tahapan administrasi yang harus dilakukan ahli waris agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari. Setelah seluruh dokumen dinyatakan lengkap, barulah petugas dapat memproses penggalian makam.
"Prosesnya ahli waris mendaftarkan ke TPU untuk pemakaman tumpang dengan membawa fotokopi KTP ahli waris, fotokopi KTP almarhum, surat IPTM asli yang akan ditumpang, surat keterangan kematian dari rumah sakit atau puskesmas, serta akta kematian dari kelurahan. Setelah datang ke kantor TPU, baru kammi proses penggaliannya," ujar Rizky, dalam wawancara di Gedung Pengelola TPU Karet Bivak, Jumat (17/7/2026).
Tak berhenti pada kelengkapan berkas, pihak pengelola juga memastikan bahwa seluruh keluarga memahami dan menyetujui proses pemakaman tumpang yang akan dilakukan.
"Nanti kami juga memberikan surat pernyataan kesediaan untuk pemakaman tumpang kepada ahli waris. Di situ ada pernyataan bahwa mereka bersedia makam ditumpang, sekaligus surat bahwa proses pemakaman ini tidak dipungut biaya," kata Rizky.
Setelah administrasi selesai, pekerjaan beralih kepada para penggali kubur.

Saya berbicara kepada Kasatpel tersebut apakah bisa bertemu dengan penggali kubur untuk berbincang lebih dalam bagaimana proses tumpang ini, Kasatpel tersebut menyetujuinya. Lalu, tak lama dari situ, dari kejauhan terlihat petugas dengan tanah merah yang menghiasi seluruh bajunya seperti baru selesai melakukan pekerjaannya, menggali kubur.
Muhammad Jayaputra (40), penggali kubur, ia sudah 10 tahun di TPU karet Bivak. Ia bercerita sehari maksimal menggali 5 makam.
Jayaputra menjelaskan menggali makam tumpang membutuhkan ketelitian yang jauh lebih tinggi dibandingkan menggali liang makam baru. Tanah yang sudah pernah digali memang lebih gembur sehingga pekerjaan terasa lebih ringan. Namun, justru di situlah tantangannya.
"Kalau makam tumpang tanahnya lebih gembur, enggak keras, terus lubangnya juga enggak terlalu dalam. Beda sama lahan baru, tanahnya lebih keras dan galiannya lebih dalam," kata Jayaputra.
Ketika cangkul mulai mendekati posisi jenazah yang telah lebih dahulu dimakamkan, pekerjaan berubah menjadi jauh lebih pelan. Tidak ada lagi ayunan cangkul yang kuat. Semua dilakukan dengan perkiraan dan pengalaman.
"Kalau sudah mendekati jenazah, sekitar dua sampai tiga sentimeter, kami sudah berhenti. Jangan sampai kena jenazahnya," tutur Jayaputra.
Saya membayangkan betapa tipisnya batas antara tanah yang masih bisa digali dan ruang yang harus dihormati. Beberapa sentimeter menjadi penentu agar proses pemakaman berlangsung tanpa merusak sisa kerangka yang ada di bawahnya.
Jika kerangka jenazah mulai terlihat, Jayaputra mengaku tidak melakukan banyak hal. Baginya, tugas mereka bukan memindahkan ataupun memperlakukan jenazah secara sembarangan.
"Kalau menemukan kerangka ya kami rapikan saja, enggak macam-macam," katanya singkat.
Setelah berbincang dengan cukup serius, saya bertanya dari sekian banyak pengalaman selama hampir satu dekade menjadi penggali kubur, apa yang paling berat baginya.
Bapak Jayaputra tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Yang paling berat itu kalau hujan. Selain itu enggak,” ucapnya.

Jawaban itu terdengar singkat, tetapi menyimpan makna yang panjang. Para petugas harus menjaga profesionalitas di tengah pekerjaan yang setiap hari bersinggungan dengan kematian. Mereka tidak hanya memindahkan tanah, melainkan juga menjaga kepercayaan keluarga yang menitipkan tempat peristirahatan terakhir orang-orang tercinta.
Saat meninggalkan TPU Karet Bivak sore itu, saya kembali melewati jalan utama menuju gerbang. Di luar pagar, kendaraan melaju tanpa henti menuju pusat kota. Sementara di balik kanan dan kiri gedung pepohonan rindang menutipi para pelayat yang tengah berdoa dan membersihkan makam keluarga mereka.
Hal ini membuat saya tersadar, bahwa setiap liang bukan hanya menyimpan kisah orang yang telah pergi, tetapi juga kerja sunyi para petugas yang setiap hari memadatkan ruang, agar kota yang terus bertumbuh tetap memiliki tempat untuk mengantarkan warganya ke peristirahatan terakhir.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





























