tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada level Rp16.309 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/9/2025). Posisi rupiah menguat 123 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp16.431.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 123 poin," ujar Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya.
Dari dalam negeri penguatan rupiah terjadi seiring dengan Bank Indonesia (BI) mencatatkan cadangan devisa mencapai 150,7 miliar soar AS per akhir Agustus 2025. Cadangan devisa tersebut menurun Rp1,3 miliar atau Rp21,3 triliun dari bulan sebelumnya sebesar 152,0 miliar dolar AS.
Penurunan tersebut, kata Ibrahim, terjadi karena pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Di sisi lain, posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2025 tetap uat. Ini setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar dia.
Oleh sebab itu, cadangan devisa sebesar 150,7 miliar dolar AS itu diyakini memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal sejalan dengan tetap terjaganya prospek ekspor, neraca transaksi modal, dan finansial yang diprakirakan tetap mencatatkan surplus.
Sementara itu, dari luar negeri, penguatan rupiah didorong leh laporan ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja yang signifikan dan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,3 persen.
Kondisi ini memperkuat sentimen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan September, dengan peluang tipis untuk penurunan yang lebih substansial sebesar 50 basis poin.
Para pengamat pasar, kata Ibrahim, selanjutnya akan memperhatikan angka Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan dirilis hari Kamis. Jika proses desinflasi berkembang, hal ini akan memperkuat argumen untuk penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed 16-17 September.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































