Menuju konten utama

RI Kejar Tarif 0% dari AS Meski Resiprokal Sudah Berlaku

Tim negosiasi pemerintah masih melanjutkan lobi-lobi kepada Amerika Serikat agar mendapatkan tarif 0 persen untuk komoditas prioritas sebelum 1 September.

RI Kejar Tarif 0% dari AS Meski Resiprokal Sudah Berlaku
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (7/3/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, memastikan pemerintah masih melanjutkan negosiasi kepada Amerika Serikat (AS) agar mendapatkan tarif 0 persen untuk komoditas prioritas, meskipun tarif resiprokal 19 persen sudah resmi diterapkan hari ini, Kamis (7/8/2025).

Menurutnya, masa tunggu 30 hari cukup bagi Indonesia untuk mendapat pembaruan tarif, Hal ini seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya saat awal diumumkannya tarif dasar.

“Ya, kalau kemarin si disampaikan, kalau bisa sebelum tanggal 1 September, ya, itu sudah selesai semua. Kan, seperti dulu, ya. Baseline (tarif dasar) juga berlaku 3 bulan, dan ini semua bertahap. Ini resiprokal berjalan tanggal 7 (Agustus) sambil negosiasi. Dulu kita lihat saja, waktu pertama kita dikenakan (tarif resiprokal) 32 persen, terus diundur,” kata dia, saat ditemui usai Kick Off Program ASEAN Online Sale Day 2025, di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kamis (7/8/2025).

Sayangnya, Busan, sapaan Budi Santoso, masih enggan menyebut komoditas prioritas apa saja yang tengah diupayakan untuk mendapat pembebasan tarif. Hanya saja, ia memastikan komoditas yang tengah diperjuangkan untuk mendapat tarif 0 persen dari Gedung Putih adalah produk-produk yang tidak bisa diproduksi AS, seperti tembaga.

“Sedang diusahakan 0 persen. Yang 19 (persen), kalau bisa turun lagi lebih bagus. (Salah satunya tembaga), ya pokoknya yang nggak diproduksi (AS). Nnati saja itu, ya. Kan lagi negosiasi,” tutur dia.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan saat ini tim negosiasi tengah berupaya untuk berupaya memperluas kerja sama dengan AS di sektor-sektor strategis, seperti mineral kritis. Dalam hal ini, komoditas yang tengah didorong di antaranya, nikel, tembaga dan kobalt.

“AS menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk memperkuat kemitraan di bidang mineral kritis. Indonesia memiliki cadangan besar nikel, tembaga, dan kobalt, dan kita perlu mengoptimalkan potensi kerja sama pengolahan mineral kritis tersebut,” ungkap Airlangga beberapa waktu lalu.

Baca juga artikel terkait TARIF TRUMP atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra