tirto.id - Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, BAIS TNI, serta Bea dan Cukai berhasil menangkap gembong narkoba Dewi Astutik alias Mami pada Selasa, 2 Desember 2025 di hotel Sihanoukville, Kamboja. Siapa Dewi Astutik?
Penangkapan Dewi Astutik berlangsung tanpa perlawanan. Ia merupakan aktor intelektual penyelundupan 2 ton sabu jaringan Golden Triangle serta terlibat sejumlah kasus besar jaringan Golden Crescent. Video penangkapannya pun beredar luas di media sosial.
Operasi senyap lintas negara yang dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan ini akhirnya berhasil meringkus Dewi, yang juga diburu Korea Selatan.
Setibanya di Indonesia, Dewi akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap pendanaan, logistik, dan jejaring internasional yang mengedarkan berbagai jenis narkotika di Asia Timur dan Asia Tenggara.
Profil Dewi Astutik
Dewi Astutik alias PA adalah wanita berusia 43 tahun dengan identitas KTP tercatat lahir di Ponorogo pada 8 April 1983. Ia diketahui beralamat di RT. 01, RW.01. Dusun Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur.
Meski beralamatkan Dukuh Sumber Agung, menurut Kepala Dusun, Gunawan, Dewi bukan warga asli daerah tersebut, melainkan pendatang dari Slahung yang mulai tinggal di sana setelah menikah dengan seorang warga setempat pada tahun 2009.
Sosok Dewi dikenal tidak terlalu akrab dengan lingkungan sekitar meskipun beberapa warga mengenali wajahnya. Menurut penuturan tetangganya, Dewi kerap tampil dengan gaya dan penampilan yang berubah-ubah, termasuk gaya rambut yang sering berganti.
Sebelum terseret kasus narkoba berskala internasional, Dewi memiliki riwayat panjang sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Ia pernah bekerja bertahun-tahun di Taiwan, kemudian di Hong Kong, dan terakhir di Kamboja.
Pada 2023, ia sempat pulang ke Ponorogo setelah Lebaran dan berpamitan hendak kembali bekerja ke luar negeri, dengan alasan sulit mendapatkan pekerjaan tetap di kampung.
Ketika ditanya mengapa memilih Kamboja yang begitu jauh, Dewi hanya menjawab bahwa ia tidak memiliki pilihan pekerjaan lain, bahkan rela meninggalkan suaminya untuk kembali merantau. Masa kepulangannya pun singkat, hanya sekitar satu bulan sebelum akhirnya berangkat lagi ke luar negeri.
Nama Dewi makin mencuat setelah BNN mengungkap dugaan keterlibatannya sebagai aktor intelektual dalam jaringan narkoba internasional yang disebut terhubung dengan kelompok Fredy Pratama.
Ia diduga berperan besar dalam penyelundupan sabu senilai sekitar Rp5 triliun, hingga membuat alamat tinggalnya di Dusun Sumber Agung menjadi sorotan publik dan aparat.
Warga setempat mengaku terkejut dan prihatin setelah mengetahui Dewi masuk daftar buronan internasional dan menjadi perhatian Interpol, terlebih dengan adanya aparat kepolisian yang sempat mendatangi wilayah itu untuk memastikan identitas serta alamatnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































