tirto.id - Emas dianggap sebagai investasi paling aman karena nilainya yang cenderung stabil, bahkan mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Lalu, bagaimana trend harga emas 10 tahun terakhir?
Emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati karena dianggap mampu menjaga nilai kekayaan. Meski harga emas selalu naik-turun setiap harinya, harga logam mulia yang satu ini umumnya cenderung naik jika dilihat dalam jangka panjang.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas memang sangat fluktuatif dan sempat mencapai rekor hingga menyentuh angka Rp3.168.000/gram di akhir Januari lalu. Menariknya, terjadi anomali yang membuat harga emas turun belakangan ini.
Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran di awal 2026 ternyata tidak membuat harga emas menguat sebagaimana pola yang biasanya terjadi. Nilai logam mulia ini justru turun, penyebabnya adalah lonjakan harga minyak dunia, penguatan dolar, dan suku bunga tinggi.
Meski demikian, emas tetap menjadi instrumen investasi yang layak untuk dipilih, terutama untuk jangka panjang, karena bagaimanapun juga emas adalah salah satu safe haven atau aset yang mampu mempertahankan nilainya, bahkan di tengah kekacauan ekonomi dan politik.
Tren Harga Emas 10 Tahun Terakhir

Jika tertarik untuk membeli atau berinvestasi emas, setidaknya kita perlu mengetahui tren harga emas 10 tahun terakhir. Mengetahui tren nilai emas akan membantu kita memahami arah pergerakan harganya, apakah cenderung naik, turun, atau stabil di periode tertentu.
Dengan melihat pola tersebut, kita juga dapat menilai bagaimana harga emas bereaksi terhadap berbagai kondisi ekonomi seperti inflasi dan ketidakpastian pasar global.
Kenaikan Bertahap
Selama satu dekade terakhir, pergerakan harga emas menunjukkan kecenderungan naik secara umum. Perubahan harga emas ini dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, pandemi COVID-19 di 2020, hingga situasi geopolitik yang berkembang dari waktu ke waktu.Berdasarkan info grafik pergerakan harga emas 10 tahun terakhir di situs Trading Economics, tren harga emas yang naik tak lepas dari fluktuasi dan beberapa lonjakan yang cukup signifikan di beberapa periode.
1. Periode Stabil
Pada periode antara 2016 hingga akhir 2019, harga emas relatif stabil di kisaran $1.100 hingga $1.500 per troy ounce (t.oz) atau sekitar Rp600 ribu hingga Rp830 ribu per gram. Selama periode ini, harga emas terlihat cenderung datar dengan kenaikan yang tidak berarti.2. Tren Sideways
Memasuki tahun 2020 yang diwarnai krisis di tengah pandemi, harga emas mulai melonjak naik, bahkan sempat menembus angka $2.000/t.oz (± Rp1 juta) di sekitar bulan Agustus 2020.Setelah itu, harga mengalami konsolidasi atau bergerak menyamping (sideways) selama periode tahun 2021–2023. Di periode ini, harga emas bergerak naik-turun dalam rentang tertentu tanpa mencetak kenaikan yang ekstrem.
3. Lonjakan Eksponensial dan Harga Emas Saat Ini
Memasuki tahun 2024, harga emas menunjukkan perubahan momentum yang cukup drastis. Harga emas lepas landas dari zona konsolidasinya, bergerak naik secara tajam dan konsisten hingga tahun 2026.Kenaikan ini membawa harga emas menembus rekor-rekor baru, melewati level $3.000/t.oz hingga $4.000/t.oz, bahkan sempat menyentuh angka di atas $5.000/t.oz di awal tahun 2026.
Berdasarkan data terakhir di grafik (April 2026), harga emas dunia saat ini berada di level $4.762,7/t.oz, menunjukkan kenaikan harian sebesar 1,83% atau bertambah sekitar $82,6.
Per tanggal 10 April 2026, harga emas di Indonesia pun tercatat naik Rp7.000 dan berada di angka Rp2.857.000 per gram (untuk emas batangan bersertifikat Antam).
Faktor yang Mendorong Kenaikan Harga Emas

Harga emas 10 tahun terakhir memang sangat dinamis dan cenderung naik secara bertahap. Kenaikan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga nilai tukar dolar AS. Dikutip dari situs Sikapi Uangmu OJK, berikut hal-hal yang bisa mendorong kenaikan harga emas:
1. Ketidakpastian Kondisi Global
Ketika dunia dilanda ketidakpastian seperti krisis ekonomi, konflik geopolitik, atau ketegangan politik, emas biasanya menjadi pilihan utama investor. Dalam situasi seperti ini, banyak orang mencari aset yang lebih aman untuk melindungi nilai kekayaan mereka.Akibatnya, permintaan emas meningkat, dan hal inilah yang menyebabkan harga logam mulia tersebut ikut terdorong naik. Saat kondisi kembali stabil, minat terhadap emas biasanya menurun karena investor kembali beralih ke aset lain.
2. Hukum Permintaan dan Penawaran
Seperti komoditas lainnya, harga emas sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Ketika permintaan lebih besar daripada pasokan, harga emas cenderung naik. Sebaliknya, jika pasokan melimpah sementara permintaan menurun, harga bisa melemah.Menariknya, ketersediaan emas di dunia tergolong terbatas karena selain berasal dari tambang, pasokan juga bergantung pada daur ulang. Keterbatasan ini membuat emas tetap memiliki nilai tinggi, terutama saat permintaan meningkat.
3. Kebijakan Moneter dan Suku Bunga
Keputusan bank sentral AS (Federal Reserve System atau The Fed), khususnya terkait suku bunga, juga berperan besar dalam menentukan arah harga emas. Ketika suku bunga diturunkan, instrumen investasi lain terasa kurang menarik sehingga investor cenderung beralih ke emas.Sebaliknya, jika suku bunga naik, emas bisa kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya yang mengandalkan suku bunga. Oleh karena itu, perubahan kebijakan moneter seringkali sangat berdampak pada pergerakan harga emas di pasar global.

4. Inflasi
Inflasi yang tinggi membuat nilai uang menurun sehingga banyak orang mencari cara untuk menjaga daya beli mereka. Dalam kondisi ini, emas menjadi pilihan karena dianggap lebih stabil dan mampu mempertahankan nilai dalam jangka panjang.Semakin tinggi tingkat inflasi, biasanya minat terhadap emas juga meningkat. Hal ini akan mendorong harga emas naik karena permintaan yang semakin besar dari masyarakat maupun investor.
5. Nilai Tukar Dolar AS
Harga emas global umumnya ditetapkan dalam dolar AS sehingga pergerakan nilai tukar sangat memengaruhi harga emas, termasuk di Indonesia. Ketika dolar menguat atau rupiah melemah, harga emas dalam rupiah akan terlihat lebih mahal alias naik.Sebaliknya, jika rupiah menguat terhadap dolar, harga emas domestik bisa turun meskipun harga global relatif stabil. Oleh karena itu, nilai tukar mata uang menjadi salah satu faktor penting yang menentukan harga emas di dalam negeri.
Demikian informasi terkait tren harga emas 10 tahun terakhir yang menunjukkan kecenderungan meningkat secara keseluruhan, meskipun di beberapa periode terjadi lonjakan tajam dan fluktuasi.
Walau harganya dapat naik dan turun karena berbagai faktor, emas tetap dianggap sebagai salah satu aset yang relatif aman, terutama untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Ingin tahu lebih banyak tentang emas? Temukan info harga hingga cara investasi emas melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































