Menuju konten utama
Horizon

Anak-Anak Skuad 1994 Membawa Norwegia Kembali ke Piala Dunia

Membangun sarana sepak bola yang sesuai dengan kondisi alam, juga merombak struktur pembinaan elite, membawa Norwegia kembali bersaing di level tertinggi.

Anak-Anak Skuad 1994 Membawa Norwegia Kembali ke Piala Dunia
Goran Sorloth dan Alexander Sorloth. (Sumber: IMAGO/Buzzi via Reuters Connect / Justin Setterfield/Getty Images via AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - 28 Juni 1994, Norwegia memainkan laga terakhir penyisihan Grup E melawan Republik Irlandia di Giants Stadium. 76 ribu penonton hadir menyaksikan Erik Thorstvedt yang berdiri di bawah mistar, Kjetil Rekdal di tengah, serta Jostein Flo dan Gøran Sørloth di lini depan. Kali ini, Alf-Inge Haaland duduk di bangku cadangan. Posisinya diganti Henning Berg, bek asal Blackburn Rovers.

Setelah menang atas Meksiko dan kalah dari Italia, Norwegia wajib mengalahkan Republik Irlandia untuk menjaga peluang lolos.

Pertandingan berjalan keras. Wasit mengeluarkan beberapa kartu kuning bagi kedua pemain. Irlandia unggul penguasaan bola. Di menit-menit akhir babak kedua, Erik Thorstvedt hampir melakukan kesalahan yang coba dimanfaatkan Roy Keane lewat tendangan chip, namun bola mendarat tipis di atas jaring gawang.

Saat peluit panjang ditiup wasit asal Kolombia dengan skor akhir 0-0, para pemain Norwegia masih menunggu kabar dari pertandingan lain antara Italia melawan Meksiko.

Kabar itu lalu tiba. Italia dan Meksiko bermain imbang 1-1. Empat tim di Grup E sama-sama mengoleksi empat poin. Sayangnya, skuad asuhan Egil Olsen itu kalah dalam hitungan selisih gol dan produktivitas. Mereka ada di dasar klasemen dan harus angkat koper.

Tempat Sama, Kejayaan Berbeda

Tiga puluh dua tahun kemudian, sejarah berputar di lokasi yang sama. Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Norwegia dan Brasil digelar di MetLife Stadium, arena modern yang berdiri tepat di atas tanah bekas Giants Stadium.

Generasi Norwegia ini diperkuat anak-anak dari generasi 1994. Erling Haaland sebagai penyerang utama, Alexander Sørloth yang bersinar di Spanyol bersama Atletico Madrid, serta Kristian Thorstvedt yang mengawal lini tengah.

Pada babak pertama, mentalitas mereka diuji saat wasit menunjuk titik putih untuk Brasil menyusul pelanggaran Kristoffer Ajer terhadap Matheus Cunha. Penjaga gawang Ørjan Nyland tampil heroik dengan menepis tendangan penalti Bruno Guimarães.

Memasuki babak kedua, pelatih Ståle Solbakken melakukan perubahan taktis dengan memasukkan Oscar Bobb dan Andreas Schjelderup. Keputusan ini mengubah arah pertandingan. Pada menit ke-79. Schjelderup melepaskan umpan silang akurat dari sisi kiri, lalu Erling Haaland melompat mendahului bek asal Arsenal Gabriel Magalhães untuk menanduk bola ke sudut gawang Alisson Becker. 1-0 Norwegia unggul.

Sebelas menit berselang, Haaland kembali mencatatkan namanya di papan skor. Ia melepaskan tendangan mendatar dari luar kotak penalti yang meluncur melewati sela kaki Danilo. Brasil sempat membalas lewat penalti Neymar.

Kemenangan 2-1 memastikan langkah Norwegia ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah. Haaland lalu memimpin perayaan ikonik Viking Row bersama ribuan suporter yang ada di tribun. Di bangku penonton, Gøran Sørloth dan Erik Thorstvedt menyaksikan dengan mata berkaca-kaca. Anak-anak dari skuad 1994 ini berhasil melampaui pencapaian orang tua mereka.

Viking Row di Piala Dunia 2026

Erling Haaland (nomor punggung 9) dari Norwegia dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan bersama para penggemar setelah pertandingan Babak 32 Besar Piala Dunia FIFA 2026 yang berakhir dengan skor 2-1 antara Pantai Gading dan Norwegia di Stadion Dallas pada 30 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Photo by Lars Baron/Getty Images via AFP)

Revolusi Sepak bola Norwegia

Pada pertengahan 1990-an, Egil Olsen kerap mengandalkan taktik pragmatis 4-5-1. Alih-alih membangun serangan pendek, Norwegia mengandalkan umpan lambung diagonal ke arah Jostein Flo yang yang punya postur tinggi 192 cm. Ia ditempatkan melebar agar unggul duel udara melawan bek sayap lawan. Pola yang pertama kali digunakan saat menghadapi Portugal pada 1993 itu kemudian dikenal sebagai Flo-pass atau Flo-pasningen.

"Aku ingat betul itu. 'Flo pass' diuji dengan keberuntungan yang sangat besar," kenang Egil Olsen.

Taktik seperti itu terus digunakan Norwegia dan sempat membuat mereka berada di posisi kedua ranking FIFA pada tahun 1997 di bawah Brasil. Setahun kemudian, mereka sukses menembus Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.

Namun sepak bola Eropa berubah, fokus pada teknik dan penguasaan ruang, sementara Norwegia tetap bertahan dengan cara usang. Tim nasional Norwegia kemudian gagal lolos ke enam edisi Piala Dunia berturut-turut. Dekade 2010-an dipenuhi kekalahan memalukan. Mereka takluk dari Azerbaijan dan nyaris dipermalukan oleh San Marino yang berhasil mencetak gol di Oslo pada kualifikasi Piala Dunia tahun 2016.

Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) lalu menyadari bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memecat dan mengganti pelatih tim nasional. Akarnya terletak pada kerusakan sistemik di fondasi pengembangan pemain.

Langkah pertama dari revolusi ini adalah menaklukkan tantangan alam. Iklim Skandinavia yang keras dengan musim dingin panjang membuat para pemain muda kesulitan berlatih secara konsisten sepanjang tahun.

Mengutip halaman UEFA, antara tahun 2016 hingga 2025, sebanyak 539 lapangan rumput sintetis baru dibangun, sementara 586 lapangan lainnya direnovasi total. Kehadiran rumput sintetis membuat pemain muda tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca sehingga dapat berlatih sepanjang tahun.

Pembangunan lapangan lalu dipadukan dengan adopsi filosofi sepak bola jalanan. NFF membangun lapangan berukuran mini di tengah kawasan permukiman untuk mendorong anak-anak bermain secara bebas tanpa intervensi pelatih.

"Itu berarti kami dapat berlatih dengan cara yang berbeda, dengan lebih banyak latihan seperti permainan, dan mengembangkan pemain dengan sentuhan dan keterampilan yang lebih baik di ruang yang sempit," ujar Håkon Grøttland, kepala pengembangan pemain dan pelatih NFF.

Langkah strategis kedua adalah perombakan total struktur pembinaan elite. Pada 2017, organisasi klub profesional Norsk Toppfotball meluncurkan Model Klasifikasi Akademi (ACM) dengan sistem bintang satu hingga lima, menilai sebelas aspek mulai dari kualitas pelatih hingga produktivitas pemain.

Berdasarkan riset Cogent Social Sciences (2024), ACM diterapkan untuk meningkatkan kualitas akademi sepak bola Norwegia. Dana pengembangan disalurkan sesuai peringkat, memaksa klub membangun pembinaan usia muda secara profesional. Pelatih berlisensi penuh menggantikan relawan, kurikulum sistematis diterapkan, dan standar latihan harian ditingkatkan.

Sebelumnya pada 2015, NFF telah meluncurkan program Landslagsskolen (Sekolah Tim Nasional) yang memberi jalur jelas bagi pemain 12–16 tahun dari klub amatir hingga tim nasional usia muda.

Landslagsskolen memanfaatkan platform digital untuk memantau perkembangan talenta dan menghubungkan pelatih akar rumput dengan tim nasional usia muda. Sistem ini melahirkan generasi pemain seperti Martin Ødegaard, Erling Haaland, Antonio Nusa, Oscar Bobb, Julian Ryerson, Jørgen Strand Larsen, dan Sander Berge.

Lahir juga deretan pemain eksplosif seperti Antonio Nusa dan Oscar Bobb yang membawa warna baru lewat kelincahan lini sayap. Disusul Julian Ryerson, Jørgen Strand Larsen, dan Sander Berge yang menambah keseimbangan mentalitas tangguh didikan liga-liga papan atas Eropa.

Perubahan itu akhirnya melahirkan generasi pemain yang membawa Norwegia kembali bersaing di level tertinggi.

Timnas Norwegia

NEW JERSEY, AMERIKA SERIKAT - 5 Juli: Para pemain Norwegia berfoto bersama sebelum pertandingan Babak 16 Besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Brasil dan Norwegia di Stadion New Jersey (Stadion MetLife) di East Rutherford, New Jersey, AS, pada 5 Juli 2026. (Abdulhamid Hosbas / Anadolu via Reuters Connect)

Warisan yang Tidak Datang Begitu Saja

Tiga pemain Norwegia menjadi sorotan yang dikaitkan dengan faktor keturunan. Postur Erling Haaland, tubuh atletis Alexander Sørloth, atau fisik Kristian Thorstvedt seolah menegaskan peran DNA. Sains olahraga pun mengakui genetika memengaruhi potensi fisik.

Namun keberhasilan mereka tidak bisa dijelaskan hanya lewat biologi. Lingkungan keluarga, budaya masyarakat, dan sistem pembinaan Norwegia memainkan peran yang jauh lebih besar. Norwegia memiliki regulasi khusus bernama Barneidrettsbestemmelsene (Ketentuan Olahraga Anak) yang berada di bawah Komite Olimpiade Norwegia (NIF). Aturan ini menekankan olahraga anak harus aman, inklusif, menyenangkan, dan sesuai tahap perkembangan.

Kompetisi tetap ada, tetapi skor, tabel, dan peringkat tidak dijadikan pusat perhatian sejak usia dini. Kejuaraan nasional maupun internasional bahkan baru diizinkan ketika anak berusia tiga belas tahun.

Riset bertajuk "Norwegian Children's Rights in Sport and Coaches' Understanding of Talent" (2017) menunjukkan bahwa pendekatan tersebut membuat atlet muda Norwegia tumbuh dalam iklim olahraga yang sehat sebelum memasuki jalur profesional. Mereka menikmati masa kecil tanpa tekanan berlebihan, lalu memasuki jalur profesional dengan mental lebih matang dan fisik lebih siap.

Metode itu tampak jelas dalam perjalanan masa kecil Erling Haaland di Bryne. Di bawah asuhan pelatih Alf Ingve Berntsen, lebih dari 40 anak seusianya tumbuh di klub lokal, berlatih tanpa seleksi kemampuan yang ketat sejak usia dini. Mereka diberi ruang untuk menikmati permainan, berani mencoba hal baru, dan belajar dari setiap kesalahan operan tanpa takut kehilangan tempat di tim.

Filosofi pembinaan olahraga Norwegia, Flest mulig, lengst mulig (sebanyak mungkin, selama mungkin), memberi Haaland ruang untuk berkembang tanpa tekanan kompetisi berlebihan sebelum akhirnya bergabung dengan Molde FK pada usia 16 tahun.

Peran keluarga juga penting. Pengalaman Alf-Inge Haaland di level elite membuatnya lebih mengutamakan kesempatan bermain dan pengembangan teknis putranya daripada nilai kontrak. Keputusan bertahap dari Bryne menuju Molde, lalu melompat ke Salzburg dan Dortmund, memberi Haaland kesempatan berkembang di setiap level tanpa harus melompati tahapan penting dalam kariernya.

Pendekatan setiap keluarga pun tidak selalu sama. Erik Thorstvedt memilih memberi kebebasan kepada putranya, Kristian, untuk menentukan jalan sendiri. Ketika Kristian sempat kehilangan minat terhadap sepak bola pada masa remaja, sang ayah tidak memaksanya bertahan. Kesempatan bersama Viking Stavanger justru menjadi titik balik yang mengembalikan gairahnya bermain.

Di sisi lain, Hans Erik Ødegaard mengambil pendekatan yang lebih intensif kepada Martin. Sejak kecil ia rutin mendampingi putranya menjalani latihan tambahan di fasilitas Strømsgodset, tetapi tetap memberi ruang bagi Martin untuk menikmati permainan dan mengambil keputusan sendiri di lapangan.

Ketika lagu kebangsaan Norwegia "Ja, vi elsker dette landet" berkumandang di Piala Dunia 2026, generasi Norwegia tumbuh dalam zaman berbeda, dengan cara bermain, tuntutan, dan harapan yang juga tak sama.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi