tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengungkap cerita di balik pengerahan relawan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berbaju biru yang sempat viral lantaran disangka berasal dari Malaysia.
Dia menyebut para relawan itu memang datang melalui Malaysia sebelum sampai di titik bencana. Hal ini disebabkan karena keterbatasan penerbangan langsung dari Jakarta ke Medan serta tingginya harga tiket pada saat itu.
“Sempat viral karena dibilang pakai baju biru datangnya pakai dari Malaysia waktu itu kan. 'Wah ini relawan Malaysia datang akhirnya'. Bukan, itu relawan Kemenkes dikirim lewat Malaysia. Kenapa? Karena pesawat Jakarta-Medan penuh gitu kan dan harganya jadi mahal,” kata Menkes dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Menurut Budi, perjalanan memang sengaja diberangkatkan dengan rute tersebut karena dapat menekan harga. Itu lah sebabnya relawan yang datang sempat disangka relawan luar negeri.
“Akhirnya kita belokin dulu relawan kita berangkatnya ke Kuala Lumpur, Kuala Lumpur masuk ke Medan atau masuk ke Aceh karena bisa jauh lebih ada opsinya dan bisa lebih murah jadi akhirnya kita lakukan seperti itu ya itu sempat viral pakai baju biru,” tuturnya.
Secara keseluruhan, Kemenkes telah mengerahkan sekitar 4.000 relawan kesehatan untuk menangani layanan medis di lebih dari 1.000 titik pengungsian. Para relawan, kata Budi, diprioritaskan untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi yang aksesnya terputus akibat banjir dan longsor.
Untuk memastikan distribusi relawan merata dan tidak menumpuk di satu daerah, Kemenkes mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC). Seluruh relawan didata, diatur jadwal masuk dan keluar, serta ditempatkan sesuai kebutuhan wilayah terdampak.
“Dan sebagian besar partisipasi masyarakat jadi orang Indonesia kan rasa sosialnya tinggi jadi kita rangkul,” katanya.
Menurut Menkes, banyak wilayah yang masih memiliki Puskesmas, namun tidak bisa diakses kendaraan karena jalan terendam banjir. Oleh karena itu, kata Budi, relawan harus menempuh jalur ekstrem seperti menyeberang menggunakan rakit atau tali.
“Nah ini contohnya, jadi saya juga bilang biar yang masuk itu relawan kita ajari, relawannya harus yang tangguh kenapa? Relawan ini kita kirimnya bukannya kota, kita kirimnya ke daerah terisolasi jadi harus memiliki apa semangat adventurer sedikit lah,” kata dia.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





























