Menuju konten utama

Rupiah Melemah, Danantara Bakal Terbitkan Surat Utang Dolar AS

Obligasi tersebut akan diterbitkan melalui Danantara Investment Management (DIM), unit pengelola investasi di bawah Danantara.

Rupiah Melemah, Danantara Bakal Terbitkan Surat Utang Dolar AS
Pekerja membersihkan kaca gedung Wisma Danantara Indonesia di Jakarta, Selasa (8/7/2025). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjalin kerja sama investasi dengan perusahaan asal Arab Saudi, ACWA Power senilai 10 miliar dolar AS atau setara Rp162 triliun yang berfokus pada proyek pembangkit energi terbarukan, turbin gas siklus gabungan, hidrogen hijau, dan desalinasi air. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) disebut tengah menjajaki peluang untuk menerbitkan surat utang atau obligasi dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Rencana ini mencuat setelah Bloomberg dan Reuters mewartakan bahwa sovereign wealth fund (SWF) Indonesia itu telah menunjuk sejumlah bank untuk mempersiapkan penerbitan obligasi dalam greenback.

Menurut sejumlah pihak yang mengetahui masalah ini, Danantara telah menunjuk beberapa bank untuk memfasilitasi serangkaian pertemuan dan panggilan konferensi dengan investor fixed income di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat yang dimulai pada Rabu. Sumber-sumber tersebut meminta agar identitas mereka tidak diungkapkan karena informasi yang dibahas masih bersifat tertutup.

Obligasi tersebut akan diterbitkan melalui Danantara Investment Management (DIM), unit pengelola investasi di bawah Danantara.

Dalam pernyataan resminya, Danantara menyatakan DIM secara rutin menjajaki berbagai opsi pendanaan, baik di pasar domestik maupun internasional, untuk mendukung mandat investasi jangka panjangnya.

"Setiap inisiatif pendanaan tetap harus melalui proses tata kelola perusahaan yang berlaku, memperoleh persetujuan regulator, serta mempertimbangkan kondisi pasar yang ada," demikian pernyataan Danantara, dikutip Bloomberg, Kamis (4/6/2026).

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Danantara telah menunjuk Citigroup, DBS Bank, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered sebagai joint lead managers sekaligus joint bookrunners untuk memfasilitasi rangkaian pertemuan dengan investor fixed income di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat yang dimulai pada Rabu.

Meski demikian, mandat yang diberikan kepada bank-bank tersebut tidak menjamin bahwa penerbitan surat utang akan berlanjut hingga tahap transaksi. Proses ini masih merupakan bagian dari penjajakan pasar dan pengukuran minat investor.

Baca juga:Monopsoni

Dalam prospektus penawaran obligasi, Danantara menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia tidak menjamin kewajiban pembayaran yang timbul dari surat utang tersebut. Dengan demikian, investor akan menanggung risiko kredit yang melekat pada penerbit, bukan risiko yang secara langsung dijamin oleh negara.

Hasil penerbitan obligasi direncanakan untuk mendukung berbagai kebutuhan korporasi, termasuk pendanaan investasi dan pelunasan atau restrukturisasi utang yang telah ada sebelumnya.

Langkah ini dipandang sebagai ujian terhadap tingkat kepercayaan investor terhadap Danantara. Pun, rencana penerbitan obligasi ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sejumlah program pertumbuhan ekonomi yang diusung Presiden Prabowo Subianto.

Kekhawatiran itu mengemuka setelah lembaga pemeringkat Moody's Ratings dan Fitch Ratings sama-sama menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

Apalagi, awal tahun ini, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pihaknya ingin Danantara mampu mencatat tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) setidaknya 5 persen. Dengan total aset yang menurut perhitungan internal Danantara mencapai sekitar 1 triliun dolar AS, untuk mencapai target tersebut berarti Danantara harus mencapai pendapatan sekitar 50 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama