Menuju konten utama

Rupiah Makin Melemah, Alfamidi Naikkan Harga Barang Impor

Sejumlah komoditas berkomponen impor yang mengalami kenaikan harga adalah susu, kacang hijau, serta kedelai.

Rupiah Makin Melemah, Alfamidi Naikkan Harga Barang Impor
Direktur Keuangan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), Suantopo Po di Kantor Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang Selatan, pada Kamis (22/5/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Finance Director PT Midi Utama Indonesia Tbk, Suantopo Po, menyebutkan, pihaknya terpaksa menaikkan harga jual barang dengan komponen impor imbas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah beberapa waktu ini.

"Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin dolar [AS] itu kan sudah Rp18.000 ya. Tentu saja mungkin banyak produknya yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga," kata Suantopo, saat konferensi pers di Alfa Tower, Tangerang, Banten, Kamis (4/6/2026).

Ia mencontohkan sejumlah komoditas berkomponen impor yang mengalami kenaikan harga adalah susu, kacang hijau, serta kedelai. Produk jadi dengan bahan baku tersebut dinilai memang mengalami kenaikan harga.

Menurut Suantopo, saat pihak produsen menaikkan harga sejumlah barang tersebut, PT Midi Utama Indonesia selaku pihak ritel otomatis menaikkan harga jual mereka.

"Pada prinsipnya, apabila dari prinsipal memang menaikkan harga, ya pasti otomatis kita akan menaikkan harga juga, kan. Kita adalah riteler. Jadi, enggak mungkin tidak ada kenaikan harga," tuturnya.

Namun, PT Midi Utama Indonesia optimistis industri ritel akan tetap berkembang di tengah tantangan dunia usaha pada tahun ini. Perusahaan itu disebut telah berhasil bertahan menghadapi tantangan usaha ketika pandemi Covid-19 beberapa tahun silam.

"Perseroan adalah bergerak di bidang perdagangan ritel yang memang industri yang defensif. Industri defensif dan kita sudah buktikan bahwa perseroan juga berhasil melalui masa pandemi Covid 2020 dengan baik ya," sebutnya.

"Tujuh bulan ke depan kita tetap yakin bahwa secara fundamental perseroan tetap cukup kuat dan tetap bisa tumbuh secara moderat dibandingkan tahun sebelumnya," lanjut Suantopo.

Sementara itu, ia menyatakan, pihaknya berencana mendirikan 200 gerai Alfamidi pada 2026. Kebutuhan capex pendirian 200 gerai itu disebut mencapai Rp1,5 triliun.

"Perseroan menargetkan pembukaan gerai sebanyak 200 gerai tahun 2026, 200 gerai. Adapun kebutuhan capex-nya adalah sekitar Rp1,5 triliun. Jadi, untuk 200 gerai itu sekitar Rp1,5 triliun," tuturnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp18.014 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 48 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Baca juga artikel terkait ALFAMART atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama