Menuju konten utama

Rupiah Makin Loyo, Rosan: Masih Bisa Diterima Investor

Menurut Rosan, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu belakangan masih dapat dimaklumi oleh investor asing.

Rupiah Makin Loyo, Rosan: Masih Bisa Diterima Investor
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memaparkan realisasi investasi triwulan II 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Selasa (29/7/2025)ANTARA FOTO/Fauzan/YU

tirto.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengaku tak cemas terhadap dampak tren depresiasi nilai rupiah yang belakangan terjadi terhadap iklim investasi di Indonesia.

Menurut Rosan, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir juga tidak menunjukkan tren kenaikan yang stabil. Karena itu, ia menilai pelemahan rupiah masih dapat dimaklumi oleh investor asing.

"Kalau kita lihat, USD [US dollar] itu kan bukan suatu kenaikan yang meningkat terus, ini kan masih naik turun. Saya melihat ini masih dalam range yang sangat-sangat acceptable oleh investor luar juga," tuturnya saat konferensi pers di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Rosan menambahkan, investor asing pada umumnya telah memperhitungkan potensi fluktuasi nilai tukar rupiah ketika menanamkan modal di Indonesia.

"Jadi, mereka sudah memperkirakan pergerakan dari mata uang kita pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia. Jadi, pergerakan itu masih dalam range yang sangat-sangat acceptable," sebutnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis dengan menyentuh level Rp16.896 per dolar AS. Pelemahan tersebut mencapai 31 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.865 per dolar AS.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti pelemahan rupiah yang terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai lebih lunak terhadap Iran menjadi salah satu faktor yang menekan pasar.

“Ketegangan antara AS dan Iran mereda setelah Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa ia telah diyakinkan bahwa otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran,” jelas Ibrahim, Kamis.

Ia menilai pernyataan tersebut mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi militer yang dapat mengganggu stabilitas global. Selain itu, sentimen pasar juga didorong oleh sinyal positif dari AS terkait pembicaraan dengan Venezuela serta klarifikasi Trump yang menyatakan tidak akan memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

“Ini meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS,” ujarnya.

Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dinilai masih cukup kuat meski di tengah rilis data ekonomi AS yang beragam. Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Oktober menunjukkan inflasi yang masih berada jauh dari target bank sentral AS (The Fed).

Namun, di sisi lain, data penjualan ritel AS yang melampaui ekspektasi mengindikasikan kuatnya konsumsi masyarakat. Lebih lanjut, Ibrahim berpendapat bahwa perhatian pasar kini tertuju pada rilis data klaim pengangguran awal AS yang dijadwalkan pada pekan ini.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana