Menuju konten utama

Rupiah Kembali Melemah, Ditutup di Level Rp16.886 per US$

Sentimen perang Iran dan data penerimaan pajak masih menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini.

Rupiah Kembali Melemah, Ditutup di Level Rp16.886 per US$
Seorang calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Kupang menerawang uang pecahan Rp100 ribu saat sosialisasi mengenal rupiah dalam Literasi Keuangan Digtital Bagi PMI di Kota Kupang, NTT, Rabu (1/10/2025). Kegiatan yang digelar Bank Indonesia itu bertujuan untuk mengedukasi calon PMI NTT agar paham tentang keaslian uang rupiah sehingga tidak mudah ditipu saat bekerja di dalam maupun luar negeri. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/sgd/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.886 pada perdagangan hari ini, Rabu (11/3/2026). Rupiah terdepresiasi sebesar 23 poin atau 0,14 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.863.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah hari ini masih dipengaruhi sentimen perang antara AS-Israel dengan Iran. Pasalnya,meski Presiden AS Donald Trump mengkelaim bahwa perang hampir berakhir, Iran menyatakan bahwa Teheran akan memutuskan kapan konflik berakhir.

Hal ini dapat berdampak pada lumpuhnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pengiriman minyak dan gas utama untuk Asia.

Selain itu, pasar juga masih mencermati indikator consumer price index (CPI) AS untuk bulan Februari yang akan dirilis untuk mendapatkan petunjuk yang lebih jelas tentang inflasi dan suku bunga The Fed.

"Meskipun angka tersebut kemungkinan tidak akan mencerminkan lonjakan harga energi setelah perang Iran, angka tersebut tetap akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pengeluaran konsumen dan kesehatan ekonomi secara keseluruhan," jelasnya.

Sementara dari internal, sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari kinerja pemungutan pajak yang dianggap sebagai biang keladi lunturnya kredibilitas fiskal pemerintah. Sorotan teranyar datang dari tiga lembaga pemeringkat global yakni Moody's, S&P dan Fitch.

Menariknya, dari 3 lembaga tersebut, hanya S&P yang masih mempertahankan prospek atau outlook stabil. Dua lainnya yaitu Moody's dan Fitch telah menurunkan outlook dari stabil ke negatif.

"Penurunan outlook itu merupakan imbas dari kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas fiskal pemerintah. Kinerja setoran pajak, yang menjadi tumpuan pendapatan negara dianggap tidak sejalan dengan beban belanja pemerintah," jelas Ibrahim.

Baca juga artikel terkait IRAN atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana