Menuju konten utama

Terbang Tinggi Harga Tiket Pesawat Dalam Negeri

Penelusuran Tirto menunjukkan paradoks harga tiket: terbang ke beberapa kota di Indonesia lebih mahal daripada ke Malaysia hingga Jepang.

Terbang Tinggi Harga Tiket Pesawat Dalam Negeri
Header Decode Di Balik Mahalnya Tiket Pesawat. foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Niat Ryana Aryadita (30) untuk pulang kampung ke Maluku Utara tahun ini akhirnya harus dikubur. Bukan karena tak ada waktu cuti atau kesibukan pekerjaan di Jakarta, melainkan karena harga tiket pesawat yang melambung.

Perempuan yang akrab disapa Dita itu menghitung, ongkos penerbangan dari Jakarta menuju kampung halamannya kini berkisar Rp3,5 juta sekali jalan. Artinya, untuk perjalanan pulang-pergi ia harus menyiapkan dana sekitar Rp7 juta. Padahal, belum lama berselang, tiket pada rute yang sama masih bisa diperoleh di kisaran Rp2 juta.

"Kayaknya pulang kampung ditunda sampai tahun depan. Entah nanti tiketnya bakal turun atau enggak, tapi setidaknya saya punya waktu lebih banyak buat nabung. Sekarang pulang-pergi bisa Rp7 jutaan. Kalaupun beli jauh-jauh hari, tetap sekitar Rp6 jutaan," kata Dita kepada Tirto, Selasa (30/6/2026).

Lonjakan harga tiket itu tak hanya mengubur rencana mudiknya. Dita juga mengaku kehilangan peluang bisnis yang sudah dipersiapkannya berbulan-bulan. Sejak awal tahun, ia berencana membuka jasa open trip ke kampung halamannya di Ternate dan Pulau Morotai. Itinerary perjalanan sudah disusun, materi promosi telah disebarkan melalui media sosial, bahkan empat hingga lima peserta telah mengamankan slot keberangkatan.

Namun sekitar akhir Mei 2026, harga tiket pesawat melonjak tajam. Seluruh rencana itu pun buyar "Nah, waktu itu saya buka open trip ke kampung saya di Ternate dan Morotai. Yang booking sudah ada empat sampai lima orang. Akhirnya enggak jadi, ditunda," ujarnya.

Kini, seluruh perjalanan tersebut diundur ke tahun depan dengan harapan harga tiket kembali lebih masuk akal. Keputusan itu, menurut Dita, membuatnya menanggung potensi kerugian hingga puluhan juta rupiah.

"Itu saya tawarkan lagi tahun depan kalau harga tiketnya sudah lebih worth it, lebih terjangkau. Kalau dihitung, kerugiannya mungkin sampai puluhan juta," ujarnya.

Liburan Lebaran di Pantai Jikomalamo Ternate

Foto udara pengunjung bermain Banana Boat di Pantai Jikomalamo Ternate, Maluku Utara, Senin (23/3/2026). Objek Wisata Pantai Jikomalamo yang menyediakan sejumlah wahana banana boat tersebut menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga Ternate dan daerah lain dengan menargetkan jumlah kunjungan mencapai 600 wisatawan per hari terutama saat libur Lebaran 2026 yang diharapkan mampu mendongkrak pendapatan pariwisata di daerah itu. ANTARA FOTO/ Andri Saputra/foc.

Di tengah kekecewaannya, Dita justru menemukan ironi lain. Saat mencari tiket penerbangan beberapa waktu lalu, ia mendapati ongkos terbang ke luar negeri justru lebih murah dibanding sejumlah rute domestik.

Ia sempat menemukan tiket Jakarta-Seoul maupun Jakarta-Tokyo di kisaran Rp1,4 juta hingga Rp1,5 juta. Saat ada travel fair atau promo maskapai, harga itu bahkan bisa turun hingga sekitar Rp1,3 juta.

"Bahkan ada promo biasanya Rp1,3 juta. Belum lagi ke Malaysia, Singapura, itu juga ada yang Rp1 juta-an. Nah, sementara harga di dalam negeri, kayak ke Lombok, itu Rp1,4 juta-Rp1,5 juta, which means itu [seperti] harga ke Korea atau Jepang," tuturnya.

Perbandingan itu membuat Dita mulai berpikir ulang ketika hendak merencanakan liburan. Dari sisi ongkos transportasi, bepergian ke luar negeri justru terasa lebih masuk akal dibanding menjelajahi destinasi wisata di dalam negeri. Ia mencontohkan harga tiket menuju Nusa Tenggara Timur yang kini mencapai sekitar Rp2,5 juta, naik jauh dibanding sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp1,4 juta.

"Jadinya, mikir kalau apa next liburan ke luar negeri lagi ya, karena harganya enggak masuk akal. Kayak misal saya mau ke NTT, yang jadinya cuma Rp1,4 juta, sekarang Rp2,5 juta. Sementara, Februari lalu ke Jepang dapat di harga Rp1,4 juta-an," urainya.

Untuk perjalanan antarkota di Pulau Jawa, Dita kini memilih meninggalkan pesawat dan beralih menggunakan kereta api atau bus yang dinilainya jauh lebih ramah di kantong.

"Kalau masih di Jawa saya lebih pilih naik kereta atau bus. Tapi kalau ke luar Jawa, ya mau enggak mau harus nabung lebih keras karena harga tiketnya sudah melonjak."

Pemerintah izinkan harga tiket pesawat naik terbatas

Pekerja menarik selang usai melakukan pengisian bahan bakar avtur ke sebuah pesawat komersil di Terminal 1 C Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (7/4/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/sgd

Keluhan serupa datang dari Ian Setiawan (30). Pekerja swasta itu mengaku harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar dari anggaran awal ketika melakukan perjalanan dinas ke Manado. Sekitar Maret hingga April 2026, Ian sempat memantau harga tiket Jakarta-Manado untuk keberangkatan akhir Juni. Saat itu tarifnya masih berkisar Rp2,5 juta hingga Rp2,8 juta. Karena masih menunggu kepastian jadwal dari rekan kerja, ia memutuskan menunda pembelian tiket.

Keputusan itu justru berujung penyesalan. Ketika akhirnya memesan tiket, harga penerbangan yang sama sudah melonjak menjadi sekitar Rp3,4 juta. Tiket kepulangan dari Manado ke Jakarta bahkan lebih mahal lagi, menyentuh Rp3,5 juta.

"Saya pernah cek Maret-April masih sekitar Rp2,8 juta sampai Rp3 juta. Pas beli ternyata sudah Rp3,4 juta. Karena memang ada kebutuhan kerja, ya tetap berangkat. Cuma pengeluarannya jadi jauh lebih besar dari yang saya anggarkan," ujarnya.

Berbeda dengan perjalanan di Pulau Jawa, Ian tak memiliki banyak pilihan moda transportasi menuju Manado. Waktu perjalanan yang terbatas membuat pesawat menjadi satu-satunya opsi yang realistis.

Yang bisa ia lakukan hanyalah terus memantau berbagai maskapai demi mendapatkan tarif paling murah. Meski begitu, ia tetap memperkirakan harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp500 ribu hingga Rp900 ribu dibanding rencana awal.

"Jadinya mengakali cari tiket yang lebih murah saja. Kerugiannya paling kira-kira sekitar Rp500 ribu-Rp900 ribu," tuturnya.

Pengalaman itu semakin membuat Ian bertanya-tanya mengapa tiket penerbangan domestik justru bisa lebih mahal dibanding penerbangan internasional. Pada Mei lalu, ia terbang ke Thailand dengan harga tiket sekitar Rp1,5 juta—jauh lebih murah dibanding biaya menuju Manado.

"Yang saya pertanyakan, kenapa penerbangan internasional bisa lebih murah? Padahal penumpang juga bayar departure tax. Sementara domestik enggak ada biaya itu, tapi tiketnya malah lebih mahal. Buat saya itu cukup aneh," ujarnya.

PEMERINTAH IZINKAN MASKAPAI NAIKKAN HARGA TIKET

Calon penumpang melihat jadwal penerbangan lewat layar elektronik di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (8/8/2022). \ (Avtur). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.

Saat Relawan Bencana Harus Transit di Malaysia

Keluhan mengenai mahalnya harga tiket pesawat domestik sejatinya bukan fenomena baru. Jauh sebelum lonjakan tarif yang terjadi belakangan ini, persoalan serupa sudah berulang kali menjadi sorotan pemerintah.

Fenomena mahalnya tiket pesawat domestik ternyata tidak hanya dikeluhkan masyarakat. Pengalaman serupa bahkan pernah disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menjelaskan proses pengiriman relawan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra pada akhir 2025.

Kala itu, relawan Kemenkes sempat viral di media sosial karena terlihat datang dari Malaysia. Banyak yang mengira mereka merupakan relawan asing. Belakangan, Budi menjelaskan bahwa para relawan memang sengaja diterbangkan melalui Kuala Lumpur sebelum menuju Medan atau Aceh. Alasannya sederhana: penerbangan langsung Jakarta-Medan saat itu penuh dan harga tiketnya jauh lebih mahal.

"Sempat viral karena dibilang pakai baju biru datangnya pakai dari Malaysia. 'Wah ini relawan Malaysia datang akhirnya.' Bukan, itu relawan Kemenkes dikirim lewat Malaysia. Kenapa? Karena pesawat Jakarta-Medan penuh dan harganya jadi mahal," kata Budi dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Menurut Budi, memutar rute melalui Kuala Lumpur justru memberikan lebih banyak pilihan penerbangan dengan harga yang lebih murah dibandingkan terbang langsung dari Jakarta ke Medan.

"Akhirnya kita belokin dulu relawan kita berangkatnya ke Kuala Lumpur, Kuala Lumpur masuk ke Medan atau masuk ke Aceh karena bisa jauh lebih ada opsinya dan bisa lebih murah. Jadi akhirnya kita lakukan seperti itu, makanya sempat viral pakai baju biru," tuturnya.

Pada tahun 2024, ketika masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bahkan mengakui bahwa tarif penerbangan di Indonesia tergolong paling mahal di kawasan Asia Tenggara. Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk besar, harga tiket pesawat domestik Indonesia disebut menjadi yang termahal kedua di dunia setelah Brasil.

Saat itu, Luhut mengatakan tingginya harga tiket merupakan konsekuensi dari pulihnya industri penerbangan global pascapandemi COVID-19. Aktivitas penerbangan yang kembali meningkat membuat permintaan melonjak, sementara kapasitas industri belum sepenuhnya pulih.

Mengacu pada data International Air Transport Association (IATA), jumlah penumpang pesawat dunia pada 2024 diperkirakan mencapai 4,7 miliar orang atau sekitar 200 juta penumpang lebih banyak dibandingkan periode sebelum pandemi pada 2019.

Dalam konteks tersebut, Indonesia justru menghadapi persoalan lain. Di tengah pemulihan industri penerbangan global, tarif penerbangan domestik di Tanah Air masih berada pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN.

"Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN dan negara berpenduduk tinggi, harga tiket penerbangan Indonesia jadi yang termahal kedua setelah Brasil," kata Luhut dalam unggahan di akun Instagram @luhut.pandjaitan, Kamis (11/7/2024).

Menelusuri Harga Tiket Pesawat

Keluhan masyarakat bahwa terbang ke luar negeri kini terasa lebih murah dibandingkan bepergian antarkota di Indonesia bukan sekadar persepsi. Tirto mencoba mengujinya melalui simulasi pencarian tiket menggunakan sejumlah online travel agent (OTA), yakni Traveloka, Tiket.com, Trip.com, serta Google Flights.

Simulasi dilakukan dengan memesan tiket sekitar sepekan sebelum keberangkatan agar harga yang muncul tidak dipengaruhi lonjakan tarif akibat pembelian mendadak. Rute pertama yang dibandingkan adalah Jakarta (Soekarno-Hatta/CGK) menuju Medan (Kualanamu) untuk keberangkatan 7 Juli 2026.

Rute ini dipilih karena menjadi salah satu jalur domestik paling sibuk di Indonesia. Jarak tempuhnya sekitar 1.414 kilometer dengan waktu penerbangan rata-rata dua jam 20 menit. Hasil penelusuran menunjukkan, harga tiket langsung Jakarta-Medan melalui Traveloka dibanderol mulai Rp1.874.900 hingga Rp3.145.035. Sementara Google Flights merangkum harga termurah pada hari yang sama sebesar Rp1.840.189.

Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan penerbangan Jakarta (CGK)-Kuala Lumpur (KLIA) pada tanggal yang sama. Kuala Lumpur dipilih bukan tanpa alasan. Dari sisi jarak maupun durasi penerbangan, rute tersebut relatif sebanding dengan Jakarta-Medan. Jarak Jakarta-Kuala Lumpur sekitar 1.180 kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam menggunakan penerbangan langsung.

Namun hasilnya justru menunjukkan paradoks. Di Traveloka, tiket termurah menuju Kuala Lumpur hanya Rp1.002.300. Google Flights bahkan menampilkan harga yang lebih rendah lagi, yakni Rp946.219. Pada tanggal tersebut tersedia sedikitnya 19 penerbangan dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Dengan kata lain, untuk waktu tempuh yang hampir sama, biaya terbang ke luar negeri justru lebih murah dibandingkan menuju salah satu kota terbesar di Indonesia.

Perbandingan berikutnya dilakukan pada rute jarak jauh. Tirto membandingkan harga tiket Jakarta-Jayapura dengan penerbangan menuju Perth, Australia, dan Tokyo, Jepang. Jakarta-Jayapura memiliki jarak sekitar 3.750 kilometer dengan waktu penerbangan langsung berkisar lima hingga tujuh jam. Sementara Jakarta-Perth berjarak sekitar 3.000 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat jam. Adapun Jakarta-Tokyo memang lebih jauh, sekitar 5.800 kilometer.

Meski demikian, harga tiketnya tidak selalu lebih mahal. Pada tanggal yang sama, tiket termurah menuju Jayapura tercatat sebesar Rp5.249.200 untuk penerbangan langsung tanpa transit. Sebaliknya, tiket menuju Perth tersedia mulai Rp4.072.800 untuk penerbangan langsung. Bahkan tiket menuju Tokyo-Narita bisa ditemukan mulai Rp3.331.800, meski harus transit satu kali.

Penelusuran Tirto pada tanggal berbeda, yakni untuk keberangkatan 6 Juli 2026, memperlihatkan pola serupa. Di Traveloka, harga tiket Jakarta-Surabaya berkisar Rp1,18 juta hingga Rp2,29 juta. Jakarta-Bali mulai Rp1,51 juta, Jakarta-Lombok sekitar Rp1,6 juta, Jakarta-Aceh mulai Rp2,52 juta, Jakarta-Ambon sekitar Rp2,95 juta, sedangkan Jakarta-Jayapura menembus Rp5,22 juta.

Hasil pencarian melalui Tiket.com tidak jauh berbeda. Harga tiket Jakarta-Surabaya berada di kisaran Rp1,18 juta, Jakarta-Bali mulai Rp1,49 juta, Jakarta-Lombok sekitar Rp1,61 juta, sementara Jakarta-Jayapura tetap berada di atas Rp5,2 juta. Sebaliknya, untuk rute internasional, Traveloka mencatat tiket Jakarta-Kuala Lumpur mulai Rp1,25 juta, Jakarta-Singapura Rp1,83 juta, Jakarta-Bangkok Rp2,65 juta, Jakarta-Seoul mulai Rp3,02 juta (dengan satu kali transit), dan Jakarta-Narita sekitar Rp4,06 juta.

Data dari Tiket.com maupun Trip.com juga memperlihatkan pola yang serupa. Tiket menuju Kuala Lumpur masih berada di kisaran Rp1,2 juta, Singapura sekitar Rp1,8 juta, Bangkok sekitar Rp2,6 juta, Seoul sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3,2 juta, sedangkan penerbangan menuju Tokyo dapat ditemukan mulai Rp4 jutaan tergantung maskapai dan jumlah transit.

Perbandingan tidak berhenti di situ. Tirto juga menelusuri harga penerbangan domestik di negara tetangga, Malaysia, untuk melihat apakah fenomena tiket domestik yang mahal juga terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Hasilnya menunjukkan pola yang berbeda. Untuk keberangkatan pada Selasa, 7 Juli 2026, Google Flights merangkum harga tiket termurah rute domestik Kuala Lumpur (KLIA) menuju Johor Bahru (JHB) sebesar sekitar Rp513.070. Rute tersebut memiliki jarak penerbangan sekitar 250 hingga 275 kilometer dengan waktu tempuh rata-rata hanya 50 menit hingga satu jam menggunakan penerbangan langsung.

Meski jarak dan durasinya lebih pendek dibandingkan sejumlah rute domestik di Indonesia, tarif tersebut tetap memberi gambaran mengenai tingkat keterjangkauan penerbangan domestik di Malaysia. Sebagai perbandingan, untuk rute-rute domestik di Indonesia dengan durasi penerbangan sekitar satu hingga dua jam, harga tiket umumnya masih berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp1,8 juta, bahkan dapat menembus lebih dari Rp2 juta pada waktu-waktu tertentu.

Sebagai catatan, perbandingan ini memang tidak sepenuhnya bersifat apple to apple. Struktur biaya operasional, besaran pajak, subsidi, tingkat persaingan maskapai, hingga kebijakan masing-masing negara berbeda-beda. Namun, temuan tersebut memperlihatkan bahwa tarif penerbangan domestik di Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, sejalan dengan keluhan yang selama ini disampaikan masyarakat maupun diakui pemerintah.

Bandara Malaysia

bandara malaysia. foto/shutterstock

Penumpang Domestik Mulai Berkurang

Fenomena mahalnya tiket pesawat domestik tampaknya mulai tercermin pada pergerakan jumlah penumpang. Laporan akhir tahun 2025 Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menunjukkan industri penerbangan nasional belum sepenuhnya pulih ke tingkat sebelum pandemi. Pemulihan justru berjalan timpang antara penerbangan domestik dan internasional.

Selama Januari hingga September 2025, jumlah penumpang domestik tercatat hanya 46,7 juta orang atau sekitar 71 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 65,8 juta penumpang.

INACA memperkirakan hingga akhir 2025 jumlah penumpang domestik hanya mencapai sekitar 61,2 juta orang atau sekitar 93 persen dari capaian 2024. Jika dibandingkan kondisi sebelum pandemi pada 2019 yang mencapai 79,5 juta penumpang, tingkat pemulihannya baru sekitar 77 persen.

Kondisi berbeda justru terjadi pada penerbangan internasional. Setelah sempat terpuruk akibat pembatasan perjalanan selama pandemi COVID-19, jumlah penumpang internasional terus meningkat. Pada 2022, jumlahnya tercatat sekitar 12,5 juta penumpang. Angka itu melonjak menjadi 29,1 juta pada 2023 dan kembali meningkat menjadi sekitar 36 juta penumpang pada 2024.

Tren serupa juga tergambar dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada April 2026, jumlah penumpang angkutan udara domestik turun 18,72 persen menjadi sekitar 4,6 juta orang dibanding bulan sebelumnya. Sebaliknya, jumlah penumpang internasional masih tumbuh 0,93 persen menjadi sekitar 1,6 juta orang.

Dalam periode lima tahun terakhir, BPS mencatat keberangkatan pesawat internasional meningkat rata-rata 34,77 persen per tahun. Jumlah penumpangnya bahkan tumbuh lebih tinggi, yakni sekitar 51,51 persen setiap tahun.

Sementara itu, sejumlah bandara utama di Indonesia justru mencatat penurunan penumpang domestik. Bandara Kualanamu, Medan, misalnya, mengalami penurunan jumlah penumpang domestik sebesar 8,77 persen sepanjang 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi di Bandara Soekarno-Hatta sebesar 1,74 persen dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali sebesar 0,04 persen.

Sebaliknya, jumlah penumpang internasional di bandara-bandara tersebut justru meningkat. Bandara Kualanamu mencatat kenaikan sebesar 20,68 persen, Soekarno-Hatta naik 22,8 persen, Ngurah Rai meningkat 23,27 persen, sedangkan Bandara Juanda Surabaya bertambah 6,11 persen.

Mengapa Harga Tiket Pesawat Mahal?

Tarif penerbangan domestik kelas ekonomi diatur melalui mekanisme tarif batas atas (TBA) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019. Dalam aturan tersebut, harga tiket dibentuk dari sejumlah komponen, yakni tarif jarak, pajak, iuran wajib asuransi, serta biaya tambahan (surcharge). Tarif jarak sendiri dihitung berdasarkan biaya pokok operasional maskapai yang terdiri atas biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Biaya langsung mencakup dua kelompok besar. Pertama, biaya operasi tetap seperti penyusutan atau sewa pesawat, gaji tetap kru dan teknisi, hingga pelatihan awak pesawat. Kedua, biaya operasi variabel yang meliputi bahan bakar (avtur), pelumas, tunjangan kru, perawatan pesawat, biaya jasa bandara, navigasi penerbangan, ground handling, hingga katering.

Di antara berbagai komponen tersebut, harga avtur menjadi salah satu faktor yang paling menentukan pada saat ini. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menilai kenaikan harga avtur dalam beberapa bulan terakhir menjadi penyebab utama melonjaknya harga tiket pesawat domestik.

"Belakangan yang paling memengaruhi adalah harga avtur. Biasanya juga dipengaruhi faktor demand musiman," ujarnya kepada Tirto melalui pesan singkat, Senin (29/6/2026).

Keluhan mengenai mahalnya avtur sebelumnya juga disampaikan Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA). Organisasi tersebut mendesak pemerintah menaikkan tarif batas atas sekaligus menyesuaikan fuel surcharge setelah harga avtur domestik melonjak tajam akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menyebut harga avtur domestik untuk periode 1-30 April 2026 meningkat rata-rata sekitar 70 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Di Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, harga avtur naik dari Rp13.656,51 per liter pada Maret menjadi Rp23.551,08 per liter pada April 2026 atau melonjak sekitar 72 persen.

Jika dibandingkan saat tarif batas atas mulai diberlakukan pada 2019, ketika harga avtur domestik masih sekitar Rp7.970 per liter, kenaikannya bahkan mencapai hampir tiga kali lipat. Kenaikan juga terjadi pada avtur untuk penerbangan internasional. Harganya meningkat dari sekitar 0,742 dolar AS menjadi 1,338 dolar AS per liter atau naik lebih dari 80 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut Denon, lonjakan tersebut sangat memukul operasional maskapai karena avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasi penerbangan. Merespons kondisi itu, pemerintah baru saja menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) sebagai dampak adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Melalui beleid ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengizinkan maskapai penerbangan untuk menerapkan biaya tambahan (fuel surcharge) maksimal 50 persen dari tarif batas atas (TBA) sesuai kelompok layanan.

"Berdasarkan evaluasi harga avtur yang ditetapkan oleh penyedia bahan bakar penerbangan per 1 Mei 2026, harga avtur rata-rata tercatat sebesar Rp. 29.116 per liter, Badan Usaha Angkutan Udara niaga berjadwal dalam negeri dapat menerapkan biaya tambahan (fuel surcharge) maksimal sebesar 50 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok layanan," terang Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (14/5/2026).

Di sisi lain, pemerintah dan PT Pertamina Patra Niaga mengklaim telah berupaya menekan harga tiket dari sisi biaya bahan bakar. Mulai 1 Juni 2026, Pertamina Patra Niaga menurunkan harga avtur domestik rata-rata sekitar 10 persen di bandara-bandara seluruh Indonesia.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengatakan penyesuaian tersebut mengikuti formula yang ditetapkan pemerintah serta perkembangan harga energi dunia.

"Ketika harga energi global bergerak turun, maka penyesuaian tersebut akan terefleksikan pada harga avtur sesuai mekanisme yang berlaku," ujarnya dalam keterangan resmi.

Sebagai contoh, harga avtur di Depot Pengisian Pesawat Udara (AFT) Soekarno-Hatta turun dari Rp24.580 menjadi Rp22.190 per liter. Di Ngurah Rai Bali, harga turun dari Rp26.190 menjadi Rp23.480 per liter. Sementara di Kualanamu Medan turun dari Rp25.720 menjadi Rp23.090 per liter.

Pertamina berharap penurunan harga tersebut dapat membantu meningkatkan aktivitas penerbangan domestik, memperkuat konektivitas antardaerah, sekaligus mendorong sektor pariwisata.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan skema tarif batas atas baru yang nantinya akan menghapus komponen fuel surcharge sebagai biaya tambahan terpisah. Menurut Dudy, biaya bahan bakar nantinya akan diintegrasikan ke dalam formulasi tarif batas atas sehingga masyarakat tidak lagi melihat adanya pungutan fuel surcharge di luar harga tiket.

"Kalau nanti diberlakukan TBA, maka fuel surcharge itu ditiadakan," kata Dudy, Minggu (28/6/2026) dilansir dari Antara.

Peluncuran penggunaan Bioavtur SAF ke pesawat komersil

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri (kedua kanan) bersama Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza (kedua kiri) dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra (kanan) melihat langsung proses pengisian Bioavtur Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke pesawat Pelita Air saat acara Special Flight Pertamina Sustainable Aviation Fuel di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (20/8/2028). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/bar

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai penyesuaian harga avtur maupun perubahan formula tarif belum cukup untuk menyelesaikan persoalan. Selama struktur industri penerbangan masih terkonsentrasi pada sedikit pemain dan tingkat persaingan belum meningkat, harga tiket domestik berpotensi tetap sulit turun secara signifikan.

Namun di luar faktor bahan bakar, sejumlah kajian akademik menunjukkan bahwa mahalnya tiket pesawat domestik juga berkaitan dengan persoalan yang lebih mendasar: struktur industri penerbangan itu sendiri.

Teuku Riefky dari LPEM FEB UI, menilai tingkat kompetisi di industri penerbangan domestik masih terbatas. Keterbatasan ini, menurut dia, tak lepas dari kondisi infrastruktur dan karakter pasar yang menyulitkan masuknya pemain baru. Akibatnya, ruang persaingan menjadi sempit dan harga tiket cenderung tidak terbentuk secara efisien bagi konsumen.

Pandangan tersebut sejalan dengan temuan dalam studi LPEM FEB UI bertajuk The Sky in Blues: On the Recent Development of Indonesian Airlines Industry (2019). Riset itu menyebut bahwa mahalnya tiket pesawat di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh biaya operasional, tetapi juga oleh tingginya hambatan masuk industri, pembatasan kepemilikan asing, serta struktur pasar yang mendekati duopoli.

Dalam studi tersebut, LPEM mencatat sekitar 96 persen pangsa pasar penerbangan domestik dikuasai oleh dua kelompok maskapai besar—satu milik negara dan satu kelompok swasta. Kondisi ini, menurut LPEM, menciptakan struktur pasar yang memungkinkan terjadinya penyesuaian harga yang relatif seragam di antara pelaku utama, sehingga tingkat kompetisi menjadi rendah dan harga tiket sulit bergerak lebih efisien bagi konsumen.

Baca juga artikel terkait PESAWAT atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Decode
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Alfitra Akbar