Menuju konten utama

5 Strategi Terbaru BI Perkuat Nilai Tukar Rupiah 2026

Bank Indonesia menempuh 5 strategi untuk memperkuat nilai tukar rupiah 2026, mulai dari kenaikan BI-Rate hingga penguatan operasi moneter.

5 Strategi Terbaru BI Perkuat Nilai Tukar Rupiah 2026
Bank Indonesia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.

tirto.id - Bank Indonesia meluncurkan lima strategi baru untuk memperkuat nilai tukar rupiah dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Selasa (9/7/2026).

Merujuk siaran pers Nomor 28/119/DKom, BI menyebut bahwa pelemahan nilai tukar rupiah saat ini lebih besar dari perkiraan RDG bulan sebelumnya.

Gejolak global, tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, dan keluarnya investasi portofolio asing, mendorong bank sentral mengambil langkah lanjutan.

"Sesuai undang-undang dan praktik yang berjalan selama ini, Bank Indonesia setiap hari Selasa mengadakan RDG Mingguan untuk evaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang ditetapkan dalam RDG Bulanan," terang BI.

Strategi BI Perkuat Rupiah

Lantas, strategi apa saja yang ditempuh BI untuk memperkuat rupiah pada 2026?

1. Menaikkan BI-Rate Menjadi 5,50 Persen

BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026). Di saat bersamaan, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Menurut BI, kenaikan suku bunga tersebut merupakan langkah lanjut untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah akibat dampak tingginya gejolak global yang dipicu perang di Timur Tengah.

Dalam siaran persnya, BI juga menyebut kebijakan ini sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen dengan rentang toleransi 1,5 persen hingga 3,5 persen.

2. Menaikkan Imbal Hasil SRBI

Langkah kedua yang ditempuh BI yaitu menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

BI menyatakan kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan imbal hasil instrumen SRBI sehingga investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dibanding negara lain.

Dalam siaran persnya, BI menyebut penyesuaian tingkat imbal hasil SRBI akan dilakukan sesuai mekanisme pasar.

3. Menurunkan Biaya Hedging bagi Investor Asing

BI juga memberi insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai atau hedging swap sebesar 10 persen bagi investor asing.

Menurut BI, fasilitas ini diberikan melalui bank-bank di Indonesia, lalu bank meneruskannya kepada Bank Indonesia. Kebijakan tersebut berbeda dengan tingkat swap reguler dan ditentukan berdasar mekanisme pasar.

BI menyebut adanya insentif bertujuan untuk mengerek daya tarik investasi asing sekaligus mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.

4. Membuka Kembali Lelang Repo

Langkah berikutnya yaitu membuka kembali jendela lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan. Dalam penjelasannya, BI menyebut fasilitas repo ditujukan untuk mencukupi likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Bank sentral menarget pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada pada level dua digit atau di atas 10 persen.

Adapun BI juga menyebut perluasan fasilitas repo bakal jadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibanding mekanisme lain, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder.

5. Memperkuat Operasi Moneter Rupiah dan Valuta Asing

BI turut menambah intensitas operasi moneter untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Pada operasi moneter rupiah, BI berencana membuka lelang SRBI sebanyak dua kali dalam sepekan.

Sementara pada operasi moneter valuta asing, BI akan meningkatkan intervensi melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.

Menurut BI, langkah tersebut merupakan bagian dari penguatan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.

Selain lima langkah di atas, BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal pemerintah.

BI menyatakan koordinasi fiskal dan moneter bakal terus digeber demi menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Tabel 1 Dolar AS ke Rupiah Dua Pekan Terakhir

Berikut pergerakan nilai tukar rupiah dalam dua pekan terakhir menurut data BI:

TanggalKurs
9 Juni 2026Rp18.141,00
8 Juni 2026Rp18.171,00
5 Juni 2026Rp18.039,00
4 Juni 2026Rp18.039,00
3 Juni 2026Rp17.931,00
2 Juni 2026Rp17.863,00
29 Mei 2026Rp17.883,00
26 Mei 2026Rp17.789,00
25 Mei 2026Rp17.743,00
22 Mei 2026Rp17.717,00

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora