tirto.id - Pergerakan harga emas pada Mei 2026 diprediksi masih fluktuatif. Laporan World Gold Council (WGC) dalam Weekly Markets Monitor edisi akhir April 2026 menunjukkan harga emas global dalam fase konsolidasi panjang di tengah tekanan suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, serta konflik geopolitik Timur Tengah.
Hingga akhir April 2026, harga emas acuan dunia LBMA PM tercatat turun 3,3 persen dalam sepekan ke level 4.712 dolar AS per troy ons. Koreksi tersebut cukup signifikan dibanding posisi rekor tertinggi emas dunia pada awal tahun.
Adapun di Indonesia, harga emas Antam juga turun menjadi Rp2.769.000 per gram pada 30 April 2026. Penurunan harga emas domestik relatif tipis meski pasar global sedang mengalami tekanan.
Saat harga emas dunia turun sekitar 3 persen pada akhir April, rupiah justru sempat melemah tajam hingga Rp17.300 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut akhirnya "menambal" penurunan harga emas global, sehingga harga emas Antam tidak terlalu anjlok di pasar domestik.
Efek The Fed, Konflik Iran, dan Penguatan Dolar AS
Tekanan terhadap emas dunia saat ini datang dari kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed, lonjakan inflasi energi akibat konflik AS-Iran, dan penguatan dolar AS.
The Fed menutup April 2026 dengan sinyal kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen hingga 3,75 persen untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Bank sentral AS tersebut menilai inflasi masih tinggi akibat kenaikan harga energi global selepas konflik AS-Iran.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga memberi sinyal bahwa suku bunga tinggi bakal bertahan lebih lama karena bank sentral masih berhati-hati terhadap risiko inflasi. Kondisi ini jadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau imbal hasil seperti obligasi pemerintah.
WGC mencatat terjadi arus keluar dana (outflow) ETF emas di Amerika Utara mencapai 2,1 miliar dolar AS dalam sepekan terakhir. ETF atau Exchange Traded Fund merupakan instrumen investasi yang merepresentasikan kepemilikan aset tertentu, termasuk emas.
Namun, meski investor Barat mulai mengurangi kepemilikan emas, minat investor Asia masih cukup kuat. WGC mencatat investor Asia membukukan arus masuk dana (inflow) sekitar 15 miliar dolar AS sejak awal 2026.
Di tengah tekanan tersebut, pasar emas juga dibayangi konflik geopolitik di Timur Tengah. Konflik AS-Iran mendorong lonjakan harga minyak global dan membuat harga energi meningkat tajam di berbagai negara. Harga bensin rata-rata di AS bahkan naik menjadi 4,23 dolar AS per galon atau sekitar 1,25 dolar AS lebih tinggi dibanding sebelum konflik dimulai.
Selain itu, banyak negara justru meningkatkan permintaan dolar AS untuk kebutuhan transaksi energi global atau yang dikenal sebagai mekanisme petrodolar. Penguatan dolar AS tersebut akhirnya ikut menekan harga emas dunia karena emas cenderung bergerak berlawanan dengan dolar AS.
Prediksi Harga Emas Mei 2026 dan Faktor Penentunya
Secara teknikal, WGC mengidentifikasi beberapa level penting yang menjadi perhatian pasar selama Mei 2026. Area resisten terdekat berada di kisaran 4.883 dolar AS per troy ons.
Resisten merupakan level harga yang cenderung sulit ditembus karena banyak investor memilih menjual aset pada area tersebut. Apabila emas berhasil menembus level tersebut, peluang harga emas dunia naik menuju area 5.120 dolar AS per troy ons kembali terbuka.
Sebaliknya, level support terdekat menurut WGC berada di level 4.644 dolar AS per troy ons. Jika area tersebut jebol, harga emas berpotensi turun menuju area support jangka panjang di kisaran 4.246 dolar AS per troy ons, berdekatan dengan rerata harga 200 hari terakhir.
Pergerakan harga emas pada awal Mei diperkirakan bakal sangat dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi penting AS. Pasar sekarang sedang mencermati sikap The Fed setelah bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunga tinggi di tengah inflasi 3,3 persen.
The Fed juga menegaskan target inflasi jangka panjang tetap berada di level 2 persen. Karena itu, apabila tekanan inflasi energi terus bertahan, pemangkasan suku bunga kemungkinan baru terjadi pada akhir 2026 atau bahkan 2027. Adapun The Fed terakhir kali memangkas suku bunga pada Desember 2025 saat inflasi tahunan berada di level 2,7 persen
Terlepas dari itu, pada 19-20 Mei 2026 mendatang akan digelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Keputusan BI-Rate dalam RDG tersebut diperkirakan bisa memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena harga emas Antam sensitif terhadap kurs rupiah, hasil RDG BI berpotensi jadi salah satu katalis bagi harga emas domestik di pertengahan Mei.
Menimbang kombinasi faktor global saat ini, harga emas sepanjang Mei 2026 diprediksi masih dalam fase konsolidasi. Harga emas dunia berpotensi bergerak sideways selama belum mampu menembus area resisten 4.883 dolar AS per troy ons. Adapun harga emas Antam di Indonesia diperkirakan relatif stabil selama nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id




































