tirto.id - Hampir seluruh Rumah Makan (RM) Padang atau Minang memiliki hidangan rendang sebagai ciri khas. Bersanding dengan dendeng batokok, gulai tambusu, gulai kepala kakap, dan ayam pop, rendang menjadi salah satu primadona kuliner di tatakan piring yang disungging mangkok bertingkat. Padahal, dari asal katanya,rendang sejatinya bukan bermakna makanan, melainkan proses memasak: marandang.
Akan tetapi, lema rendang kadung lekat dengan daging yang digulai dengan santan sampai kuahnya kering, menyisakan bumbu-bumbu yang telah meresap. Sampai akhirnya, kata tersebut diresmikan melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan makna kata benda.
Saking populernya, makanan olahan daging tersebut menduduki peringkat teratas makanan terenak di dunia berdasar survei CNNpada 12 Juli 2017.
Lumrah bila karena itu, apa saja yang dimasak dengan gulai sampai kering disebut marandang. Bahannya beraneka ragam dan tak harus melulu daging sapi. Bisa saja ikan, daging kerbau, bahkan daging babi.

Kendati popularitasnya melanglang buana, tapak tilas rendang dalam nukilan sejarah agak susah terpetakan. Lebih-lebih soal eksistensi pertamanya menjajaki RM Padang dan merantau sampai ke seantero Nusantara.
Salah satu catatan terawal dalam memori Belanda termaktub lewat Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek (Buku Masakan Hindia Belanda Edisi Lengkap dan Baru), terbitan 1903.
Karya J. M. J. Catenius van der Meijden tersebut bukan cuma mengulas spesifik rendang, tetapi juga manuskrip hampir kuliner tradisional di Hindia Belanda, dengan jamuan masakan Eropa dan Cina. Total ada 1.381 resep, mulai dari empal daging, sambel betawi asem manis, hingga dòdòl dan kwée poetoe.
Rendang (tertulis rendong) termuat di entri nomor 402. Tertulis lengkap bahan-bahan yang dibutuhkan, yakni potongan daging kecil, cabai, ketumbar, laos, bawang merah, kelapa parut, serai, garam, dan santan kental.
Lambat laun, variasi rendang kian beragam. Namun, dari segalanya, menurut Fadly Rachman lewat bukunya, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial, 1870–1942, “Kunci randang awet dan tahan lama itu tidak pakai bawang merah dan kelapanya yang sudah tua, rekah seperti kopra.”
Itu sesuai dengan filosofi rakyat Minangkabau yang menjadikan rendang sebagai makanan awet unggulan. Produk rendang kerap digunakan sebagai bekal para perantau Minangkabau. Mereka membungkusnya dengan daun pisang sehingga menambah keawetannya sampai sebulan. Selain itu, sisi praktis yang kompak membuat rendang bisa dibawa sebagai teman lauk ke mana saja.
Dilansir dari Marandang Institute, keawetan rendang membuatnya pas sebagai "menu" bantuan bagi penyintas bencana. Rendang mampu menjawab tantangan logistik keawetan tanpa bantuan lemari pendingin. Itu karena proses memasaknya lama, membikin bumbu rempah-rempah dan santan—yang sebenarnya dikenal mudah basi—meresap sepenuhnya ke saripati daging.
Lain itu, rendang memiliki kandungan gizi tinggi sehingga mampu mencegah malnutrisi. Kebutuhan protein dan serat dalam situasi darurat bencana acap kali diabaikan, dan menu rendang cukup tepat untuk mencukupinya. Rempah-rempah dalam kandungan rendang bersifat antioksidan dan antimikroba alami, seperti kunyit, jahe, lengkuas, serai, bawang putih, dan cabai. Hal itu jelas sangat berguna di daerah rawan.
Beberapa olahan rendang juga telah disediakan siap santap, tanpa repot dimasak kembali. Penelitian dari Universitas Andalas Padang menyatakan, sekalipun dimasak dalam waktu lama, kandungan nutrisi rendang tetap terjaga.
Maka, ketika dihadapkan dengan bencana, rendang bermetamorfosis dari kuliner menjadi kekuatan sosial. Rendang mampu menjadi media kemanusiaan yang dapat membantu para penyintas bencana mencukupi kebutuhan pangan.
Berton-ton Rendang untuk Korban Bencana
Menjadi ikon Kota Padang, rendang dengan cepat mendongkrak pamornya ketika Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) menahbiskan tradisi unik di tiap misi kemanusiaan. Mereka mengirimkan rendang sebagai bantuan logistik pangan ke berbagai daerah yang dilanda musibah bencana.
Tradisi tersebut bermula ketika Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, menyerahkan logistik bantuan, salah satunya berupa satu ton rendang, untuk korban gempa Pidie Jaya, Aceh, pada 11 Desember 2016. Sejak itu, bantuan rendang untuk korban bencana lambat laun menjelma tradisi yang jadi ikon kemanusiaan Sumbar.
Pada 2018, ketika gempa dan tsunami menerpa Palu-Donggala, pemerintah Sumbar mengirim 1,6 ton rendang. Begitu pula saat gempa melanda Lombok pada 2018 dan tsunami di Selat Sunda, masing-masing mendapat kiriman 1 ton rendang.
Dua tahun berikutnya, pada 2020, pemerintah Sumbar kembali memasok rendang ke daerah terdampak gempa di Bengkulu. Bobotnya sama, 1 ton. Mereka juga mengirimkan 340 kilogram ke wilayah gempa Mamuju dan Majene pada 2021. Lalu, ketika Cianjur diguncang gempa dengan magnitude 5,6, masyarakat Sumbar mengirimkan masakan khas tersebut hingga 3 ton.
Ketika itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan bahwa rendang yang dikirim untuk bantuan korban bencana merupakan hasil gotong royong badoncek 'patungan' yang telah menjadi kearifan lokal.
Catatan jurnalistikKompas.id melaporkan, beberapa dapur umum dikerahkan untuk memasok rendang untuk wilayah terdampak gempa di Cianjur. Belasan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat dikerahkan untuk memasak 35-40 kg rendang di dapur umum BPBD.
Karena wilayah Indonesia memang rawan gempa, kiriman rendang pun selalu dilakukan. Pada 2025, saat banjir dan longsong akibat deforestasi menerjang Sumatra, pemerintah Sumbar mengirimkan 2,5 ton rendang untuk para korban. Baru-baru ini, mereka mengirimkan menu yang sama ke wilayah terdampak gempa NTT. Jumlahnya mencapai 5 ton.

Dosen sosiologi Universitas Negeri Padang, Erianjoni, berpendapat bahwa kebiasaan Sumbar mengirim bantuan kemanusiaan dalam bentuk rendang telah eksis sejak 2009. Kebiasaan itu menyembul pascagempa Sumbar 2009, yang membangkitkan ekspresi persaudaraan masyarakat Minang.
“Bantuan rendang ini simbol persaudaraan orang Minang melalui produk budayanya. Bentuk kedekatan hati masyarakat Sumbar kepada masyarakat terdampak bencana. Seperti inilah balasan terhadap bantuan yang masuk saat Sumbar dilanda gempa tahun 2009,” kata Erianjoni.
Simbolisasi Budaya Minangkabau
Masyarakat Minangkabau memadupadankan empat unsur utama bahan masakan, yakni dagiang (daging), lado (cabai), karambia (kelapa), dan pemasak (aneka bumbu lainnya). Keempatnya merupakan manifestasi simbolik tatanan sosial masyarakat Minangkabau.
Anidu Alamsyah Alimin dan Indarwanto Sadi Kusnomo, dalam “Rendang: Manifestasi Simbolik Tatanan Sosial dan Politik Minangkabau” (Jurnal Peradaban Melayu, 2018), menjelaskan, daging adalah simbol kepala suku atau pemimpin (niniak mamak); cabai merupakan "wujud" ulama (alim ulama); kelapa adalah para cendekiawan (cadiak pandai); dan masyarakat umum merupakan manifestasi dari aneka bumbu lainnya.
Niniak mamak, cadiak pandai, dan alim ulama, merupakan kelompok sosial yang tergabung dalam lembaga Tungku Tigo Sajarangan, atau Tali Tigo Sapilin. Sementara itu, masyarakat Minangkabau merupakan objek yang diatur oleh lembaga-lembaga politik tersebut.
Tatkala memasak rendang, hal-hal tersebut mesti "hadir" dalam sebuah wajan yang terletak di atas tungku segitiga. Beberapa tumpuk kayu bakar diletakkan menyilang di dalam tunggu. Dengan simbolisasi itu, masyarakat Minang berharap lembaga-lembaga adat Minangkabau mampu mengakomodasi aspirasi masyarakat, dan mengutamakan kepentingan bersama guna mencapai mufakat.
Proses mengaduk rendang pun tak boleh sembarangan. Adonan rendang dilarang keras ditimba. Hal itu dimaksudkan agar niniak mamak bersama bundo kanduang (pemimpin dalam sistem matrilineal yang merujuk sosok ibu) menjadi contoh bagi masyarakat, tak boleh menimba perundingan atau perkataan.
Lazimnya, tukang masak mendorong adonan dari tengah menuju ke tepian kuali besar. Ritus itu dimaknai bahwa perundingan harus mengutamakan tolok ukur logika. Suatu kebijakan sebelum pantas dimaklumatkan, mesti dinalar, dipertimbangkan, sebelum kemudian diaplikasikan.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































