Menuju konten utama

Rangkuman Kabar Terbaru Perang Iran Hari Ke-41

Informasi perang Iran terbaru di hari ke-41 menunjukkan gencatan senjata antara AS-Iran dicoreng oleh aksi Israel yang memborbardir Lebanon.

Rangkuman Kabar Terbaru Perang Iran Hari Ke-41
Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel di desa Abbasiyeh di Lebanon selatan pada 10 Maret 2026. AFP/KAWNAT HAJU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel telah berlangsung selama 41 hari pada Kamis (9/4/2026). Kesepakatan gencatan senjata tercapai, namun serangan Israel di Lebanon telah membuat situasi kembali tak menentu.

Setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tercapai pada Rabu (8/4), ketegangan kini melanda Lebanon. Israel menyerang sejumlah wilayah termasuk Beirut pada Rabu, ratusan orang terbunuh dalam sehari, sementara ribuan lain terluka.

Seturut Al Jazeera, sedikitnya 254 orang terbunuh dalam serangan Israel ke Lebanon pada Rabu. Serangan besar-besaran itu membuat Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyebut telah memobilisasi "semua sumber daya politik dan diplomatik Lebanon untuk menghentikan mesin pembunuh Israel".

Serangan itu juga membuat PBB marah. Komisaris Tinggi hak Asasi Manusia PBB Volker Turk menyebut serangan Israel sebagai "pembantaian" yang tak dapat dipercaya karena terjadi dalam beberapa jam pasca kesepakatan gencatan senjata.

"Skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon saat ini sungguh mengerikan," katanya.

Oman dan Qatar juga mengeluarkan respons serupa. Kedua negara itu mengutuk serangan Israel ke kawasan padat penduduk di Lebanon dan menyebutnya sebagai kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional.

Di sisi lain, Israel terus membantah bahwa invasi mereka ke Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyatakan kesiapan pihaknya untuk "kembali berperang" dengan Iran jika perlu.

"Biar saya perjelas: Kami masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan, dan kami akan mencapainya, baik melalui kesepakatan atau memulai pertempuran baru," kata Netanyahu dalam siaran televisi.

Klaim bahwa Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata didukung Wakil Presiden AS JD Vance. Ia menyebut bahwa AS "tidak pernah membuat janji itu".

Hal itu berlainan dengan keterangan PM Pakistan Shehbaz Sharif. Ketika mengumumkan gencatan senjata pada Rabu, Sharif menyebut bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons serangan Israel ke Lebanon dengan menyebut bahwa hal tersebut dapat memicu perang kembali berlangsung. Dalam keterangannya pada Kamis dini hari, Araghchi menyebut bahwa AS perlu memilih antara gencatan senjata termasuk di Lebanon atau "perang berkelanjutan melalui Israel".

"Anda tidak bisa memiliki keduanya," kata Araghchi dalam keterangan di media sosial X miliknya.

Apakah Lebanon Masuk dalam Inti Perundingan Gencatan Senjata?

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mendesak Israel untuk menghentikan serangan ke Lebanon. Pezeshkian menyebut Lebanon adalah salah satu syarat utama dari 10 poin rencana Iran untuk mengakhiri perang di Asia Barat.

Sebelumnya, dalam keterangan yang dirilis Gedung Putih pada Rabu, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa 10 poin tuntutan Iran akan dijadikan dasar dalam proses negosiasi Washington dan Teheran selama masa gencatan senjata.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut serangan besar-besaran Israel ke Lebanon merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dan karenanya proses diplomatik disebutnya "tidak masuk akal".

Sementara itu, menurut pejabat senior AS yang tak disebut namanya, AS menerima dokumen tuntutan 10 poin gencatan senjata yang dibuat Iran berbeda dari yang beredar secara luas. Menurutnya Gedung Putih menyepakati gencatan senjata atas dokumen yang lain.

"Dokumen yang diberitakan oleh media bukanlah kerangka kerja," katanya.

Akan tetapi, internal Gedung Putih dilaporkan tengah kebingungan mengenai apa yang sebenarnya disetujui Trump. Internal Gedung Putih disebut juga kebingungan tentang apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata atau tidak.

Ketidakjelasan pada 10 poin tuntutan yang dirujuk Trump dan pihak-pihak lainnya membuat situasi di Selat Hormuz kembali tak menentu. Uni Emirat Arab (UAE) dilaporkan tengah mencari klarifikasi tentang ketentuan gencatan senjata. Menurut mereka, ambiguitas ini berisiko memperpanjang ketidakstabilan di kawasan Teluk.

Di luar 10 poin tuntutan Iran, pernyataan Trump juga membingungkan bagi Reza Pahlavi, putra Syah terakhir Kerajaan Iran yang digulingkan pada 1979. Trump sebelumnya menyebut Iran telah mengalami "perubahan rezim yang sangat produktif", namun Reza Pahlavi menyebut bahwa pemerintahan Iran tetap dipimpin "orang yang sama" meski kekuatannya melemah.

Sementara pernyataan Trump dipertanyakan, Presiden AS itu mengeluarkan pernyataan terbaru tentang NATO. Ia menyebut bahwa peperangan melawan Iran adalah "ujian" bagi kesiapan NATO mendukung AS dan para sekutunya itu telah gagal.

Pasca pengumuman gencatan senjata pada Rabu, ratusan pengunjuk rasa anti-perang berkumpul di Times Square untuk menyerukan diakhirinya perang secara permanen. Massa aksi juga menuntut Israel untuk menghentikan pemboman di Lebanon.

Negara-negara Teluk Masih Mendapat Serangan

Di sisi lain, negara-negara Teluk masih melaporkan adanya serangan rudal dan drone ke wilayah mereka. Serangan itu dilaporkan oleh Qatar, Arab Saudi, UAE, Bahrain, dan Kuwait.

Kuwait melaporkan "kerusakan material yang parah" dan kebakaran fasilitas minyak utama, pembangkit listrik, dan pabrik desalinasi air akibat serangan drone.

Sedangkan, UAE melaporkan tiga orang terluka dan aktivitas di kompleks gas Habshan di Abu Dhabi dihentikan sementara. Hal ini terjadi setelah puing-puing serangan yang dihadang memicu kebakaran.

Qatar juga melaporkan telah mencegat tuju rudal dan drone yang diluncurkan Iran. Sementara Saudi menyebut bahwa pipa besar yang melewati Selat Hormuz miliknya diserang. Bahrain juga melaporkan adanya proyektil yang masuk ke wilayah mereka.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar