Menuju konten utama

Kenapa Harga Emas Anjlok Selama Perang Iran-Amerika?

Harga emas dunia cenderung turun selama berlangsungnya perang Iran-Amerika. Harga emas sekarang seakan kehilangan kendali setelah sebelumnya naik tajam.

Kenapa Harga Emas Anjlok Selama Perang Iran-Amerika?
Ilustrasi emas batang. foto/IStockphoto

tirto.id - Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas dunia anjlok di tengah terus berlangsungnya Perang Iran-Amerika Serikat (AS). Hal ini menandai anjloknya harga emas setelah meningkat konstan sejak awal tahun 2025 lalu. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sebelum harga emas runtuh, logam mulia ini jadi instrumen investasi yang naik daun. Ketidakstabilan situasi geopolitik dunia memacu harga emas terdongkrak secara konstan.

Pada 28 Januari 2026, tepat sebulan sebelum pecah Perang Iran-AS, harga emas dunia mencapai rekor dengan nilai USD5.589 per ons troi. Kenaikan tersebut merupakan bagian dari tren harga emas yang terus melonjak sejak 2025 lalu.

Para investor menilai emas menjadi instrumen dengan nilai yang lebih aman daripada valuta asing macam dolar AS. Tren dialihkannya aset bank sentral sejumlah negara dari dolar ke emas juga memicu kenaikan harga.

Akan tetapi, belakangan ketika situasi geopolitik makin tak menentu akibat konflik di Selat Hormuz, harga emas justru turun.

Sejak perang di kawasan Teluk pecah pada 28 Februari 2026 lalu, harga emas telah turun lebih dari 15 persen. Situasi ini membuat keuntungan investasi emas sepanjang awal tahun ini terkoreksi secara signifikan.

Sebagai perbandingan di tingkat lokal, harga emas Antam pada 28 Januari 2026 mencapai angka Rp2.968.000 per gram. Namun, harga emas sekarang pada Rabu (25/3/2026), harga emas Antam berada di level Rp2.850.000 per gram.

Penyebab Harga Gold Bar Dunia Anjlok

Sejumlah faktor jadi penyebab harga emas batang anjlok dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini terutama dipengaruhi oleh bagaimana Perang Iran berjalan dari hari ke hari.

Meskipun secara tradisional emas merupakan aset safe haven di setiap krisis dan ketegangan geopolitik, namun bagaimana jalannya perang di kawasan Teluk justru membuat tren harga emas berbalik arah.

Berikut sejumlah faktor yang menyebabkan harga emas turun di tengah ketidakpastian situasi geopolitik global akibat Perang Iran:

1. Penguatan Dolar AS

Meskipun sempat melemah dan mulai ditinggalkan oleh investor, namun nilai dolar AS justru menguat. Ekspektasi terhadap kebijakan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) justru beralih dan berhasil menekan sentimen pasar.

Selain itu, perang di Iran telah menyebabkan kenaikan harga minyak dunia imbas konflik di Selat Hormuz. Namun, mayoritas komoditas energi yang diperjual-belikan melalui Selat Hormuz masih diperdagangkan melalui dolar AS.

Ketika jalur distribusi terhambat, permintaan atas minyak meningkat, dan pada akhirnya turut meningkatkan permintaan global terhadap dolar AS.

Seturut Trustnet, Direktur Pelaksana Bestinvest, Jason Hollands, menyebut bahwa harga emas biasanya adalah kebalikan dari tren nilai dolar AS.

"Emas biasanya menunjukkan hubungan terbaik dengan dolar AS dan penguatan dolar baru-baru ini telah menjadi hambatan [bagi emas] yang signifikan," kata Hollands.

2. Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Di tengah melonjaknya harga energi akibat Perang Iran belakangan juga berdampak pada sektor obligasi. Pada sektor obligasi pemerintah, nilai imbal hasil juga terkerek akibat peningkatan harga energi.

Kenaikan imbal hasil obligasi sejumlah pemerintah di dunia lalu mengalihkan minat para investor dari emas ke produk obligasi kuat macam AS dan Inggris.

Ahli strategi investasi Saxo UK, Neil Wilson, menyebut bahwa imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah menembus batas rentang sebelumnya pada pekan lalu. Di Inggris, surat utang pemerintah (gilts) tenor 10 tahun telah mencapai level tertingginya sejak tahun 2008.

Kenaikan juga terjadi di Jerman. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman (bunds) mencapai rekor tertinggi dalam 15 tahun.

Dengan kenaikan imbal hasil tersebut, para investor lalu memandang obligasi pemerintah jadi aset yang lebih menarik ketimbang emas.

3. Aksi Jual Paksa

Turunnya harga emas juga dipengaruhi oleh aksi jual paksa (forced selling). Hal ini dikarenakan banyak investor yang telah merugi dalam situasi pasar yang terus bergolak.

Menurut Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter, banyak investor yang merugi akibat ketidakpastian pasar belakangan kini terpaksa menjual aset mereka demi menutupi posisi kerugian tersebut.

Akan tetapi, pada saat yang sama, emas telah menjadi aset dengan nilai yang tinggi, terutama bagi pengguna mata uang selain dolar AS. Hal ini menekan permintaan emas.

Hal ini seperti yang terjadi pada sektor pasar saham. Pasar saham jadi salah satu sektor yang terdampak ketidakpastian geopolitik sepanjang 2026.

Karena tren penurunan harga saham, investor mulai menjadikan emas sebagai alat peningkat likuiditas dengan menjualnya. Terlebih, nilai emas telah memberikan imbal hasil yang kuat dalam setahun terakhir.

Dengan begitu, penjualan emas para investor menekan permintaan dan pada akhirnya turut berimbas pada tertekannya harga jual emas di pasar.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar