Menuju konten utama

Kenapa Rupiah Melemah dan Apa yang Harus Dilakukan?

Rupiah melemah ke Rp17.738 per dolar AS. Simak penyebab, dampak bagi masyarakat, dan tips menjaga keuangan saat kurs tertekan.

Kenapa Rupiah Melemah dan Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi uang rupiah. (FOTO/iStockphoto)

tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan. Pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, rupiah dibuka melemah 32 poin ke level Rp17.738 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia dan Eropa yang bervariasi akibat tekanan pasar global.

Dalam pidato terbaru di Gedung DPR RI pada Rabu, 20 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa pemerintah menarget kurs rupiah bergerak pada rentang Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.

Di sisi lain, merujuk laporan The Diplomat, sejak Prabowo menjabat sebagai Presiden RI pada Oktober 2024, rupiah sudah terdepresiasi lebih dari 14 persen terhadap dolar AS. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di masyarakat: kenapa rupiah terus melemah, dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga kondisi finansial pribadi?

Kenapa Rupiah Melemah?

Pelemahan rupiah lahir dari kombinasi tekanan global dan domestik yang memengaruhi nilai tukar. Salah satu penyebab utamanya yakni kenaikan harga minyak dunia akibat alotnya konflik AS-Iran.

Hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor energi dalam jumlah besar. Maka, saat harga minyak naik, kebutuhan dolar AS untuk impor energi ikut meningkat. Tingginya permintaan dolar tersebut membuat nilai rupiah tertekan.

Di samping itu, tekanan juga datang dari pasar saham domestik. Indeks saham utama Jakarta sempat turun lebih dari empat persen setelah penyedia indeks global MSCI menghapus sejumlah perusahaan Indonesia dari indeks mereka. Situasi ini memicu kekhawatiran investor asing terhadap stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Contoh dampaknya bisa terlihat pada aliran modal asing. Ketika investor global melihat risiko meningkat, mereka cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, lalu memindahnnya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS atau obligasi Amerika Serikat. Akibatnya, permintaan dolar naik dan rupiah kian tertekan.

Di sisi lain, lembaga rating internasional seperti Fitch juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi Indonesia. Merujuk laporan Reuters, Fitch menyinggung fenomena menurunnya konsistensi kebijakan ekonomi dan meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat Indonesia?

Saat rupiah melemah, dampaknya bisa langsung terasa oleh masyarakat. Secara perlahan, biaya hidup bisa meningkat. Barang impor seperti elektronik, gadget, bahan baku industri, hingga sebagian bahan pangan berpotensi mengalami kenaikan harga, yang ujungnya bisa memicu inflasi karena biaya produksi dan distribusi ikut terkerek.

Contoh sederhananya, ketika dolar AS naik, harga iPhone, laptop, suku cadang kendaraan, sampai BBM ikut terdorong naik karena sebagian besar masih bergantung pada impor yang mana produsen barang-barang tersebut menjualnya dalam dolar AS.

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi mengatakan perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi meski masih memiliki stok.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya.

Dalam laporan Antara News, produsen otomotif seperti Chery mulai mengkaji kemungkinan penyesuaian harga kendaraan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi berdampak pada kenaikan berbagai biaya operasional hingga produksi.

Dalam laporan Kontan, industri tekstil ikut terdampak karena mono ethylene glycol (MEG) dan paraxylene (PX) tergantung dari impor. Oleh sebab itu, biaya produksi meningkat sehingga berimbas pada meningkatnya harga jual.

Pelemahan rupiah juga memberi tekanan pada anggaran negara, terutama pada pos belanja yang sensitif terhadap kurs. Subsidi energi menjadi salah satu sektor paling terdampak karena ketergantungan pada impor membuat beban subsidi naik saat rupiah melemah. Selain itu, pembayaran utang luar negeri dalam rupiah ikut membengkak.

“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelas Rijadh.

Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam kondisi rupiah melemah, masyarakat tidak perlu panik. Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan finansial individu. Berikut beberapa tipsnya, disarikan dari berbagai sumber.

1. Kurangi Pengeluaran Tidak Penting

Prioritaskan kebutuhan utama dan kurangi belanja konsumtif. Pelemahan rupiah biasanya diikuti kenaikan harga barang impor dan kebutuhan sekunder. Membuat anggaran bulanan lebih disiplin membantu menjaga arus kas tetap aman.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat menjadi penting ketika kondisi ekonomi tidak pasti. Idealnya, masyarakat memiliki simpanan minimal tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin. Dana ini bisa membantu menghadapi risiko kenaikan biaya hidup atau kondisi tak terduga seperti pemutusan hubungan kerja (PHK).

3. Diversifikasi Aset

Jangan menyimpan seluruh kekayaan hanya dalam satu bentuk aset. Diversifikasi bisa dilakukan melalui emas, deposito, reksa dana pasar uang, atau instrumen lain yang relatif stabil. Sebagai contoh, harga emas biasanya ikut naik ketika rupiah melemah. Karena itu, sebagian investor memilih emas untuk menjaga nilai aset saat mata uang domestik melemah.

4. Hindari Utang Konsumtif

Saat suku bunga berpotensi naik akibat tekanan ekonomi, cicilan utang bisa menjadi beban lebih besar. Karena itu, masyarakat disarankan mengurangi utang konsumtif dan fokus melunasi kewajiban yang sudah ada.

5. Cari Tambahan Pendapatan

Ketidakpastian ekonomi membuat sumber penghasilan tunggal menjadi lebih berisiko. Mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan, bisnis kecil, atau keterampilan digital bisa menjadi langkah antisipasi.

Bank Indonesia Masih Optimistis

Kendati kondisi rupiah sedang dalam tren melemah, Bank Indonesia (BI) menyatakan tetap optimistis terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI memprediksi rupiah bisa kembali menguat pada semester kedua 2026 seiring stabilisasi pasar dan intervensi bank sentral.

Pada 20 Mei 2026, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan ke level 5,25 persen atau naik 50 bps dibanding bulan April yang berapa di posisi 4,75 persen.

Kebijakan ini diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027.

Selain itu, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinaikkan menjadi 6,21 persen (tenor 6 bulan), 6,31 persen (tenor 9 bulan) dan 6,45 persen (tenor 12 bulan) untuk menarik portofolio investasi asing.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora