Menuju konten utama

Di Hadapan Prabowo, Bos BI Ungkap Perlunya Rupiah Digital

CBDC diperlukan untuk memitigasi risiko dari semakin maraknya keberadaan uang kripto dan stable coin.

Di Hadapan Prabowo, Bos BI Ungkap Perlunya Rupiah Digital
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo penyampaian hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor LPS, Jakarta, Senin (28/7/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menilai Indonesia sudah perlu memiliki mata uang digital sendiri yang diterbitkan oleh bank sentral (central bank digital currency/CBDC).

Uang digital ini diperlukan untuk memitigasi risiko dari semakin maraknya keberadaan uang kripto dan stable coin –jenis aset kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang stabil karena nilainya dipatok pada aset pendukung yang stabil seperti mata uang fiat atau komoditas.

Apalagi, sampai saat ini Indonesia belum memiliki pengaturan dan pengawasan yang jelas terkaIt mata uang kripto dan stable coin.

“Maraknya uang kripto dan stable coin pihak swasta. Belum ada pengaturan dan pengawasan yang jelas, di sinilah perlunya central bank digital currency,” ujar Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), di Kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).

Sementara itu, maraknya uang kripto dan stable coin kini tengah menjadi perhatian Bank Indonesia, bahkan Bank Sentral menjadikannya salah satu dari lima faktor yang mendorong ketidakpastian global pada 2026-2027. Bersamaan dengan ketidakpastian yang muncul akibat kebijakan tarif Amerika Serikat, perlambatan ekonomi dunia, tingginya utang pemerintah dan suku bunga acuan bank-bank sentral di negara maju.

Kemudian, ada pula tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia karena transaksi produk derivatif yang berlipat, terutama hedge fund.

“Kelima gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara. Indonesia, tidak terkecuali perlu merespon dengan kebijakan yang tepat, menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan, tangguh dan mandiri,” sambung Perry.

Dari rentetan gejolak global tersebut, menurut Perry, kunci untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan tinggi, kuncinya hanya satu, yaitu sinergi. “Dengan sinergi itu, InsyaAllah kinerja ekonomi Indonesia tahun 2026-2027 akan lebih baik. Pertumbuhan lebih tinggi, konsumsi dan investasi meningkat, ekspor cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia, inflasi terkendali dalam sasaran,” tutup Perry.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana