tirto.id - Teungku Nyak Sandang, tokoh Aceh yang jadi donatur pesawat RI pertama, meninggal dunia pada Selasa (7/4/2026). Ia merupakan sosok yang turut berjasa dalam pembelian pesawat sipil pertama oleh Pemerintah Indonesia.
Nyak Sandang dilaporkan meninggal dunia di kediamannya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Ia mengembuskan napas terakhirnya Selasa siang pukul 12.20 WIB.
Pihak keluarga Nyak Sandang telah mengonfirmasi kabar tersebut. Almarhum meninggal dunia pada usia 100 tahun.
Pada 2025 lalu, Nyak Sandang mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas jasanya dalam memberikan donasi ke Pemerintah Indonesia pasca-kemerdekaan 1945 untuk membeli pesawat sipil pertama. Pesawat itu bernama Seulawah RI-001.
Pesawat yang dibeli dari donasi rakyat ini dikenal sebagai moda transportasi bagi pejabat negara dalam misi-misi diplomasi penting.
Pesawat tersebut pertama kali digunakan secara resmi untuk mengantarkan Wakil Presiden Indonesia kala itu, Mohammad Hatta, berkeliling Sumatra. Setelahnya, pesawat dipakai para diplomat untuk menggalang dukungan internasional, termasuk untuk mengirim Dr. Sudarsono sebagai perwakilan resmi pertama Indonesia di India.
Profil Teungku Nyak Sandang
Orang Aceh mengenal Nyak Sandang sebagai tokoh yang ikut berjasa dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan salah satu penyumbang dana pembelian pesawat sipil pertama Indonesia, Seulawah RI-001.
Kisah tersebut bermula dari peristiwa kedatangan Presiden RI kala itu, Sukarno, ke Aceh pada Juni 1948. Pada tahun tersebut, penulis buku Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (1970) itu datang ke sana untuk menggalang dana dari para saudagar dan rakyat di Aceh.
Kas negara memang sedang cekak imbas blokade ekonomi Belanda, sementara pemerintah memiliki kebutuhan untuk memiliki pesawat terbang sipil. Sukarno lalu datang ke Aceh dan menggalang dana pembelian pesawat dari para saudagar dan rakyat Aceh.
Para saudagar Aceh kemudian bertemu Sukarno dalam jamuan makan malam di Atjeh Hotel Kutaradja. Di sana, Bung Karno menjelaskan maksud tujuannya datang ke sana.
Masyarakat Tanah Rencong lalu menyambut seruan Sukarno. Banyak saudagar yang menyatakan kesediaan untuk membantu pemerintah membeli pesawat sebagai apa yang disebut Sukarno sebagai "jembatan udara" bagi kepulauan Indonesia.
Tak lama berselang, kabar itu kemudian meluas. Kesediaan untuk turut membantu pembelian pesawat sipil pertama Indonesia tak hanya datang dari saudagar paling kaya, tetapi juga rakyat kebanyakan.
Nyak Sandang baru berusia 23 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Ia tak hadir dalam jamuan makan malam bersama Sukarno, tetapi ia turut mendengar kabar penggalangan dana itu.
Menurut kesaksian Nyak Sandang, ia mendengar seruan penggalangan dana tersebut dari sebuah ceramah ulama kondang Aceh kala itu, Muhammad Idarus alias Abu Sabang. Nyak Sandang dan ayahnya lalu bersepakat untuk ikut ambil bagian.
Ia dan ayahnya kemudian menjual sepetak tanah dengan 40 batang pohon kelapa di dalamnya seharga Rp100. Uang itu lalu diserahkan Nyak Sandang kepada Pemerintah Indonesia bersama 10 gram emas sebagai tambahan.
Sumbangan itu kemudian membuat Nyak Sandang tercatat sebagai salah satu donatur pesawat Seulawah RI-001 bersama rakyat Aceh yang lain.

Pemerintah Indonesia kala itu menerbitkan surat utang negara atau obligasi sebagai bukti bahwa Nyak Sandang dan segenap rakyat Aceh yang menyumbang telah memberikan kekayaannya untuk membantu negara.
Setelah itu, pesawat Seulawah RI-001 benar-benar terbeli dengan dana hasil donasi rakyat Aceh. Nama "Seulawah" yang berarti "gunung emas" dalam bahasa Aceh digunakan untuk menghargai peristiwa tersebut.
Pesawat itu lalu jadi salah satu moda transportasi penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Pesawat ini turut digunakan untuk membawa pejabat negara dan logistik perang macam senjata, mesiu, dan obat-obatan.
Akan tetapi, kisah sumbangsih Nyak Sandang dalam pembelian Seulawah RI-001 itu kemudian sempat hilang tergerus waktu.
Kisah Nyak Sandang kembali diingat masyarakat luas pada 2018 lalu ketika surat obligasi yang disimpan Nyak Sandang diketahui publik.

Surat obligasi yang diberikan pemerintah kepada Nyak Sandang rupanya masih ia simpan dengan baik. Tanda terima itu masih memuat kalimat dengan tinta yang belum rusak. Semua keterangan di dalamnya ditulis dalam ejaan lama dan masih jelas terbaca.
Peristiwa rakyat Aceh yang ikut memberikan sumbangan ke Pemerintah Indonesia untuk membeli pesawat kemudian kembali diingat. Pemerintah kala itu bahkan melakukan kunjungan ke rumah Nyak Sandang.
Nyak Sandang kemudian diundang ke Istana Merdeka Jakarta pada 2018. Sejumlah keinginan Nyak Sandang dikabulkan pemerintah, termasuk operasi katarak, umrah, dan pembangunan masjid di kampung halamannya.
Kemudian, pada 25 Agustus 2025 lalu, Nyak Sandang kembali ke Istana Negara di Jakarta. Kala itu ia dianugerahi Bintang Jasa Utama atas jasanya menyumbang kekayaan pribadinya untuk pembelian pesawat oleh negara pada awal masa kemerdekaan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































