tirto.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melesat ke level 4,7-5,5 persen pada akhir tahun 2025. Perkiraan tersebut lebih tinggi dari proyeksi Bank Sentral sebelumnya, yang hanya berada di kisaran 4,6-5,4 persen.
“Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 diperkirakan berada dalam kisaran 4,7-5,5% dan akan meningkat pada tahun 2026,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI November 2025 secara daring, Rabu (19/11/2025).
Menurut Perry, peningkatan ekonomi domestik pada kuartal IV 2025 terjadi karena dorongan stimulus fiskal melalui implementasi proyek prioritas dan paket kebijakan ekonomi pemerintah 2025. Selain itu, bauran kebijakan Bank Indonesia juga dinilai akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.
“Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh lebih tinggi, didorong kenaikan ekspektasi penghasilan khususnya pada kelompok menengah ke bawah. Sejalan dengan tambahan bantuan sosial pemerintah serta kenaikan mobilitas dan aktivitas masyarakat menjelang perayaan Natal dan tahun baru,” tambahnya.
Kemudian, investasi khususnya non-bangunan juga diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi. Hal ini sudah tercermin dari Indeks Prom Manufacturing Index (PMI) yang tetap berada pada level ekspansif. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, PMI-BI pada kuartal III 2025 berada di level 51,66 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 50,89 persen.
Berdasarkan komponen pembentuknya, peningkatan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada mayoritas komponen yaitu Volume Produksi, Volume Total Pesanan, dan Volume Persediaan Barang Jadi, yang masing-masing berada di level 53,62 persen, 52,82 persen dan 52,68 persen.
Sedangkan berdasarkan sub lapangan usaha, PMI-BI pada sebagian besar Sub-LU meningkat dan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Mesin dan Perlengkapan (58,57 persen), diikuti oleh Industri Pengolahan Tembakau (57,79 persen), serta Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (57,50 persen).
“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas,” tutup Perry.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































