tirto.id - Sejarah dan isi prasasti Damalung menjadi perhatian seiring proses kembalinya ke Indonesia setelah lama berada di Belanda. Bagaimana kisah sejarah Prasasti Damalung dan apa isinya?
Proses pemulangan Prasasti Damalung dikabarkan oleh Kementerian Kebudayaan dalam siaran berita Nomor: 180/Sipers/A4/HM.00.05/2026.
Pengembalian Prasasti Damalung kembali ke Indonesia dilakukan setelah adanya kesepakatan antara Duta Besar RI untuk Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Belanda, Youssef Louakili pada 31 Maret 2026 di Den Haag.
Sebelum kembali ke Indonesia, Prasasti Damalung menjadi bagian koleksi Wereldmuseum Amsterdam dan Wereldmuseum Leiden. Menurut keterangan Kementerian Kebudayaan, proses pengiriman Prasasti Damalung tengah berlangsung. Sesampainya di Indonesia, artefak tersebut rencananya akan diserahkan kepada Museum Nasional Indonesia.
Sejarah & Isi Prasasti Damalung
Dahulu kala, Gunung Merbabu yang terletak di Jawa Tengah memiliki peran penting dalam perkembangan kaum agamawan, cendekiawan, dan punjangga Hindu Budha.
Pada abad ke-14-15 Masehi, perkampungan kaum agamawan disebut mandala. Adapula yang menyebut sebagai padepokan atau skriptoria. Lokasi skriptoria tersebut menghasilkan karya sastra. Salah satunya berbentuk prasasti.
Mengutip jurnal berjudul "The Scriptoria In The Merbabumerapi Area" karya Kuntara Wiryamartana, seorang bernama Bujangga Manik berkunjung ke wilayah Jawa pada abad ke 15.
Laporan perjalanan Bujangga Manik menyatakan bahwa sekitar tahun 1500, Damalung merupakan salah satu pusat studi agama di Jawa. Bujangga mengunjungi tempat-tempat itu untuk mempelajari kaidah-kaidah berperilaku, pengetahuan bahasa, dan aksara.
Skriptoria di lingkungan gunung Merbabu, tersebar di beberapa lokasi, yaitu di puncak gunung (ywagra), di lereng gunung (gĕgĕr) dan di kaki gunung (jőŋ). Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Sang Hyang Damalung dikenal sebagai nama lama Gunung Merbabu.
Menurut Rendra Agusta dalam "Damalung: Uriping Buwana - Uruping Bawana", Sang Hyang Damalung menjadi gunung suci dan tercatat dalam Prasasti Kuti tahun 840 Masehi. Batu Damalung atau Prasasti Damalung ditemukan oleh Residen Semarang Hendrik Jacob (HJ) Domis di perkebunan warga dusun Ngadoman, Kabupaten Semarang, tahun 1824.
Dusun ini berada sisi timur lereng Gunung Merbabu yang dahulu disebut Damalung. Residen HJ Domis menemukan Prasasti Damalung saat berkunjung ke lereng Gunung Mebabu. Penemuan tersebut ia tuangkan dalam "Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels" (1825).
Prasasti itu berupa sebuah batu besar, hampir persegi, dengan prasasti dalam aksara Jawa Kuno, yang diyakininya berasal dari era Hindu. Setelah ditemukan pada 1824, Domis menempatkan di halaman kediaman yang berada di Salatiga.
Mengutip situs web nitroburner.nl dalam artikel yang berjudul "De verdwenen steen van Salatiga" atau "Batu Salatiga yang hilang", alasan utama HJ Domis memindahkan batu tersebut adalah demi melestarikan dari kerusakan lebih lanjut.
Setelah itu, Prasasti yang diberi nama Prasasti Damalung ini diduga dipindahkan ke Belanda sekitar tahun 1825. Dari seorang ahli, Residen HJ Domis menerima terjemahan Prasasti Damalung yang berisi berikut ini:
"Demikianlah! Karena keyakinan, Anda harus bertindak dengan benar, agar dengan demikian memperoleh penghargaan dan kehormatan; namun ini tidak boleh dilakukan secara munafik tetapi dengan hati yang murni, dan karena alasan itu, Anda harus melaksanakan kewajiban agama Anda dengan tulus, untuk menghilangkan semua pikiran jahat dari diri Anda, sehingga semuanya menjadi jelas bagi Anda, seperti sinar matahari dan cahaya bulan. Semua orang harus tahu bahwa mereka yang telah mencapai martabat tinggi mematuhi perintah Batara, dan mereka yang tidak mematuhinya akan binasa. Memfitnah sesama manusia adalah buruk; Bergembiralah, tetapi jangan pernah lupa untuk berdoa, dan untuk meninggalkan apa yang dilarang.
Lebih lanjut, penting bagi Anda untuk mengikuti ajaran itu, karena siapa pun yang mematuhinya dalam segala bagiannya akan berbahagia. Mengenai doa, tidak ada yang lebih baik daripada mengikuti tujuh kitab yang ditulis pada tahun 427."
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































