Menuju konten utama

Profil Mahendra Siregar, Ketua OJK yang Mengundurkan Diri

Profil Ketua OJK, Mahendra Siregar yang mengundurkan diri dari jabatannya pada hari ini, Jumat (30/1/2026). Mahendra mundur bersama sederet pimpinan lain.

Profil Mahendra Siregar, Ketua OJK yang Mengundurkan Diri
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar (tengah) bersama Direktur Utama Bursa Efek Indonesai (BEI) Imam Rachman (kiri) dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi (kanan) menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar bersama Anggota Dewan Komisioner (ADK) OJK yang membidangi Pengawasan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Inarno Djajadi, secara resmi mengumumkan pengunduran diri mereka pada Jumat (30/1/2026).

Pengumuman pengunduran diri Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi ini terjadi di tengah kondisi pasar keuangan yang sedang tertekan, ditandai dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan trading halt selama dua hari berturut-turut.

Keputusan tersebut dipahami sebagai langkah tanggung jawab moral pimpinan OJK untuk merespons situasi yang memicu menurunnya kepercayaan pasar dan meningkatkan volatilitas di bursa saham.

Profil Mahendra Siregar

Mahendra Siregar lahir di Jakarta, 17 Oktober 1962. Ia merupakan seorang diplomat, ekonom, dan pejabat publik Indonesia yang memiliki rekam jejak panjang dalam pemerintahan, diplomasi, serta kebijakan ekonomi dan keuangan nasional.

Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang etnis Angkola dan Minangkabau, serta menempuh pendidikan tinggi di bidang ekonomi dengan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1986 dan gelar Master of Economics dari Monash University, Australia, pada tahun 1991.

Karier profesionalnya dimulai sebagai diplomat di Departemen Luar Negeri pada 1986, dengan penugasan antara lain sebagai Economic Third Secretary di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London (1992–1995) dan sebagai pejabat informasi ekonomi di KBRI Washington, D.C. (1998–2001).

Sejak 2001, Mahendra berkiprah di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mulai dari Asisten Khusus Menteri Koordinator Perekonomian hingga menjabat Deputi Menko Perekonomian Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional (2005–2009), mendampingi sejumlah menteri berbeda seperti Aburizal Bakrie, Boediono, dan Sri Mulyani Indrawati.

Di luar birokrasi inti, ia juga berpengalaman di sektor keuangan dan korporasi sebagai Direktur Utama Indonesia Eximbank, Komisaris PT Dirgantara Indonesia (2003–2008), dan Komisaris PT Aneka Tambang (2008–2009).

Pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mahendra dipercaya menjabat Wakil Menteri Perdagangan (2009–2011) dan kemudian Wakil Menteri Keuangan (2011–2013), sebelum ditunjuk sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2013–2014.

Karier diplomatiknya berlanjut saat ia diangkat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat pada 2019, lalu menjabat Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada periode 2019–2022.

Sejak Juli 2022, Mahendra Siregar menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2022–2027.

Selain jabatan pemerintahan, Mahendra juga aktif dalam berbagai organisasi internasional, antara lain sebagai Wakil Indonesia dalam APEC Vision Group dan Executive Director Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), serta dianugerahi Bintang Mahaputera Utama pada 11 Oktober 2014 atas pengabdiannya kepada negara.

Harta Kekayaan Mahendra Siregar

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 28 Februari 2025 untuk laporan periodik tahun 2024, harta kekayaan Mahendra Siregar adalah sebesarRp32.964.106.927.

Sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang termasuk dalam unit kerja pimpinan tertinggi, komposisi kekayaan terbesar berasal dari aset tanah dan bangunan senilai Rp10.225.000.000 yang tersebar di Bogor, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Gianyar, seluruhnya diperoleh dari hasil sendiri.

Selain properti, Mahendra Siregar juga melaporkan kepemilikan alat transportasi berupa dua unit mobil, yaitu Toyota Alphard tahun 2022 dan Hyundai Ioniq 5 Signature Long Range tahun 2023 dengan total nilai Rp2.088.900.000.

Aset lainnya mencakup harta bergerak lain senilai Rp2.700.000.000, surat berharga sebesar Rp6.827.694.404, serta kas dan setara kas yang mencapai Rp11.122.512.523.

Total harta kekayaan yang dilaporkan mencapai Rp32.964.106.927 tanpa adanya kewajiban utang, sehingga seluruh nilai tersebut merupakan kekayaan bersih.

Baca juga artikel terkait OJK atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Insider
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra