Menuju konten utama

Rupiah Capai Rp18.000, Istana: Kami Akan Terus Koordinasi Intens

Mensesneg Prasetyo Hadi pastikan pemerintah bersama Kemenkeu, BI, dan OJK terus berkoordinasi memonitor situasi dan menyiapkan langkah stabilisasi.

Rupiah Capai Rp18.000, Istana: Kami Akan Terus Koordinasi Intens
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan keterangan pers usai mengikuti kegiatan Taklimat Presiden Republik Indonesia dengan Rektor serta Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Tahun 2026 di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym.

tirto.id - Istana buka suara soal posisi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu), bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi secara intens untuk menghadapi pelemahan rupiah.

Dus, pemerintah akan selalu siap sedia untuk terus memonitor pergerakan nilai mata uang Garuda dan melakukan langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan.

“Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan, kemudian bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah,” ujar dia, di ruang media, di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Meskipun rupiah terus bergerak turun, Prasetyo memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional masih tetap kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal I 2025 yang tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pada saat yang sama, inflasi Mei 2026 masih terjaga di level 3,08 persen (yoy).

“Tapi yang bisa kami sampaikan adalah bahwa kami harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga Insya Allah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” tegasnya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp18.049 pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Rupiah melemah 82 poin atau 0,46 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.967.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal melemahnya rupiah, kekhawatiran yang meningkat imbas harga minyak mentah tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3 persen.

Hal itu juga membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas. Selain itu, pasar dinilai gelisah atas potensi reklasifikasi MSCI terhadap pasar modal.

"Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08 persen, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.

"Kemudian, Moodys’s Ratings memberikan peringkat pertamanya untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2," sambung dia.

Baca juga artikel terkait DAMPAK RUPIAH MELEMAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah