Menuju konten utama

Bioskop Mini Alfamart, Strategi Hadapi Gempuran Belanja Online?

Adanya bioskop mini di Alfamart menunjukkan fungsi minimarket tidak lagi hanya untuk membeli barang lalu pulang, tetapi bisa menjadi tempat singgah.

Bioskop Mini Alfamart, Strategi Hadapi Gempuran Belanja Online?
Ilustrasi Bioskop. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Kabar menarik bagi masyarakat yang ingin menonton film tanpa harus ke bioskop besar yang biasanya ada di pusat perbelanjaan. Kini jejaring ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart berkolaborasi dengan Layar Digi akan menghadirkan bioskop mini di gerainya.

Program ini menjadi langkah baru dalam menghadirkan pengalaman menonton film yang praktis, modern, dan terjangkau. Bioskop ini akan menghadirkan konsep bioskop mini dengan kapasitas lebih sedikit dibandingkan bioskop pada umumnya. Mesk begitu, bioskop mini dijanjikan menyajikan kualitas audio visual yang optimal.

Corporate Affairs Alfamart, Solihin, mengatakan kerja sama ini berbasis pembagian peran. Tahap awal akan dimulai dari Alfamart Agricola Gading Serpong, Tangerang Selatan.

“Benar. Gini, namanya kan kerja sama ya. Kerja sama, ada yang menyediakan ini ada yang menyediakan itu ya. Jadi Alfamart dalam hal ini lebih mempunyai tempat ya. Nah sedangkan pengelolaannya oleh Layar Digi, seperti itu,” ucap Solihin saat dihubungi Tirto, Jumat (20/2/2026).

Menurut Solihin, proyek ini masih bersifat uji coba sehingga belum memutuskan jenis konten apa saja yang akan disediakan. Nantinya, katanya, jenis konten akan disesuaikan dengan respons pasar.

“Saat ini kami masih mau melihat karena kami kan belum tahu ya reaksi dari masyarakat terhadap hal tersebut. Ini kan namanya mini pasti kapasitasnya terbatas ya. Namanya mini pasti terbatas. Dan juga disesuaikan dengan segmen kita punya gerai ya,” ucap Solihin.

“Jadi pertama mencoba dari sana melihat sejauh mana antusiasmenya. Nah kalau memang itu antusias tentunya kami akan terus kembangkan dalam jumlah yang lebih daripada satu [gerai] tadi seperti itu,” tambah dia.

Solihin menjelaskan konsep bioskop mini ini menyasar komunitas sekitar toko. Dalam hal ini artinya, bioskop mini tersebut ditujukan terutama untuk warga atau konsumen yang tinggal di sekitar gerai Alfamart, bukan untuk menarik pengunjung dari luar kota atau jarak jauh.

Hal ini mengacu pada pernyataan Solihin bahwa Alfamart adalah toko komunitas, dimana mayoritas pembelinya berasal dari lingkungan sekitar toko mereka.

“Kami sebagai toko atau ritel komunitas ya, dimana rata-rata pembelinya atau konsumennya itu kan lingkungan. Kita tidak punya kekuatan untuk apa namanya menarik konsumen yang jauh-jauh dari sekitar toko,” katanya.

Terkait model bisnis, Solihin menyebut pendapatan awal akan berasal dari penjualan tiket, sementara potensi iklan dan promosi produk masih akan melihat respons pasar.

Ia juga menepis potensi persaingan langsung dengan bioskop konvensional. Kemudian, di tengah gempuran belanja online, Solihin menekankan pentingnya pelayanan dan efisiensi.

“Enggak, segmennya beda lah. Beda lah segmennya beda. Tadi kan saya bilang toko kami toko komunitas gitu loh ya,” jelasnya.

“Siapa yang menang dalam bisnis ini? Yang bisa memberikan pelayanan yang lebih baik dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi. Yang besar belum tentu mengalahkan yang kecil tapi yang cepat pasti akan meninggalkan yang lambat,” tegasnya.

Gebrakan Baru Alfamart?

Langkah Alfamart menghadirkan di gerainya dinilai sebagai gebrakan baru oleh Managing Director Commercial Real Estate and Shopping Center Studies (CRSC), Yongky Susilo.

Yongky menilai bahwa langkah Alfamart dalam mengadakan bioskop mini adalah unit bisnis baru, bukan bagian dari bisnis utama, yaitu di sektor grocery.

“Ini setahu saya unit bisnis baru, diversifikasi bisnis. Memakai brand Alfamart. Jadi tidak ada hubungannya dengan grocery. Ekosistem bisnis, yang saling melengkapi,” kata Yongky kepada Tirto, Jumat (20/2/2026).

Ia menyebut dengan diversifikasi, maka dapat memperluas keterikatan merek. Menurut Yongky, dengan adanya bioskop mini, penggunaan merek Alfamart tidak akan merusak citra atau posisinya sebagai minimarket. Pasalnya, selama ini target konsumen tetap sama dengan brand Alfamart yang sudah kuat, sehingga bisnis inti tetap aman.

“Target konsumen sama kelas menengah. Brand equity Alfamart tinggi. Kalau tengah jalan (bioskop mini) enggak jalan, enggak akan hurt grocery, loyalitas masih tinggi,” ucap dia.

Namun di sisi lain, katanya, bioskop mini tidak otomatis meningkatkan jumlah pengunjung atau belanja di Alfamart. Hal ini dikarenakan bioskop mini berdiri sendiri sebagai unit bisnis, terpisah dari operasi minimarket sehari-hari.

Kemudian, Yongky juga mengaku belum melihat adanya dampak langsung dari adanya bioskop mini terhadap peningkatan orang belanja. Hal ini lantaran orang yang datang untuk menonton, belum tentu membeli barang di toko tersebut.

Dengan demikian, Yongky berpandangan jika ingin menghubungkan hiburan dengan belanja, Alfamart perlu membuat program kolaborasi, misalnya seperti diskon khusus, promosi produk saat menonton, atau iklan yang menargetkan pengunjung bioskop.

“Saya enggak melihat itu. Separate (terpisah) bisnis. (Maka dari itu) Butuh kreativitas, collab (kerjasama) program sambungkan entertainment dengan grocery,” jelasnya.

Soal risiko, katanya, risiko bisnis bioskop mini relatif kecil, karena konsepnya masih tahap awal dan sifatnya uji coba. Dia menjelaskan bahwa ekosistem dibuat untuk bisa memenuhi kebutuhan bagi penghuni ekosistem. Artinya, bioskop mini dianggap sebagai bagian dari ekosistem bisnis Alfamart yang tujuannya melengkapi kebutuhan konsumen, bukan menggantikan bisnis utama.

Dengan demikian, Ia menegaskan bahwa format minimarket tak akan berubah.

“Alfamart tetap punya format standar, enggak akan berubah karena ada cinema. Akan di cari lokasi-lokasi yang memang bisa dibuat cinema, enggak akan cut minimarketnya, aman,” tegas Yongky.

Strategi Hadapi Gempuran Ritel Online

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Budihardjo Iduansjah, melihat tren integrasi hiburan sebagai keniscayaan.

Artinya, dia menilai bahwa ritel modern tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan barang semata. Untuk bertahan dan berkembang, ritel harus menawarkan pengalaman dan gaya hidup atau lifestyle.

“Ya kalau buat saya sekarang ritel itu tidak bisa hanya jualan barang. Justru bahkan termasuk mall, lifestyle yang bisa menyelamatkan ke depan itu adalah lifestyle,” kata Budihardjo kepada Tirto.

Alfamart

Alfamart. FOTO/iStockphoto

Budihardjo menambahkan kelebihan utama ritel fisik dibanding belanja online adalah pengalaman langsung yang tidak bisa digantikan layar ponsel. Hal ini mengingat belanja online hanya sebatas transaksi, tidak ada suasana, interaksi sosial, atau aktivitas tambahan.

“Jadi kalau di online kan enggak ada itu. Bosan di rumah cuma lihat TV. Bosan, dia ke mal, di mal dia bisa refresh, makan enak, langsung bisa nonton bioskop,” ucapnya.

Lalu, Budihardjo menilai konsep ritel berbasis lifestyle tidak harus selalu dalam skala mal besar, tetapi juga bisa diterapkan di format yang lebih kecil seperti minimarket atau convenience store.

Dengan demikian, fungsi minimarket tidak lagi hanya sekedar untuk membeli barang lalu pulang, tetapi bisa menjadi tempat singgah.

“Harusnya sih bisa ya, convenience store kan sudah ada kayak kopi, makanan, minuman yang mana orang nongkrong sudah disiapin meja kursi jadi kayak restoran. Ya ke depannya mungkin bisa jadi kayak tempat nongkrong kecil ya, untuk enggak usah ke mal, (jadi bisa) langsung dekat rumah gitu,” ucap Budihardjo.

Pelengkap di Tengah Tekanan Daya Beli

Rencana kolaborasi Alfamart dengan Layar Digi untuk menghadirkan bioskop mini di gerai minimarket dinilai sebagai inovasi menarik di sektor ritel. Peneliti Center of Digital Economy (INDEF), Nur Komaria, menyebut pendekatan micro cinema berpotensi memperkaya pilihan hiburan masyarakat.

“Ini konsep yang menarik dengan pendekatan micro cinema menambah bauran hiburan masyarakat. Cabang Alfamart yang lebih dari 20.120 gerai dan sangat dekat dengan masyarakat menjadi kekuatan utama inovasi,” ujar Ria.

Menurutnya, konsep micro cinema sebenarnya bukan hal baru. Ia menyinggung keberadaan bioskop dengan format kursi yang lebih kecil dan intim di pusat perbelanjaan.

“Konsep micro cinema ini bukan konsep baru karena sudah ada beberapa bioskop Cinepolis dengan opsi kursi yang lebih minimalis dan intimate. Perbedaannya, lokasi di mal yang memerlukan parkir progresif dan menuntut mobilitas yang lebih jauh. Sementara itu, bioskop Alfamart dibuka digerai dengan harga sangat terjangkau dan lokasi dekat,” jelasnya.

Ria juga menilai bahwa faktor kedekatan lokasi dengan konsumen menjadi kunci. Ia menambahkan bahwa sejak pandemi Covid-19, pola konsumsi masyarakat mengalami perubahan, termasuk preferensi terhadap layanan yang lebih dekat dan mudah dijangkau.

“Seperti halnya banyak kopi keliling dari jenama terkenal karena melihat peluang semakin dekatnya dengan konsumen,” katanya.

Dengan kolaborasi bersama Layar Digi, dia menilai masyarakat berpotensi mendapat alternatif hiburan yang lebih terjangkau. Namun, ia mengingatkan pentingnya diferensiasi yang ditawarkan.

“Dengan adanya Layar Digi, masyarakat luas semakin diuntungkan. Perlu diingat bahwa akan menilai bagaimana perbedaan dan nilai tambah yang ditawarkan Alfamart selain dari lokasi strategis, harga, dan meratanya micro cinema. Bisa dengan opsi genre filmnya, film lokal, atau internasional, popularitas pemainnya, dan pengalaman yang dihadirkan,” jelas Ria.

Di tengah tekanan daya beli, Ria menilai bioskop mini ini kemungkinan lebih dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama.

“Dengan menurunnya daya beli, saya rasa ini bisa jadi pelengkap hiburan masyarakat karena kompetisi hiburan ini tidak hanya bioskop besar,” katanya.

ALFAMART

Ilustrasi Allfamart. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko.

Baca juga artikel terkait BIOSKOP atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - News Plus
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto