tirto.id - Anomali langka kembali mengguncang pasar komoditas global. Di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran—yang mendorong kenaikan harga minyak dan menekan pasar saham global—satu instrumen yang selama ini dianggap paling tangguh justru ikut terpukul: emas.
Harga emas dunia yang sempat menyentuh rekor tertinggi di level 5.419 dolar AS per troy ounce pada awal Maret, secara mengejutkan merosot ke 4.389 dolar AS per troy ounce menjelang akhir bulan.
Kondisi ini memantik pertanyaan mendasar di kalangan investor: apakah emas mulai kehilangan perannya sebagai ultimate safe haven, atau justru pasar global tengah memasuki fase kekacauan total?
Emas Gagal Sebagai Safe Haven?
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa koreksi tajam terhadap emas merupakan konsekuensi logis dari reli panjang yang terjadi sebelumnya. Kenaikan harga tersebut bahkan sudah tergolong ekstrem dalam perspektif historis, sehingga membuatnya rentan terkoreksi akibat aksi ambil untung dan tekanan faktor global.
"Kalau kita melihat sejarah harga emas dalam 100 tahun terakhir, rally kenaikan harga emas hingga bulan lalu merupakan salah satu yang terpanjang dan paling tinggi," ujar Wijayanto kepada Tirto, Kamis (26/3/2026).
Ia juga melihat adanya pergeseran persepsi pasar dalam menakar risiko dari berbagai ketidakpastian. Ini tak lepas dari munculnya keyakinan bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi perang skala global seperti yang sempat dikhawatirkan.
Terlebih, dinamika politik domestik di AS jelang pemilu sela membuat kubu Partai Republik dan Presiden Donald Trump memiliki insentif untuk menahan eskalasi demi mengendalikan harga minyak dan inflasi, agar tak berdampak negatif terhadap elektabilitas.
“Gejolak harga saham, dan minyak di AS, serta melejitnya inflasi, merupakan faktor utama yang menyebabkan Trump menahan diri, atau Republikan akan kalah telak dalam pemilu sela beberapa bulan ke depan,” ucapnya.
Pandangan serupa datang dari analis komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Laksono. Ia menilai bahwa secara teori emas seharusnya menguat di tengah ketidakpastian geopolitik, tetapi realitas pasar saat ini menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.
Menurutnya, pelemahan emas dipengaruhi oleh kombinasi krisis energi, ekspektasi kebijakan moneter, serta kondisi likuiditas global, di mana dolar AS justru lebih unggul dalam menarik minat investor sebagai aset aman.
"Emas tidak benar-benar gagal, melainkan sedang 'kalah saing' oleh Dolar AS dalam memperebutkan status aset aman," jelas Wahyu saat berbincang dengan Tirto.

Ia mengidentifikasi setidaknya tiga faktor utama di balik meredupnya emas. Pertama, tren suku bunga global yang masih tinggi. Ketika inflasi energi meningkat, bank sentral—terutama The Fed—cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, membuat instrumen berbunga seperti dolar AS dan obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Kedua, fenomena liquidity trap atau perangkap likuiditas. Wahyu menjelaskan bahwa saat pasar saham rontok akibat geopolitik, investor besar sering kali menjual emas, aset yang masih memiliki keuntungan, untuk menutupi kerugian atau dampak margin call di portofolio mereka yang lain.
Ketiga, menyusutnya gairah bank-bank sentral dunia dalam memburu emas sebagai cadangan devisa. “Bank-bank besar dan dana lindung nilai (hedge funds) melakukan aksi jual besar-besaran untuk menyesuaikan portofolio dengan proyeksi ekonomi baru (era suku bunga tinggi yang lebih lama),” ucap Wahyu.
Dejavu 1980 dan 2008
Menurut Wahyu, kejatuhan emas di tengah perang bukanlah yang pertama kali terjadi. Sejarah mencatat anomali serupa pada periode Perang Iran-Irak (1980-1988). Sebelum perang resmi pecah pada September 1980, emas mencapai rekor tertinggi di kisaran 850 dolar AS per troy ounce.
Namun, begitu perang berkecamuk, harga emas justru melandai dan merosot hingga ke level 375 dolar AS per troy ounce pada 1982.
Begitu pula saat krisis Finansial 2008. Saat Lehman Brothers kolaps, harga emas justru sempat anjlok dari harga tertinggi 1.011 dolar AS ke 712 dolar AS per troy ounce atau turun 29 persen dalam tujuh bulan.
“Penyebabnya sama: investor panik dan membutuhkan uang tunai (likuiditas) segera, sehingga mereka menjual apa pun yang bisa dijual, termasuk emas, sebelum akhirnya emas melesat kembali ke rekor baru setelah situasi stabil,” kata Wahyu.
Namun, menurutnya penurunan tajam harga emas kali ini tetap yang paling mengerikan. Jika pada Krisis 2008 penurunan 29 persen terjadi dalam rentang 7 bulan, pada Maret 2026, kontraksi 24 persen terjadi kurang dari satu bulan.
“Penurunan 24 persen terjadi kurang dari 1 bulan. Ini adalah kompresi waktu yang sangat mematikan bagi trader harian maupun manajer investasi,” tambah Wahyu.
Cash Is King
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengamati bahwa kebutuhan akan likuiditas tunai menjadi prioritas utama para pelaku pasar saat ini. Ungkapan lama "cash is king" kembali menunjukkan relevansinya dan menenggelamkan narasi dedolarisasi yang sempat ramai.
"Emas kalah bersinar dibanding Dolar AS, Yen Jepang, dan Swiss Franc sebagai safe haven. Setelah ramai soal dedolarisasi, kini Dolar AS memenangkan pertarungan sebagai aset yang paling aman di tengah krisis. Kebutuhan likuiditas membuat emas tidak menarik untuk sementara," ucap Bhima saat dihubungi Tirto secara terpisah.
Bahkan, Bhima memprediksi harga emas batangan di pasar domestik juga masih akan mengalami koreksi lanjutan. "Harga emas ke depan masih cenderung terkoreksi, diproyeksi ke level Rp 1,9 juta hingga Rp 2 juta per gram dalam tiga bulan ke depan," tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa kejatuhan ini adalah fenomena pasar global yang murni didorong oleh dinamika suplai-permintaan, bukan manipulasi kelompok tertentu.
Bhima menyebut bahwa variabel pendukung jatuhnya emas tampak konsisten dengan kondisi makroekonomi. Terlebih, sebagai aset yang diperdagangkan secara global, sulit menduga ada manipulasi pasar dalam pergerakannya.
“Emas merupakan komoditas yang diperdagangkan secara global, sehingga sulit ada satu atau dua kelompok trader yang melakukan manipulasi pasar,” ujarnya.

Namun, Wahyu Laksono memberikan catatan pada peran Algorithmic Trading. Saat harga emas menembus level psikologis 5.000 dolar AS, sistem perdagangan otomatis memicu perintah jual massal secara otomatis.
Inilah yang menyebabkan harga terjun bebas seperti bola salju yang menggelinding cepat, menciptakan efek penjualan paksa yang meruntuhkan struktur harga dalam sekejap.
“Saat harga menembus level psikologis tertentu seperti 5.000 dolar AS, sistem perdagangan otomatis memicu perintah jual massal, yang mempercepat kejatuhan harga secara mekanis,” tuturnya.
Diversifikasi dan Investasi Jangka Panjang
Kala emas sebagai instrumen investasi mulai kehilangan kilau sesaatnya, para pakar menyarankan pergeseran strategi yang lebih moderat.
Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa investasi emas tidak boleh dilihat dalam kacamata jangka pendek. "Jika kita pegang emas, horisonnya harus jangka panjang. Kendatipun saat ini sedang melemah, dalam 10-20 tahun mendatang, emas tetap merupakan investasi yang menguntungkan. Jadi, bagi yang sudah pegang emas, jangan buru-buru melepas," sarannya.
Sebagai alternatif, Wijayanto merekomendasikan Surat Utang Pemerintah seperti ORI di Indonesia atau obligasi dari negara dengan mata uang kuat seperti AS dan Australia.
Selain itu, properti di lokasi strategis menjadi opsi menarik karena harganya yang cenderung terkoreksi saat ini. "Personally, saat ini saya lebih nyaman investasi di ORI, emas, dan properti," ungkapnya.
Senada dengan Wijayanto, Bhima Yudhistira menawarkan formula diversifikasi yang ketat untuk menjaga keamanan portofolio. Ia menyarankan agar investor memecah investasinya 25 persen dalam bentuk tunai, 25 persen obligasi pemerintah, 25 persen, properti, dan sisanya emas.
“Sebaiknya investor membagi 25 persen rata ke cash, obligasi pemerintah yang imbal hasilnya lagi tinggi, ke properti dan 25 persen baru ke emas, tetap menarik untuk jangka panjang,” kata dia
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































