Menuju konten utama
Horizon

Stadion Azteca, Kuil Para Juara yang Bertarung di Ketinggian

Berada di ketinggian 2.240 mdpl, membuat Azteca tak mudah ditaklukkan. Hanya para legenda yang berhasil mengangkat trofi di stadion penuh kenangan ini.

Stadion Azteca, Kuil Para Juara yang Bertarung di Ketinggian
Estadio Azteca. x/@FIFAWorldCup
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hari itu langit Mexico City berubah muram. Hujan deras dan badai petir memaksa laga 16 besar Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Inggris ditunda hampir satu jam. Meski demikian, puluhan ribu penonton tetap memenuhi Stadion Azteca. Lagu "Don't Look Back in Anger" dari Oasis yang diputar lewat pengeras suara nyaris tenggelam oleh sorak-sorai suporter tuan rumah.

Bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-54, Inggris berhasil menaklukkan Meksiko 3-2 dan melaju ke perempat final. Kemenangan itu kembali mengingatkan dunia bahwa Stadion Azteca, yang kerap dijuluki Kuil Sepak Bola, hampir tak pernah kehabisan cerita.

Di lapangan inilah Pelé menutup kejayaannya. Enam belas tahun kemudian, Diego Maradona melahirkan dua gol paling terkenal dalam sejarah sepak bola.

Mengangkat Trofi di Azteca

Stadion Azteca resmi dibuka pada 29 Mei 1966 lewat laga persahabatan Club América melawan wakil Italia, Torino, yang berakhir 2-2. Arlindo Dos Santos, pemain asal Brasil, mencatatkan namanya sebagai pencetak gol pertama di atas rumput baru tersebut.

Empat tahun kemudian, Azteca menjadi tempat final Piala Dunia pertamanya. Lebih dari 107 ribu orang memenuhi tribun ketika Brasil menghadapi Italia pada 21 Juni 1970. Kedua tim sama-sama telah mengoleksi dua gelar juara dunia. Pemenang laga itu berhak membawa pulang Trofi Jules Rimet untuk selamanya.

Tim asuhan Mario Zagallo memadukan lima pemain bertipe playmaker—Pelé, Gerson, Rivelino, Tostao, Jairzinho—dalam satu kesatuan taktik mematikan. Pelé membuka gol lewat tandukan kepala menyambut umpan Rivelino. Italia sempat menyamakan kedudukan, tetapi babak kedua sepenuhnya dikuasai Brasil. Gol Gérson dan Jairzinho menambah keunggulan. Carlos Alberto lalu menutup pesta dengan gol indah hasil rangkaian umpan yang sempurna. Bola melesat ke sudut bawah gawang Italia, memastikan kemenangan Brasil 4-1.

Rivellino mengenang final itu sebagai pertandingan termudah yang mereka jalani sepanjang turnamen. Seusai peluit akhir berbunyi, ribuan penonton menerobos lapangan dan mengangkat Pelé yang mengenakan sombrero pemberian suporter Meksiko. Malam itu, Brasil menjadi pemilik abadi Trofi Jules Rimet.

Sejak final 1970, nama Azteca selalu muncul setiap kali sejarah Piala Dunia dibicarakan.

Dalam laga sebelumnya, stadion juga menjadi saksi Game of the Century antara Italia kontra Jerman Barat di semi final yang berlangsung dramatis. Skor 1-1 di waktu normal, lalu lima gol tercipta di perpanjangan waktu. Franz Beckenbauer yang mengalami dislokasi bahu tetap bermain dengan lengan terikat perban karena timnya tak bisa lagi melakukan pergantian. Meski Jerman Barat kalah 4-3, daya tahan Beckenbauer menjadi saksi ketangguhannya di Azteca.

 Stadion Azteca

Stadion Azteca. foto/istockphoto

Stadion ini kembali menunjukkan magisnya pada Piala Dunia 1986. Tahun itu sejatinya dijadwalkan berlangsung di Kolombia. Namun krisis ekonomi memaksa negara itu mundur sehingga FIFA kembali menunjuk Meksiko sebagai tuan rumah.

Panas siang dan udara tipis Mexico City kembali menjadi tantangan yang kelak sangat memengaruhi jalannya pertandingan. Demi kepentingan siaran televisi di Eropa, banyak laga sistem gugur digelar tepat pada siang hari.

Tanggal 22 Juni 1986, tim nasional Argentina berhadapan dengan Inggris pada laga perempat final. Kehadiran 114.580 penonton memadati seluruh sudut tribun stadion. Ketegangan tingkat tinggi menyelimuti pertandingan menyusul Perang Falkland pada tahun 1982.

Babak pertama berjalan sangat keras dan alot. Bek-bek Inggris bermain tanpa kompromi. Di sisi lain, Diego Maradona perlahan mulai mendominasi alur permainan. Menit ke-51, ia bergerak ke kotak penalti Inggris. Bola liar memantul ke udara setelah kesalahan antarpemain Inggris.

Kiper Inggris, Peter Shilton, melompat untuk meninju bola. Maradona ikut melonjak. Tingginya kalah jauh dari Shilton. Tangan kiri Maradona terangkat sepersekian detik. Bola meluncur ke gawang dan bergetar. Argentina bersorak. Pemain Inggris langsung mengejar wasit sambil memprotes keras. Gol "Tangan Tuhan" itu tetap disahkan.

Empat menit kemudian, Maradona menunjukkan sisi lain. Ia menggiring bola dari wilayah pertahanannya sendiri, melewati lima pemain Inggris, mengecoh Peter Shilton, lalu menggulirkannya ke gawang kosong. Proses selama sebelas detik itu kemudian dikenang FIFA sebagai "Gol Abad Ini".

Hingga kini, kedua gol Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 itu masih sering dibicarakan sebagai gambaran paling lengkap tentang Maradona. Satu gol lahir dari kontroversi, satu lagi dari kejeniusan.

Argentina terus melaju tak terbendung hingga mencapai final. Di partai puncak melawan Jerman Barat, Argentina menang tipis 3-2.

Dari Pelé, Beckenbauer, Carlos Alberto, hingga Maradona, sebagian momen paling dikenang dalam sepak bola abad ke-20 pernah berlangsung di Stadion Azteca.

Dibangun dari Batu Vulkanik dan Udara Tipis

Sebelum menjadi rumah bagi Pelé dan Maradona, Azteca lebih dulu lahir dari gagasan Presiden Federasi Sepak Bola Meksiko, Guillermo Cañedo, dan tokoh media Emilio Azcárraga Milmo pada awal 1960-an. Mereka ingin menghadirkan arena sepak bola yang menandingi Stadion Maracanã di Brasil.

Dua arsitek, Pedro Ramírez Vázquez dan Rafael Mijares Alcérreca, ditugaskan mewujudkan ambisi itu di Santa Úrsula, kawasan selatan ibu kota. Tantangan terbesar datang dari lapisan batuan vulkanik bekas letusan gunung berapi.

Jutaan kilogram batu harus diledakkan dengan dinamit sebelum pembangunan bisa dimulai. Biaya pembersihan lahan yang menyentuh 260 juta peso bahkan nyaris menggagalkan proyek tersebut.

Pembangunan Stadion Azteca berlangsung antara 1962 hingga 1966 dengan menggunakan sekitar 100 ribu ton beton dan 8 ribu ton baja. Berbeda dari banyak stadion besar pada masanya, Azteca sejak awal dirancang khusus untuk sepak bola tanpa lintasan atletik. Tribunnya dibentuk menyerupai mangkuk raksasa tanpa sudut mati, membuat lebih dari seratus ribu penonton tetap merasa dekat dengan lapangan.

Para arsitek juga memperhitungkan setiap sudut pandang secara saksama agar tidak ada pilar yang menghalangi pandangan. Kanopi dipasang pada struktur luar stadion, sementara kemiringan tribun dibuat lebih curam untuk memperkuat kesan intim di dalam arena. Rancangan beton bertulang itu terbukti tangguh setelah mampu bertahan melewati gempa besar yang mengguncang Mexico City pada 1985 dan 2017.

Nama Azteca lahir dari sayembara kartu pos pada 1966. Antonio Vázquez Torres dari León mengusulkan nama yang merujuk pada kejayaan peradaban kuno. Ia mendapat hadiah berupa hak kepemilikan dua kursi di tribun utama selama 99 tahun.

 Stadion Azteca

Stadion Azteca. foto/istockphoto

Selain arsitekturnya, lokasi geografis Azteca memberi keunggulan nyata bagi tuan rumah. Ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut membuat udara lebih tipis sehingga bola melaju lebih cepat dan sulit diprediksi.

"Ketika bola bergerak lebih lambat, tidak ada kemampuan dalam melakukan tembakan," kata Barton Smith, pakar teknik mesin dan dirgantara di Utah State University.

Dampaknya jauh lebih terasa bagi pemain. Pasokan oksigen menurun sehingga tubuh lebih cepat lelah. Penelitian Patrick McSharry dari Oxford University (2007) bahkan menunjukkan keunggulan tim tuan rumah meningkat seiring bertambahnya ketinggian.

Sementara tim tamu dari dataran rendah sulit beradaptasi. Mereka harus mengubah filosofi permainan, menekan lawan terus-menerus hanya menguras tenaga. Strategi paling efisien adalah mengendalikan ritme lewat umpan pendek dan menghemat energi. Panas terik siang hari memperburuk kondisi, menguras cairan tubuh dan menekan daya tahan pernapasan.

Kombinasi udara tipis dan hawa panas menjadikan Azteca benteng alami yang sulit ditaklukkan.

Lebih dari Kuil Sepak Bola

Setelah hampir enam dekade menjadi pusat sepak bola Amerika Latin, Stadion Azteca akhirnya memasuki masa peremajaan besar. Sejak pertengahan 2024, stadion ditutup untuk renovasi menyambut Piala Dunia 2026.

Foto udara yang sempat beredar memperlihatkan pembongkaran sebagian tribun atas, memicu kekhawatiran publik bahwa ikon nasional itu dirusak. Kenyataannya, pembongkaran tersebut hanyalah tahap penyesuaian dimensi tribun dan jalur evakuasi sesuai standar keselamatan FIFA.

Proyek bernilai ratusan juta dolar ini menyentuh hampir semua aspek stadion, mulai dari rumput hibrida, ruang ganti baru, pencahayaan LED, jaringan internet, layar raksasa, aksesibilitas, area VIP, hingga sistem keamanan digital. Azteca dipaksa menyesuaikan diri dengan standar stadion modern tanpa sepenuhnya meninggalkan bentuk lamanya.

Pendanaan proyek ditopang oleh langkah komersial Grupo Ollamani yang menyewakan hak penamaan stadion. Pada 2025, Azteca sempat berganti nama menjadi Estadio Banorte setelah kesepakatan pinjaman senilai 2,1 miliar peso. Keputusan ini memicu kritik karena dianggap mengomersialisasi sejarah. Namun FIFA menegaskan selama Piala Dunia, stadion hanya boleh tampil dengan nama netral Estadio Ciudad de México dalam dokumen resmi dan siaran.

Renovasi juga memunculkan sengketa hukum. FIFA menuntut kontrol penuh atas stadion, termasuk membatasi hak pemilik kotak VIP yang sejak 1960-an dijanjikan akses eksklusif 99 tahun. Larangan membawa makanan sendiri dan ancaman pembatasan akses ditolak keras. Gugatan hukum akhirnya dimenangkan para pemilik suite di pengadilan federal, memaksa FIFA menghormati kontrak lama.

Sepanjang Piala Dunia 2026, Stadion Azteca menjadi lokasi laga pembuka antara Meksiko melawan Afrika Selatan, dua pertandingan fase grup, satu laga babak 32 besar, serta duel 16 besar Meksiko melawan Inggris. Dengan lima pertandingan tambahan itu, Azteca mempertebal statusnya sebagai stadion paling sering digunakan dalam sejarah Piala Dunia.

Namun, Azteca tidak hidup hanya dari sepak bola. Tribunnya pernah berubah menjadi ruang doa ketika Paus Yohanes Paulus II memimpin pertemuan akbar bersama lebih dari seratus ribu umat. Beberapa dekade kemudian, stadion yang sama dipenuhi penonton konser Michael Jackson, U2, Paul McCartney, hingga Shakira. NFL pun pernah memakainya sebagai arena pertandingan musim reguler pertama di luar Amerika Serikat.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi