tirto.id - Terwujudnya kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran tak lepas dari peran Pakistan sebagai mediator. Salah satu nama yang disebut berjasa adalah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Dalam pengumuman gencatan senjata dengan Iran, Presiden AS Donald Trump menyebut PM Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir yang berperan mencegahnya untuk menghujani Iran dengan serangan yang lebih besar.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta saya untuk menahan kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN SELAT Hormuz SECARA LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu, tulis Trump di akun Truth Socialnya, @realDonaldTrump.
Di sisi lain, Iran juga menyampaikan terima kasih terhadap Pakistan sehingga yang berperan dalam kesepakatan ceasefire.
“Atas nama Republik Islam Iran, saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada saudara-saudara saya yang terkasih, Yang Mulia Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Yang Mulia Marsekal Lapangan Munir, atas upaya tanpa lelah mereka untuk mengakhiri perang di kawasan ini,” tulis Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi di akun X @araghchi.
Profil PM Pakistan Shehbaz Sharif
Shehbaz Sharif adalah seorang politisi senior Pakistan yang menjabat sebagai Perdana Menteri sejak 4 Maret 2024, setelah sebelumnya juga memegang jabatan yang sama pada periode April 2022 hingga Agustus 2023.
Lahir di Lahore sebagai putra dari pengusaha terkemuka Mian Muhammad Sharif, ia berasal dari keluarga bisnis dan politik yang sangat berpengaruh di Pakistan.
Ia menempuh pendidikan di Government College Lahore dengan prestasi gemilang, sebelum terjun ke dunia bisnis keluarga dan kemudian aktif di politik. Karier politiknya dimulai dari Majelis Provinsi Punjab pada akhir 1980-an, lalu berlanjut ke Majelis Nasional, hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh penting dalam Partai Pakistan Muslim League-Nawaz (PML-N).
Ia juga dikenal sebagai adik dari Nawaz Sharif, yang tiga kali menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan.
Shehbaz Sharif membangun reputasinya sebagai administrator yang efektif, terutama saat menjabat sebagai Kepala Menteri (Chief Minister) Punjab selama beberapa periode, termasuk 1997–1999, 2008–2013, dan 2013–2018.
Di posisi ini, ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang cepat, tegas, dan berorientasi pada hasil, bahkan mendapat julukan “Shehbaz Speed” dari pihak China karena keberhasilannya mengeksekusi proyek-proyek besar, khususnya dalam kerangka China-Pakistan Economic Corridor.
Ia memimpin berbagai proyek infrastruktur ambisius, seperti sistem transportasi massal modern di Lahore, serta mendorong reformasi di sektor ekonomi, energi, kesehatan, dan pendidikan.
Selain itu, ia juga memainkan peran penting dalam perjuangan pemulihan demokrasi di Pakistan setelah kudeta militer 1999 yang menggulingkan pemerintahannya dan memaksanya menjalani pengasingan di Arab Saudi sebelum kembali pada 2007.
Sebagai pemimpin oposisi di Majelis Nasional dari 2018 hingga 2022, Shehbaz berada di garis depan dalam upaya politik untuk menggulingkan pemerintahan Imran Khan melalui mosi tidak percaya, yang akhirnya berhasil mengantarkannya ke kursi perdana menteri.
Berbeda dengan kakaknya, ia dikenal memiliki hubungan yang relatif lebih baik dengan militer Pakistan, yang memainkan peran besar dalam politik dan kebijakan keamanan negara tersebut.
“Negara ini berada dalam kekacauan total, akibat pemerintahan dan pengelolaan yang buruk dari pemerintahan Imran Khan. Mulai dari birokrasi yang lumpuh hingga tantangan kebijakan luar negeri dan ekonomi yang hancur, kekacauan merajalela,” kata Shehbaz kepada Al Jazeera sebelum ia terpilih (9/4/2022).
“Memperbaiki hubungan Pakistan dengan negara-negara sahabat juga merupakan prioritas utama saya. Kita adalah bangsa yang bertanggung jawab dan berharap dapat bekerja sama dengan teman dan sekutu untuk meningkatkan hubungan bilateral dan multilateral kita,” paparnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































