Menuju konten utama

Bank Dunia: Rupiah Salah Satu yang Terstabil di Emerging Markets

Posisi rupiah yang cenderung stabil dinilai menunjukkan fundamental makroekonomi Indonesia yang kuat.

Bank Dunia: Rupiah Salah Satu yang Terstabil di Emerging Markets
Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lead Country Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, menilai rupiah akan tetap menjadi salah satu mata uang paling stabil di antara negara berkembang (emerging markets). Meski demikian, ia mengakui bahwa tekanan geopolitik dan ketidakpastian akibat tarif telah membuat arus modal keluar dari Indonesia, hingga membuat rupiah terdepresiasi ke level Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Rupiah tetap menjadi salah satu yang paling stabil di antara ekonomi pasar berkembang," ujar Knight dalam Indonesia Economic Outlook 2025, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (24/11/2025).

Posisi rupiah yang cenderung stabil ini, menurutnya, tak hanya menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) tepat waktu, tapi juga fundamental makroekonomi Indonesia yang kuat.

"Rupiah tetap relatif stabil. Ini bukan hanya karena kebijakan bank sentral yang responsif, tetapi juga mencerminkan fundamental makro Indonesia yang kuat,” katanya.

Meski begitu, Knight tetap memperingatkan pemerintah untuk waspada, karena ketidakpastian yang masih tinggi berpotensi menimbulkan biaya langsung dengan meningkatkan biaya transaksi bagi bisnis. Pada akhirnya, kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap realisasi investasi di negara-negara berkembang.

"Jadi memang, meskipun kita telah melihat pelonggaran moneter di negara dengan ekonomi besar seperti AS tahun lalu, dan dalam situasi normal kita mungkin berharap hal itu berkaitan dengan mengalirnya modal ke pasar negara berkembang yang dapat mendorong ekonomi lokal, namun gambaran tahun ini jauh lebih beragam karena ketidakpastian geopolitik dan tarif," jelas dia.

Baca juga artikel terkait BANK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana