tirto.id - Pancatera dikenal publik lewat podcast bertajuk “In Her View”. Berikut profilnya beserta empat host-nya, Marissa Anita, Caroline Soerachmat, Kai Soerja, dan Karina Basrewan.
Dengan latar belakang yang berbeda-beda di dunia media, komunikasi, dan profesional, Pancatera menawarkan sudut pandang yang beragam dalam membicarakan pengalaman perempuan masa kini.
Namun, Pancatera belakangan turut menjadi perhatian publik setelah unggahan foto keempat anggotanya bersama Presiden Prabowo Subianto dan putranya, Didit Hediprasetyo, di Istana Negara memicu perbincangan di media sosial.
Apa Itu Pancatera?
Pancatera adalah wadah yang menghadirkan ruang percakapan terbuka bagi perempuan untuk membahas berbagai pengalaman dan persoalan dalam kehidupan modern.
Melalui podcast In Her View, Pancatera mempertemukan perempuan dari latar belakang yang berbeda untuk berbagi cerita, pandangan, dan pengalaman secara jujur, personal, dan reflektif.
Topik yang dibicarakan tidak terbatas pada satu bidang, namun mencakup berbagai hal yang dekat dengan kehidupan perempuan, mulai dari karier, hubungan, identitas, gaya hidup, tren, kesehatan mental, hingga tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pancatera dibentuk oleh para perempuan yang memiliki latar belakang dan pengalaman profesional yang beragam. Pada masa awal pembentukan In Her View, formasi host Pancatera terdiri dari lima perempuan, salah satunya adalah Shahnaz Soehartono, yang akrab disapa Kak Inez.
Shahnaz kemudian tidak lagi menjadi bagian dari formasi Pancatera saat ini. Setelah perubahan formasi tersebut, Pancatera dikenal melalui empat host, yaitu Marissa Anita, Caroline Soerachmat, Karina Lakshminingrum Soerjanatamihardja (Kai Soerja), dan Karina Basrewan.
Konsep Pancatera berangkat dari gagasan sederhana, yaitu menghadirkan percakapan antarsesama perempuan dalam suasana yang aman dan terbuka.
Mereka membicarakan berbagai hal yang membentuk pengalaman sebagai perempuan, mulai dari isu dan tren terkini, pemikiran atau filosofi hidup, sampai persoalan dan perjuangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Pancatera tidak hanya berfungsi sebagai podcast hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk bertukar pengalaman dan melihat persoalan kehidupan dari sudut pandang perempuan modern.
Selain melalui podcast, Pancatera juga membangun kehadiran dan komunitasnya melalui media sosial serta berbagai kegiatan tatap muka. Dengan pendekatan yang personal, terbuka, dan inklusif, Pancatera berusaha menghadirkan gambaran yang lebih beragam mengenai kehidupan perempuan masa kini.
Platform ini mengajak perempuan untuk tidak hanya mengikuti narasi atau pandangan yang sudah lama terbentuk mengenai peran perempuan, tetapi juga menentukan sendiri bagaimana mereka ingin menjalani hidup dan menyuarakan pengalaman mereka.
Profil 4 Anggota Pancatera
Berikut profil singkat dari empat anggota Pancatera:
1. Marissa Anita
Marissa Anita adalah aktris, jurnalis, presenter, dan komunikator asal Indonesia yang lahir di Surabaya, 29 Maret 1983. Ia memulai kariernya di dunia teater pada 2005 sebelum kemudian berkiprah sebagai jurnalis dan pembawa berita di Metro TV sejak 2008.Selama berkarier di bidang penyiaran, Marissa dikenal sebagai reporter sekaligus presenter program berita dan program pagi, termasuk "8-11 Show" dan "Indonesia Now".
Ia kemudian menjadi pembawa acara "Indonesia Morning Show" di NET TV dan memandu program wawancara "1 Indonesia", yang mempertemukannya dengan berbagai tokoh penting dari dunia politik, bisnis, budaya, dan masyarakat.
Di luar televisi, ia juga pernah menjadi penyiar radio, penulis, kritikus film, moderator, dan pembawa acara berbagai kegiatan. Salah satu pencapaian pentingnya adalah meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk perannya dalam film Ali & Ratu Ratu Queens (2021).
Dalam beberapa tahun terakhir, Marissa memperluas kiprahnya ke bidang komunikasi, pendidikan, pengembangan diri, dan pembuatan konten.
Ia menjadi communications specialist and coach yang membantu para pemimpin perusahaan mengembangkan gaya komunikasi yang efektif dan autentik, serta aktif sebagai moderator dan pembicara publik dengan topik seperti kesehatan mental, mindfulness, slow living, kehidupan yang lebih sadar, dan pengembangan diri.
Lulusan S1 Universitas Katolik Atma Jaya ini juga menjadi dosen pembimbing dan mentor mahasiswa bidang film dan komunikasi di Universitas Indonesia (UI), serta terlibat sebagai anggota akademi Festival Film Indonesia dan Asia Pacific Screen Awards.
Marissa menempuh studi Master of Media Practice di University of Sydney dan Master of Digital Media and Society di Loughborough University melalui beasiswa Chevening.
Pada 2025, ia menyelesaikan program Positive Psychology and Wellbeing dari Stanford University School of Medicine dan mengikuti pelatihan life coaching di bawah Dr. Shefali Tsabary.
2. Kai Soerja
Kai Soerja adalah profesional media, komunikator, dan trainer yang memiliki pengalaman luas di bidang komunikasi, kepemimpinan, serta keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (Diversity, Equity, and Inclusion/DEI).Kariernya di dunia media mencakup peran sebagai presenter televisi dan penyiar radio. Ia pernah menjadi host "SEA Morning Show" dan program berita selama tiga jam di SEA Today, serta aktif sebagai penyiar KIS 95.1 FM.
Dalam pekerjaannya sebagai profesional media, Kai berpengalaman mewawancarai berbagai tokoh, mulai dari artis internasional, pemimpin dunia, menteri, duta besar, hingga CEO dan figur dari berbagai generasi yang memiliki pengaruh di Indonesia maupun dunia.
Kai juga memiliki latar belakang pendidikan yang mendukung bidang tersebut, yaitu Bachelor of Science di bidang Financial Management dari Upper Iowa University dan Master of Arts dalam Cross-Cultural Communication dari Horizons University.
Kai aktif sebagai trainer dan konsultan yang membantu berbagai kelompok, mulai dari anak muda dan pemimpin organisasi hingga atlet, pelatih, karyawan, dan jajaran manajemen perusahaan maupun institusi pemerintah.
Ketertarikannya pada isu kesetaraan dan inklusi juga terlihat dari keterlibatannya dalam pengembangan rugby perempuan di Indonesia dan Asia. Ia pernah menjabat sebagai Head of Women's Rugby di Persatuan Rugby Union Indonesia.
Ia kemudian menjadi Vice Chairperson III Persatuan Rugby Union Indonesia dan sebelumnya menjabat sebagai Deputy Chair II Gender Equity Committee di Asia Rugby.
3. Caroline Soerachmat Caroline Soerachmat adalah profesional media dan presenter yang telah berkarier di dunia broadcasting selama lebih dari dua dekade. Lahir di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 24 Mei 1984, Caroline menempuh pendidikan di Orange Coast College sebelum melanjutkan studi di University of California, Los Angeles (UCLA) di bidang Mass Communication.
Ia memulai karier broadcasting sebagai penyiar radio, antara lain di Prambors FM, 101 Jak FM, dan Female Radio, sebelum memperluas kiprahnya ke televisi. Perjalanan kariernya mencakup berbagai peran sebagai VJ MTV Indonesia, reporter dan presenter, serta broadcaster internasional untuk Voice of America (VOA) di Washington, D.C..
Ia juga pernah terlibat dalam produksi dan penyiaran olahraga melalui ASEAN Basketball League dan FOX Sports Asia. Caroline sempat dikenal sebagai presenter berita "Indonesia Morning Show (IMS)" di NET TV.
Selain itu, ia pernah menjadi host program Mom Squad, serta aktif sebagai Master of Ceremony (MC) untuk berbagai acara dengan latar belakang yang beragam, mulai dari acara kenegaraan, korporasi, lifestyle, hingga hiburan.
Caroline menikah dengan AKBP Reza Mahendra Setligt, SIK, seorang anggota Polri yang bertugas di lingkungan Polda Banten.
Caroline juga bagian dari PRSY Parisya Beauty, sebuah merek skincare yang memperkenalkan penggunaan air zamzam dan buah fig dalam produknya dan sebuah lini busana The Khasoe.
4. Karina Basrewan
Karina Basrewan merupakan lulusan University of Melbourne dengan gelar Bachelor of Arts di bidang Communication and Media Studies. Kariernya di dunia media antara lain dijalani sebagai "Morning News Anchor" di SEA Today.Sebagai presenter dan moderator lepas, Karina telah aktif selama lebih dari tujuh tahun dan terlibat dalam berbagai kegiatan sebagai MC, host, moderator, serta content creator. Ia juga pernah menjadi Real Estate Broadcaster, mentor bagi komunitas content creator, serta bekerja di bidang community management.
Pengalamannya di dunia media kemudian berkembang ke isu lingkungan dan keberlanjutan. Ia pernah menjadi ESG Program Manager di Nafas dan merupakan salah satu pendiri Climate Starts with SEA.
Pada 2023-2024, Karina juga mengikuti CNN Academy Climate Storytelling Program yang didukung The Rockefeller Foundation, sebuah program intensif yang mempertemukan 16 peserta dari negara-negara Global South untuk mengembangkan kemampuan bercerita mengenai isu perubahan iklim.
Karina juga pernah menjadi Miss Earth Indonesia 2022 dan mewakili Indonesia dalam ajang Miss Earth 2022 di Filipina, di mana ia meraih penghargaan Best National Costume. Sebelumnya, ia mengikuti Puteri Indonesia 2018 sebagai perwakilan DKI Jakarta dan masuk dalam jajaran Top 11.
Karina juga dipercaya menjadi salah satu pembawa acara ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo, serta aktif menyuarakan isu lingkungan dan perubahan iklim melalui pekerjaannya sebagai komunikator dan climate storyteller.
Saat ini, ia bekerja sebagai Lead Consultant untuk Indonesia di Eco-Business, organisasi media dan business intelligence yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan di Asia Pasifik, serta menjadi Social Media Manager untuk Museum for the United Nations – UN Live, sebuah museum global yang menggunakan budaya populer dan dialog untuk mendorong empati dan perubahan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































