Menuju konten utama

Produktivitas Pekerja RI Masih 10% di Bawah Rata-rata ASEAN

Rata-rata produktivitas tenaga kerja di ASEAN sebesar 30,2 ribu dolar AS per pekerja, sedangkan Indonesia hanya 28,6 ribu dolar AS per pekerja.

Produktivitas Pekerja RI Masih 10% di Bawah Rata-rata ASEAN
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli. FOTO/dok.Kemnaker

tirto.id - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengungkapkan tantangan produktivitas tenaga kerja Indonesia. Menurutnya, produktivitas pekerja Indonesia berada 10 persen di bawah rata-rata negara-negara ASEAN dalam tujuh tahun terakhir.

Kondisi ini terjadi di tengah periode bonus demografi yang seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa peningkatan produktivitas merupakan faktor kunci untuk mencapai target Indonesia Emas 2045.

"Kita masih punya tantangan terkait dengan produktivitas tenaga kerja. Ini kita bandingkan produktivitas Indonesia dibandingkan dengan rata-rata negara ASEAN dalam 6-7 tahun terakhir. Kita yang kira-kira 10% di bawah rata-rata ASEAN," katanya dalam Kick Off Pekan Peningkatan Produktivitas, secara daring, Senin (10/11/2025).

Berdasarkan data yang diungkapkannya, rata-rata produktivitas tenaga kerja di ASEAN sebesar 30,2 ribu dolar AS per pekerja, sedangkan Indonesia hanya 28,6 ribu dolar AS per pekerja.

Menurut Yassierli, Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi yang tidak hanya sekadar soal kuantitas angkatan kerja, tetapi lebih pada kualitas sumber daya manusia.

"Tentu harapannya bonus demografi ini tidak hanya terkait dengan kuantitas lebih banyaknya angkatan kerja di Indonesia, tapi adalah mereka yang memiliki kualitas yang baik. Dan itu tergambar dari kemampuan mereka untuk menghasilkan value yang lebih besar. Dan itu tergambar dengan produktivitas," jelasnya.

Yassierli menegaskan adanya hubungan yang erat antara produktivitas dengan pencapaian ekonomi nasional. Menurutnya, banyak penelitian yang menunjukkan korelasi kuat antara produktivitas dengan pertumbuhan GDP.

"Banyak research, kajian yang juga menyampaikan bahwa ada hubungan kolerasi yang sangat kuat dalam pencapaian GDP. Itu adalah salah satunya adalah dengan peningkatan pertumbuhan produktivitas. Jadi ada korelasi antara GDP dengan produktivitas," paparnya.

Ia juga menambahkan bahwa target-target Indonesia Emas 2045 terkait dengan GDP, GNI per capita, dan proporsi middle class income sangat bergantung pada peningkatan produktivitas.

Menurutnya, salah satu enabler-nya itu adalah peningkatan produktivitas dalam entitas yang paling kecil yaitu industri atau perusahaan, kemudian terakumulasi menjadi sektor, dan kemudian terakumulasi menjadi ukuran secara makronasional.

Menyikapi tantangan ini, Menteri Yassierli menyerukan perlu adanya gerakan bersama untuk melakukan terobosan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Tujuannya agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara seperti Cina, Vietnam, dan India.

"Maka kemudian disinilah satu gerakan bersama untuk kita bisa consume, bisa kemudian melakukan terobosan-terobosan untuk meningkatkan produktivitas sehingga kita juga bisa bersaing dengan negara-negara seperti Cina, Vietnam, India, dan lain-lain," ucapnya.

Ia meyakini bahwa dengan komitmen dan semangat yang sama, tenaga kerja Indonesia mampu memberikan nilai lebih melalui berbagai intervensi yang dapat dilakukan pada level korporasi.

Hal ini menjadi penting mengingat dalam 12-13 tahun terakhir, beberapa negara lain telah berhasil melakukan lompatan produktivitas yang signifikan.

“Ketika kemudian kita lihat ada beberapa negara yang mampu melakukan lompatan yang cukup signifikan dan tentu ini harus menjadi suatu lesson learn buat kita,” katanya.

Baca juga artikel terkait PRODUKTIVITAS KERJA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra