Menuju konten utama

PTBA Cetak Laba Rp2,65 Triliun, Naik 218% di Semester I 2026

PTBA membukukan laba Rp2,65 triliun pada Semester I 2026, melonjak 218 persen yoy, ditopang pemulihan operasi dan kenaikan harga batu bara.

PTBA Cetak Laba Rp2,65 Triliun, Naik 218% di Semester I 2026
Ilustrasi penambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Doc: PTBA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan lonjakan laba bersih hingga 218 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp2,65 triliun pada Semester I 2026. Capaian ini terjadi di tengah peningkatan harga batu bara global, di mana sepanjang Januari-Juni lalu, Newcastle Index naik 25 persen yoy, sementara ICI-3 meningkat 15 persen yoy. Kondisi tersebut mendorong harga jual rata-rata (average selling price/ASP) PTBA naik 10 persen yoy.

Selain kenaikan harga jual rata-rata batu bara, peningkatan laba tersebut juga didorong oleh peningkatan ekspor serta pemulihan operasional pada kuartal II. Penjualan ekspor tercatat mencapai 10,33 juta ton atau naik sekitar 5 persen yoy, dengan Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand menjadi negara tujuan utama.

Sementara produksi batu bara perseroan mencapai sebesar 19,45 juta ton, dengan penjualan menyentuh 21,10 juta ton.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan. Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya,” ujar Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).

Selain mengejar pertumbuhan kinerja keuangan, PTBA tetap memperkuat bisnis batu bara sebagai bisnis inti melalui pengembangan infrastruktur dan rantai pasok. Salah satu proyek strategis yang dikebut adalah jalur angkutan batu bara Tanjung Enim-Kramasan.

Proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas angkutan sekaligus memperkuat sistem logistik dan distribusi batu bara PTBA. Hingga saat ini, progres pembangunannya telah mencapai sekitar 93 persen.

Bambang menuturkan, PTBA juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui Term Sheet dengan bank-bank Himbara untuk Senior Term Loan Facility hingga Rp3,56 triliun. Perseroan turut mempercepat pembangunan fasilitas Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6-7 di jalur Tanjung Enim-Kramasan.

“Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6-7 agar sistem logistik batubara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal,” tuturnya.

Diversifikasi Bisnis

Di luar bisnis batu bara, PTBA juga mengembangkan hilirisasi dan diversifikasi sebagai sumber pertumbuhan baru. Perseroan bersama mitra strategis mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan metanol, termasuk dari sisi teknologi, keekonomian, dan skema bisnis.

PTBA juga mengembangkan Kalium Humat, produk berbasis hasil pengolahan batu bara yang berpotensi digunakan di sektor pertanian. Pilot plant Kalium Humat saat ini memiliki kapasitas sekitar 171 ton per tahun, dengan target pengembangan hingga 10.000 ton per tahun.

“Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk DME, Metanol, dan Kalium Humat,” ujar Bambang.

Perseroan juga memperluas portofolio ke energi terbarukan melalui kerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk menjajaki pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan pascatambang dan sekitar area operasional PTBA.

Hingga saat ini, total portofolio PLTS PTBA mencapai sekitar 1,2 MWp. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan mengoptimalkan aset, memperkuat portofolio energi terbarukan, dan menyiapkan sumber pertumbuhan baru.

Ke depan, PTBA akan terus mengembangkan bisnis hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan lahan pascatambang, serta berbagai potensi bisnis lainnya. Meski bisnis batu bara tetap menjadi kekuatan utama PTBA, Bambang menuturkan bahw perseroan juga mulai membangun portofolio yang lebih beragam untuk menghadapi perubahan lanskap energi dan industri.

“Prinsip kami adalah membangun bisnis yang sehat, memiliki prospek jangka panjang, dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham maupun pemangku kepentingan. Dengan memperkuat bisnis inti sekaligus mengembangkan bisnis baru, kami optimistis PTBA dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi bagi ketahanan energi serta perekonomian nasional,” terangnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana