tirto.id - Rusia dilaporkan memberikan informasi kepada Iran yang berpotensi membantu Teheran dalam menyerang kapal perang, pesawat militer, serta aset Amerika Serikat (AS) lainnya di kawasan Timur Tengah. Informasi tersebut diungkap oleh dua pejabat yang mengetahui temuan intelijen AS, sebut sumber dari Associated Press.
Kedua pejabat itu, tidak memiliki kewenangan untuk berbicara secara terbuka mengenai isu sensitif tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan. Mereka menegaskan bahwa intelijen AS belum menemukan bukti bahwa Rusia secara langsung mengarahkan Iran tentang bagaimana menggunakan informasi tersebut.
Hal ini terjadi di tengah berlanjutnya serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Teheran terhadap aset AS dan sekutunya di kawasan Teluk Persia.
Meski demikian, perkembangan ini menjadi indikasi pertama bahwa Moskow mulai terlibat dalam konflik yang pecah sepekan lalu, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Rusia termasuk dalam kelompok kecil negara yang masih menjalin hubungan baik dengan Teheran. Selema bertahun-tahun Iran menghadapi isolasi internasional terkait program nuklirnya, serta dukungan mereka terhadap kelompok proksi di Timur Tengah, seperti Hezbollah, Hamas, dan Houthi.
Presiden AS, Donald Trump, pada Jumat malam menegur seorang jurnalis yang menanyakan isu tersebut saat sesi tanya jawab dengan media usai pertemuan di Gedung Putih. Dalam sesi yang membahas soal perubahan dalam dunia olahraga kampus terkait pembayaran atlet mahasiswa, Trump menolak menjawab pertanyaan dari Fox News tersebut.
“Pertanyaan yang sangat bodoh untuk diajukan pada saat seperti ini. Kita sedang membicarakan hal lain,” ujarnya sebagaimana dilansir dari AP News, Senin (9/3/202
Sejumlah pejabat Gedung Putih mencoba meredam laporan tersebut, tetapi tidak secara langsung membantah bahwa Rusia berbagi informasi intelijen dengan Iran mengenai target AS di kawasan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS mengatakan, "AS melacak semuanya" dan mempertimbangkannya dalam perencanaan operasi militer ketika ditanya mengenai laporan bahwa Rusia membantu Iran.
“Masyarakat Amerika dapat merasa tenang karena panglima tertinggi mereka sepenuhnya mengetahui siapa berbicara dengan siapa,” ujarnya. “Dan apa pun yang seharusnya tidak terjadi, baik secara terbuka maupun melalui jalur belakang, sedang dihadapi dan ditangani dengan tegas,” tambah Hegseth.
Sementara Leavitt juga menolak menjelaskan soal kepastian Trump telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, terkait dugaan pertukaran intelijen tersebut. Dia juga tak menjabarkan apakah akan ada konsekuensi untuk Rusia tindakan itu. Ia mengatakan presiden sendiri yang akan memberikan tanggapan mengenai hal tersebut.
Rusia Bantah Beri Bantuan Militer untuk Iran
Sementara dari pihak Rusia menjelaskan belum ada rencana melangkah lebih jauh, dari sekadar dukungan politik menjadi memberikan bantuan militer kepada Iran. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, membantah ada permintaan seperti itu dari Teheran.
“Kami berada dalam dialog dengan pihak Iran, dengan para perwakilan kepemimpinan Iran, dan tentu akan melanjutkan dialog ini,” kata Peskov pada Jumat (6/3).
Namun ketika didesak apakah Moskow telah memberikan bantuan militer atau intelijen kepada Teheran sejak perang Iran dimulai, ia menolak memberikan komentar.
Hubungan Rusia dan Iran sendiri semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika Moskow membutuhkan pasokan rudal dan drone untuk digunakan dalam perang yang telah berlangsung empat tahun melawan Ukraina.
Pemerintahan AS sebelumnya sempat membuka sebagian dokumen intelijen yang menunjukkan bahwa Iran memasok drone serang kepada Rusia serta membantu Kremlin membangun fasilitas produksi drone.
Pemerintahan AS saat itu juga menuduh Iran mengirimkan rudal balistik jarak pendek kepada Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina. Detail mengenai temuan intelijen terbaru ini pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.
Ketika ditanya apakah pengungkapan tersebut menggoyahkan kepercayaan Trump terhadap kemampuan Putin untuk mencapai kesepakatan damai dalam perang Rusia-Ukraina, Leavitt mengatakan, “Saya pikir presiden akan mengatakan bahwa perdamaian masih merupakan tujuan yang dapat dicapai terkait perang Rusia-Ukraina,” ucapnya.
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa AS dan sekutunya di Timur Tengah tengah mencari keahlian Ukraina dalam menghadapi drone Shahed buatan Iran. Drone tersebut telah dipasok Teheran ke Rusia untuk perang di Ukraina dan kini digunakan dalam serangan balasan di kawasan Teluk.
Zelenskyy mengatakan dirinya telah berbicara dengan Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait mengenai kemungkinan kerja sama.
“Ukraina tahu bagaimana mempertahankan diri dari serangan drone Shahed karena kota-kota kami hampir setiap malam menghadapi serangan tersebut,” ujar duta besar Ukraina untuk AS, Olga Stefanishyna. “Ketika mitra kami membutuhkan, kami selalu siap membantu,” tambahnya.
Trump, yang hingga kini masih kesulitan memenuhi janji kampanyenya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, diketahui memiliki hubungan yang naik turun dengan Zelenskyy.
Ia kerap menekan pemimpin Ukraina tersebut agar mempertimbangkan tuntutan Rusia, termasuk menyerahkan wilayah Ukraina yang masih berada di bawah kendali Kyiv.
Di tengah munculnya pertanyaan mengenai apakah perang melawan Iran akan menguras persediaan senjata AS, Trump pekan ini juga mengeluhkan keputusan mantan Presiden Joe Biden yang memberikan persenjataan canggih senilai miliaran dolar kepada Ukraina tanpa mengisi kembali cadangan militer AS.
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
































