tirto.id - Pengurus Besar Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah (PB JATMA Aswaja) menggelar zikir kebangsaan dan ikrar bela negara di Masjid Istiqlal pada hari Minggu, 10 Agustus 2025. Simak profil JATMA Aswaja dan apakah ada kaitannya dengan JATMAN NU?
Acara JATMA Aswaja di Masjid Istiqlal dirancang sebagai momentum spiritual untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan persatuan umat. Kegiatan tersebut juga dilakukan pembacaan ikrar bela negara dan zikir kebangsaan yang dipimpin langsung oleh para masyayikh dan mursyid thariqah.
Secara organisatoris, JATMA Aswaja dideklarasikan pada Jumat Kliwon 18 April 2025. Deklarasi berlangsung di Kanzus Shalawat, Pekalongan, dan dihadiri puluhan ribu jamaah.
Profil JATMA Aswaja dan Daftar Pengurusnya
JATMA Aswaja lahir pada 17 Ramadhan 1446 H. Sebagai organisasi resmi, JATMA Aswaja telah disahkan oleh Kementerian Hukum melalui Keputusan Menteri Hukum Nomor AHU-0001630.AH.01.07.Tahun 2025 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Jamiyyah Ahlith Thariqah Almutabarah Ahlussunnah Wal Jamaah.
Melansir laman resmi, JATMA Aswaja merupakan rumah besar bagi para pengamal thariqah mu’tabarah berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam gerakannya, JATMA Aswaja memiliki dua pilar, yaitu membangun transendentalisme dan pemberdayaan ekonomi umat.
Membangun transendentalisme dimaknai sebagai jalan penguatan hubungan antara hamba dan Allah. Dalam hal ini, JATMA Aswaja mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali pada tradisi dzikir berjamaah, pengajian thariqah, dan penguatan sanad keilmuan serta ruhaniyah.
Selain ruhaniyah, JATMA Aswaja juga menjalankan misi integral, yaitu menyucikan jiwa dan memandirikan ekonomi.
Artinya, JATMA Aswaja ingin memastikan para pengamal thariqah memiliki kemandirian ekonomi dan sosial melalui jaringan koperasi, pemberdayaan UMKM, hingga gerakan filantropi berbasis pesantren dan zawiyah.
JATMA Aswaja berdiri di atas nilai-nilai Islam Wasathiyah, konsep Islam pertengahan yang menolak ekstremisme dan keberagamaan yang kaku. Dalam praktiknya, JATMA Aswaja memegang prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil).
JATMA Aswaja dipimpin oleh Habib Lutfi atau Muhammad Lutfi bin Yahya sebagai Ketua Umum dan Helmy Faishal Zaini sebagai Sekretaris Jenderal.
Struktur JATMA Aswaja terbagi menjadi tiga elemen. Di antaranya Majelis Irsyad Wan Nasihah yang menjadi wadah para mursyid dan masyayikh. Kemudian, A’wan yang berperan sebagai penasihat sesuai keahlian masing-masing. Selanjutnya Tanfidziyah yang menjalankan operasional harian.
Berikut beberapa nama pengurus JATMA Aswaja:
- Rais ‘Aam: Habib Muhammad Luthfi Ali bin Yahya
- Sekretaris Jenderal: Helmy Faishal Zaini
- Wakil Sekjen: M. Hasan.
Apakah Ada Kaitan JATMA Aswaja dengan JATMAN NU?
Secara organisatoris, Jam’iyyah Ahluth Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) merupakan badan otonom Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bidang thariqah.
Pada periode 2024-2029, KH Ali Masykur Musa terpilih sebagai Mudir 'Ali JATMAN. Sementara itu, KH Achmad Chalwani Nawawi ditetapkan sebagai Rais ‘Ali.
Sebagai bentuk legalitas, Idaroh Aliyah (tingkat pusat) JATMAN telah menerima Surat Keputusan (SK) dari PBNU dengan nomor 3504/PB.01/A.II.01.33/99/01/2025.
SK tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, serta Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf.
SK juga diserahkan langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, kepada KH Ali Masykur Musa selaku Mudir ‘Ali JATMAN.
Berdasarkan ketetapan Rakernas 1 Idarah Aliyyah JATMAN masa khidmat 2025-2030, hadirnya JATMAN NU bertujuan membentuk pribadi yang berakhlakul karimah.
Kemudian mengikuti akhlak Nabi Muhammad saw sebagai buah dari pengamalan ajaran thariqah mu’tabarah (shidiq, amanah, tabligh, dan fathonah) serta menjadi pribadi yang bermanfaat ditengah masyarakat dan dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara.
Sementara itu, JATMA Aswaja berdiri sebagai organisasi yang bersifat independen dan tidak menjadi bagian dari organisasi manapun.
Secara organisatoris, memang tidak ada kaitan antara JATMA Aswaja dan JATMAN milik NU. Meski demikian, keduanya bergerak dalam rangka mengkampanyekan thariqah dan penjaga nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya.
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul Kontestasi Ideologi Jatman Dan Jatama Aswaja Dalam Narasi Otoritas Terekat: Analisis Simbolik Clifford Geertz, JATMAN dinilai lebih akomodatif terhadap budaya lokal dan nilai kebangsaan. Sedangkan JATMA Aswaja lebih selektif dan fokus pada dakwah syariah dan ekonomi umat.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































